Kinerja Pasar Tradisional Setelah Pandemi

Rabu, 05/07/2023 - 19:54
ilustrasi

ilustrasi

Oleh : Delvira Salwa Nur Halizah/Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta

Pada era digital atau era serba canggih ini memberikan manfaat yang baik bagi kehidupan manusia terutama dalam kehidupaan sehari-hari. Kemudahaan akan era canggih ini marak terjadi ketika pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia, Indonesia salah satunya. Pada saat itu kegiatan yang mayoritas berada di luar ruangan dibatasi hingga adanya peraturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Selama masa PPKM berlangsung kegiatan jual-beli di pasar tradisional sempat terhenti sebagai bentuk memutus penyebaran virus Covid-19.

Saat itu, mayoritas masyarakat bertransformasi dengan belanja melalui online menggunakan perangkat pintar demi memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah PPKM berlangsung. Setelah menghadapi pandemi beberapa tahun lalu, pasar tradisional kembali melakukan transaksi jual-beli untuk memenuhi kebutuhan hidup. Meski berada di tengah-tengah maraknya pasar online, kinerja pasar tradisional tidak sepenuhnya menurun.

Pasar tradisional tetap eksis meski keberadaannya terancam oleh kehadiran pasar online. Nyatanya masih banyak pembeli yang dengan bersuka rela pergi ke pasar tradisional dibanding membeli kebutuhan sehari-hari melalui online. Alasan masih banyaknya pembeli dapat disebabkan oleh beberapa macam faktor seperti harga kebutuhan sehari-hari lebih murah dibandingkan pasar online, pembeli dapat melihat langsung kualitas barang, dan letak geografis pasar tradisional yang berada dekat dengan pemukiman warga.

Dengan demikian, keberadaan pasar tradisional masih tetap eksis setelah mengalami pandemi tetapi tidak menutupi juga banyak pelanggan pasar tradisional yang beralih membeli kebutuhan sehari-hari ke pasar online. Namun, saat ini pedagang pasar tradisional sudah mengembangkan jual-beli melalui media daring dengan memanfaatkan teknologi. (*)           

Berita Terkait