Membuka Jendela Dunia bagi Anak Indonesia melalui Pembelajaran Bahasa Inggris

Jumat, 06/11/2026 - 21:05
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat pada QS Higher Ed Summit: Asia Pasific 2026 di Bali (4/11) Fotografer : Rayhan

Wamendikdasmen Atip Latipulhayat pada QS Higher Ed Summit: Asia Pasific 2026 di Bali (4/11) Fotografer : Rayhan

Klikwarta.com, Bali - Kesiapan guru menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas III sekolah dasar. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong penyiapan guru secara bertahap serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar kebijakan tersebut dapat terlaksana secara berkelanjutan dan menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, dalam panel diskusi _"Building Resilient Education Ecosystems: Cross-Sector Partnerships for Purpose-Driven Reform"_ pada QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 pada (4/11). Dalam paparannya, Wamen Atip menyampaikan bahwa masih banyak sekolah dasar yang membutuhkan guru untuk mengajar Bahasa Inggris. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah berperan dalam menetapkan kebijakan, regulasi, kurikulum, dan dukungan anggaran. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendidikan dan pelatihan guru, sedangkan peneliti mendukung pelaksanaan kebijakan melalui kajian dan evaluasi berbasis bukti.

Wamen Atip menjelaskan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar diarahkan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berkomunikasi serta membuka akses terhadap ilmu pengetahuan dan berbagai kesempatan. “Tujuan kami sederhana, yaitu agar anak-anak mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dan menggunakannya sebagai jendela untuk mengenal dunia, ilmu pengetahuan, dan berbagai kesempatan,” ujarnya.

Sejalan dengan tujuan tersebut, pembelajaran Bahasa Inggris di kelas III akan lebih menekankan keterampilan menyimak dan berbicara melalui lagu dan permainan, serta membangun kepercayaan diri peserta didik. “Bahasa merupakan alat komunikasi. Karena itu, di kelas III, kami secara sengaja mengurangi penekanan pada tata bahasa dan lebih mengutamakan keterampilan menyimak, berbicara, lagu, permainan, serta membangun kepercayaan diri,” jelasnya.

Kemendikdasmen menargetkan penyiapan sekitar 10.000 guru sekolah dasar pada 2026 melalui program nasional yang juga melibatkan perguruan tinggi. Penyiapan ini dilakukan secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan sekitar 150.000 guru Bahasa Inggris di seluruh sekolah dasar, dengan sasaran satu guru untuk setiap sekolah. Untuk mendukung pemerataan, Kemendikdasmen bersama dinas pendidikan kabupaten melakukan pemetaan kebutuhan guru agar penempatannya sesuai dengan kondisi masing-masing daerah. Sekitar 58.000 sekolah dasar dijadwalkan mulai menerapkan pembelajaran Bahasa Inggris pada tahun ajaran 2027.

Wamendikdasmen menambahkan bahwa penyiapan guru perlu dilakukan secara berkelanjutan. Selain melalui pelatihan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, kemampuan mengajar Bahasa Inggris bagi peserta didik sekolah dasar perlu diintegrasikan dalam pendidikan calon guru dan pendidikan profesi guru. Keberlanjutan kebijakan juga membutuhkan dukungan regulasi dan kurikulum, sistem penyiapan guru, pemanfaatan data dan penelitian, serta keterlibatan guru, orang tua, dan pemerintah daerah.

Menurut Wamen Atip, keberhasilan penerapan kebijakan juga perlu dilihat dari manfaat yang dirasakan peserta didik di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil. Keberhasilan kebijakan tersebut dapat terlihat ketika anak-anak memiliki kesempatan untuk menggunakan Bahasa Inggris dengan percaya diri.

“Kebijakan seperti kewajiban Bahasa Inggris di sekolah dasar tidak selesai ketika ditandatangani. Kebijakan itu baru benar-benar terlaksana ketika seorang anak berusia sembilan tahun di Papua atau di sebuah desa di Jawa Barat dapat mengucapkan beberapa kalimat dalam Bahasa Inggris tanpa rasa takut,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris dapat berjalan berdampingan dengan penguatan identitas kebangsaan dan penghargaan terhadap bahasa daerah. Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa persatuan, sementara bahasa daerah terus dihargai, khususnya pada tahun-tahun awal pendidikan. 

Melalui penyiapan guru dan kolaborasi lintas sektor, Kemendikdasmen mendorong penerapan Bahasa Inggris di sekolah dasar secara bertahap dan merata. Upaya ini diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi anak-anak Indonesia untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris sekaligus menghargai kekayaan bahasa dan budaya bangsa.

(Penulis: Destya/Editor: Ririn/Seno)

Berita Terkait