Anak-anak Suku Bajo Kini Tidak Lagi Belajar di Bawah Atap Bocor

Rabu, 01/07/2026 - 11:32
Anak-anak Suku Bajo saat belajar diruangan kelas yang sudah direvitalisasi

Anak-anak Suku Bajo saat belajar diruangan kelas yang sudah direvitalisasi

Klikwarta.com, Wakatobi, 1 Juli 2026 - Berdiri di atas kawasan pesisir yang menjadi permukiman masyarakat Suku Bajo, SMP Swasta Maritim Mola menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak yang akrab dengan laut sejak kecil. Sebelum mendapatkan revitalisasi, kondisi SMP Swasta Maritim Mola jauh dari kata layak. Atap yang bocor, lantai yang rapuh, hingga struktur kayu yang mulai lapuk membuat kegiatan belajar mengajar berlangsung dalam rasa waswas sehingga kenyamanan belajar ikut terganggu. 

“Kondisi sekolah kami sebelumnya sudah tidak layak digunakan. Atap mengalami kerusakan, lantai sudah rapuh, sehingga siswa maupun guru tidak merasa nyaman saat proses belajar mengajar. Kami sangat prihatin karena jangan sampai ketika pembelajaran berlangsung justru membahayakan keselamatan anak-anak,” ungkap Kepala SMP Swasta Maritim Mola, Narto, pada Jumat (26/6).

Karakter geografis SMP Swasta Maritim Mola yang berdiri di atas perairan menjadikan konstruksi bangunan sekolah memiliki tantangan tersendiri. Meski demikian, sekolah tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir.

“Secara geografis sekolah kami berada di tengah komunitas Suku Bajo yang hidup di kawasan pesisir. Setelah pulang sekolah, banyak anak-anak yang ikut orang tua mereka melaut atau memancing. Karena itu, sekolah juga harus mampu menghadirkan pembelajaran yang adaptif, tanpa membuat mereka kehilangan identitas dan tradisi kemaritiman yang dimiliki,” jelas Narto.

.

Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, sekolah ini memperoleh anggaran revitalisasi sekitar Rp2,96 miliar. Perubahan yang dihadirkan tidak hanya tampak dari empat Ruang Kelas Baru (RKB) yang berdiri kokoh, tetapi juga tambahan ruang perpustakaan, UKS, ruang administrasi, toilet, serta rehab laboratorium IPA. 

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD, Dikdas, dan PNFI), Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa revitalisasi satuan pendidikan merupakan ikhtiar negara menghadirkan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh anak Indonesia, termasuk di wilayah pesisir dan kepulauan. “Bagi anak-anak Suku Bajo di Wakatobi, sekolah yang layak bukan hanya bangunan baru, melainkan ruang aman dan nyaman untuk menumbuhkan harapan, menjaga identitas kemaritiman, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik,” ujar Gogot.

Narto juga menyampaikan apresiasinya atas perhatian pemerintah terhadap peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, khususnya di daerah pesisir. Menurutnya, program tersebut telah memberikan perubahan nyata bagi SMP Swasta Maritim Mola. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto. Alhamdulillah, kami di SMP Swasta Maritim Mola benar-benar merasakan manfaat dari program revitalisasi ini,” ujar Narto.

Perubahan serupa juga dirasakan oleh guru Pendidikan Agama Islam SMP Swasta Maritim Mola, Hangki. Ia mengenang bagaimana sebelumnya sekolah harus menyiasati keterbatasan ruang belajar akibat kondisi bangunan yang rusak. “Dulu beberapa ruang kelas mengalami kerusakan yang cukup parah sehingga kami terpaksa membagi satu ruang kelas menjadi dua ruang belajar. Atap bocor, lantai berlubang, dinding retak, sirkulasi udara kurang baik, dan pencahayaan yang minim membuat proses belajar tidak nyaman,” tuturnya.

Kini situasinya berubah. Bangunan yang lebih representatif, ruang kelas yang tertata, hingga hadirnya laboratorium dan perpustakaan memberikan semangat baru bagi para guru dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas. “Dengan revitalisasi ini kami benar-benar merasakan perubahan. Sarana dan prasarana yang lebih baik membuat kami memiliki energi dan semangat baru untuk menciptakan pembelajaran yang aman, nyaman, dan bermutu bagi peserta didik,” katanya.

.

Ia berharap semakin banyak sekolah di Kabupaten Wakatobi yang memperoleh kesempatan serupa sehingga pemerataan layanan pendidikan dapat benar-benar dirasakan oleh seluruh anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di wilayah kepulauan.

Harapan yang sama juga datang dari Nining Wardani, siswi kelas IX SMP Swasta Maritim Mola. Ia masih mengingat bagaimana kondisi sekolahnya sebelum diperbaiki. “Dulu banyak lubang di lantai, kayu-kayunya juga sudah mau jatuh. Kami sering merasa takut saat belajar,” katanya.

Kini rasa khawatir itu telah berganti menjadi semangat. Menurut Nining, sekolah yang baru membuat dirinya lebih nyaman mengikuti pembelajaran setiap hari. “Sekarang sekolah lebih nyaman dan kami sudah tidak takut lagi. Saya berharap pendidikan di kampung kami bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.

Merujuk data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tahun 2025, jumlah sekolah di Provinsi Sulawesi Tenggara yang direvitalisasi sebanyak 348 sekolah. Terdiri atas 29 PAUD, 136 SD, 94 SMP, dan 89 SMA. Khusus untuk Kabupaten Wakatobi, sekolah yang merasakan program Revitalisasi Satuan Pendidikan yakni 7 SD, 3 SMP, dan 3 SMA. 

(Kontributor : Arif)

Berita Terkait