Gelar Doa Bersama di Pintu 13 Kanjuruhan, H. Gunawan Tegaskan Usut Tuntas Pemicu Kericuhan

Jumat, 14/10/2022 - 17:36
H.Gunawan saat menyampaikan ucapan belasungkawa usai doa bersama.

H.Gunawan saat menyampaikan ucapan belasungkawa usai doa bersama.

Klikwarta.com, Kabupaten Malang - Tak terasa dua pekan telah berlalu tragedi Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, usai pertandingan Arema FC VS Persebaya Surabaya, 1 Oktober 2022. Pemerintah telah membentuk tim khusus untuk mengusut tuntas kejadian saat itu.

Proses hukum telah dimulai. Kepolisian pun sudah menetapkan sejumlah tersangka dan berpotensi masih akan bertambah.

Gas air mata menjadi momen pilu perpisahan Aremania dengan keluarga. Tragedi yang menewaskan 132 orang itu, menyita perhatian masyarakat dari berbagai kalangan. Terutama kejadian di pintu 13 Stadion Kanjuruhan.

Saat terjadi kericuhan, pintu 13 adalah titik lokasi jatuhnya banyak korban meninggal dunia. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.

Sejumlah simpatisan Aremania masih terus berdatangan untuk menggelar doa bersama dan tabur bunga di depan pintu maut tersebut. Tak terkecuali anggota DPRD Jawa Timur, H. Gunawan. Ia datang beserta jajaran pengurus dan anggota Yayasan Remaja Islam Gondanglegi (RISGO).

Mereka mendatangi pintu 13 stadion Kanjuruhan, Jumat (14/10/2022) untuk melakukan doa bersama. Doa bersama dipimpin langsung ustad Khoirul Bazar.

Gunawan yang juga pembina RISGO, mengatakan, doa bersama ini sebagai aksi solidaritas dan belasungkawa kepada para korban juga keluarga, atas tragedi Kanjuruhan yang menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka.

Ia pun menegaskan agar pemicu kericuhan yang terjadi di stadion Kanjuruhan diusut tuntas se tuntas tuntasnya karena telah menghilangkan ratusan nyawa orang yang tak berdosa.

Politisi PDI Perjuangan itu juga meminta pemerintah untuk melakukan evaluasi dan perbaikan menyeluruh terhadap tata kelola sepak bola di Indonesia. Sebab kejadian tersebut diduga karena banyak hal tak dijalankan penyelenggara sesuai SOP yang berlaku. Misalnya penjualan tiket dan penggunaan gas air mata.

Seharusnya, kata Gunawan, tiket kapasitas stadion Kanjuruhan 30 ribu lebih, tapi kenyataannya ada 40 ribu lebih. Terlebih soal penggunaan gas air mata oleh petugas keamanan, ini harus diusut tuntas.

"Semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi dunia persepakbolaan Indonesia dan tragedi Kanjuruhan adalah yang pertama dan terakhir", demikian harap Gunawan.

(Pewarta : Asral)

Berita Terkait