Salah satu adegan dalam pementasan Teater Djarum lakon "Para Petarung", di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, pada Jumat (26/9/2025) malam.
Klikwarta.com, Surakarta - Di tengah hiruk-pikuk kota Solo, panggung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta menjadi saksi bisu atas perjuangan orang-orang tanpa nama yang tak pernah padam, yang diusung oleh Teater Djarum melalui sebuah pementasan dengan lakon "Para Petarung".
Lakon "Para Petarung" karya Asa Jatmiko ini mengisahkan pergulatan orang-orang kecil, orang-orang tak bernama, yang hanya memiliki mimpi-mimpi. Mereka hidup untuk sebuah alasan penting yang harus dijaga dan dibela, yang membuat hidupnya bermakna.
Cerita yang terjalin dalam lakon "Para Petarung" menggambarkan runtuhnya sebuah perusahaan yang diliputi pengkhianatan, intrik kekuasaan, hingga nasib tragis yang dialami orang-orang di dalamnya.
Drama yang dibumbui musikal ini dibuka dengan suasana kegembiraan para pekerja di perusahaan milik Den Karso atas kenaikan status mereka dari pekerja borongan menjadi pekerja harian. Namun, kebahagiaan ini langsung ditindih oleh konflik tersembunyi.
Pekerja bernama Suli tidak ikut naik jabatan karena menolak menggugurkan kandungannya, hasil hubungan gelapnya dengan Den Karso. Meskipun janin itu kemudian meninggal sehari setelah lahir, nasib kelam Suli tidak memicu gejolak berarti di perusahaan. Rukmi, sesama pekerja perempuan, yang mendengar tentang hubungan Den Karso dengan Suli, tidak berhasil memprovokasi Suli untuk menuntut keadilan.
Fokus cerita kemudian beralih pada intrik kekuasaan dan pengkhianatan di kalangan pekerja. Pekerja senior Martosuto, dengan dibantu Malik, pekerja baru, menyusup ke ruang rahasia untuk mencuri dokumen dan akta tanah.
Ketika aksinya diketahui oleh Karsito, Martosuto memfitnahnya dan memerintahkan Karsito untuk dilenyapkan, yang berujung pada penembakan. Kematian Karsito berlalu tanpa konsekuensi, karena perhatian segera teralihkan pada pertikaian sengit antar pekerja wanita yang melibatkan Sukeni, Wartiyah, dan Partiyem, yang berujung pada pengakuan Sukeni telah memanipulasi laporan keuangan untuk tujuan amal.
Klimaks internal terjadi ketika Birawa, orang kepercayaan Den Karso yang berhutang nyawa kepadanya, tiba-tiba menolak menghadap sang pemilik perusahaan. Birawa merasa muak dan terkhianati, menyadari Den Karso telah merampok kehidupannya dan bahkan memanfaatkan perasaannya terhadap Suli.
Lakon ditutup dengan pernyataan fatal dari Den Karso yang lelah dan ingin memulai perusahaan baru dari 'nol'. Ia memerintahkan Malik untuk menghabisi mereka semua.
"Aku sudah lelah, Malik. Aku ingin memulai lagi dengan membuat perusahaan yang baru, dari nol, dimana gairahku hidupku mengalir kembali. Tetapi itu tidak mungkin apabila mereka masih ada. Aku ingin yang benar-benar baru. Kamu habisi saja mereka semua," ucap Den Karso.
Di tengah suasana penuh keputusasaan itu, arwah Karsito muncul, menghujat Den Karso. Kemudian, terdengar bunyi tembakan. Den Karso tergeletak tewas diterjang timah panas pistol dari tangan Malik.
Pementasan di TBJT Surakarta ini adalah bagian dari tur keliling empat kota Teater Djarum tahun 2025 sekaligus menjadi penanda penting, yaitu pentas produksi ke-38 Teater Djarum, sebuah pencapaian yang membuktikan konsistensi dan dedikasi mereka dalam dunia seni peran
Dengan menggandeng Kelompok Kerja Teater Akar Surakarta pimpinan Yogi Swara Manitis Aji sebagai partner lokal, Teater Djarum berhasil menyuguhkan pengalaman teater yang intim dan berkesan.
Pertunjukan yang digelar secara gratis selama dua malam berturut-turut pada Jumat dan Sabtu, 25 dan 26 September 2025 ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ajang silaturahmi dengan harapan bisa mempererat tali persaudaraan di antara komunitas teater, serta masyarakat umum yang turut hadir.
Solo menjadi kota ketiga untuk pementasan "Para Petarung" setelah Surabaya dan Bandung. dan akan ditutup di kota asal mereka, Kudus.
Penulis naskah sekaligus sutradara "Para Petarung", Asa Jatmiko mengatakan, berbeda dengan karya sebelumnya, Teater Djarum yang kali ini menampilkan warna pertunjukan lakon yang dibumbui musikal, menjadikan pengalaman baru sekaligus tantangan baru bagi para aktor.
"Aktor memiliki tanggung jawab mewujudkan pemikiran dan tindakan karakter yang diperankannya. Tidak hanya melalui dialog, namun juga secara musikal. Ini tidak mudah bagi Teater Djarum. Oleh karena itu, mereka harus mampu memanfaatkan proses latihan seoptimal mungkin," ungkapnya.
Teater Djarum yang seluruh anggotanya adalah para karyawan PT Djarum, lanjut dia, terus menghadirkan proses baru dalam setiap pentas. Bukan hanya untuk penonton, tetapi juga sebagai ruang untuk seluruh anggota.
"Ini adalah upaya nyata untuk menjangkau penonton yang lebih luas dan menyebarkan nilai-nilai perjuangan yang diemban dalam lakon," jelasnya.
Asa menambahkan, Teater Djarum juga memiliki beberapa program rutin tahunan, diantaranya pentas karya dan festival teater pelajar. Beberapa lakon pentas keliling sebelumnya Teater Djarum menampilkan "Petuah Tampah", dan "Nara". Keduanya mengangkat kearifan lokal dalam pertarungan budaya yang sengit. Tahun 2024, Teater Djarum mementaskan lakon "Liang Langit", sebuah pertunjukan ekperimental yang mengangkat pergumulan batin seorang pekerja pembersih kaca gedung bertingkat.
'Dari waktu ke waktu, Teater Djarum terus belajar untuk menjadi media ekspresi sekaligus pemberdayaan dan pengembangan potensi kreatif setiap karyawan PT Djarum yang menjadi anggota," ungkapnya.
Pewarta : Kacuk Legowo








