Budaya Salim Di Indonesia

Minggu, 23/06/2024 - 20:19
Budaya Salim Di Indonesia

Budaya Salim Di Indonesia

Oleh: Razan Daffa Azka Taqy Hidayat (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Tahukah kamu, cium tangan atau salim adalah budaya asal indonesia yang membuat kaget orang asing?. Sebagai masyarakat asli Indonesia, kita sudah terbiasa untuk mencium tangan orang yang lebih tua. Namun bagi orang asing budaya seperti ini adalah suatu hal yang baru, tak sedikit dari mereka yang mengaku cukup kaget dengan budaya ini. Cium tangan adalah budaya yang tak bisa dilewatkan, tapi tahukah kamu bagaimana munculnya tradisi ini?.

Tradisi cium tangan di Indonesia, telah menjadi simbol sopan santun dan penghormatan dalam hubungan antar manusia. Cium tangan tidak hanya dilakukan dalam acara formal saja, cium tangan atau yang biasa disebut salim, sering dilakukan saat santa seperti saat kumpul keluarga,mau bepergian,hingga bertemu siapapun yang lebih tua.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Samuel Charlies Mowoka, salim ini berasal dari akulturasi budaya lokal dan agama. Islam sendiri menjadi agama yang memberikan banyak pengaruh terhadap budaya ini. Tak hanya islam, di agama lain seperti kristen juga mengenal budaya salim terhadap pemuka agama atau orang yang disegani.

Surakarta adalah kota yang di perkirakan menjadi pelopor budaya ini. Bagi masyarakat jawa kebiasaan mencium tangan ini berkembang menjadi sungkeman. Sungkeman banyak ditemukan ketika suasana lebaran. Berdasarkan cerita, sungkeman berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Pura Mangkunegaran.

Sungkeman masal pertama kali terjadi pada masa Kanjeng Gusti Pangeran Agung (KGPA) Sri Mangkunegara I, Kala itu dilaksanakan selepas salat ied. Pada masa penjajahan Belanda, sungkeman tidak bisa leluasa dilakukan. Hal ini disebabkan oleh kecurigaan penjajah yang menganggap hal tersebut adalah pertemuan terselubung untuk melawan penjajah. Oleh sebab itu pihak keraton membuat prosesi halal bihalal saat lebaran menjadi open house yang bertahan hingga kini.

Sungkeman tidak hanya terjadi pada saat lebaran saja, banyak momen yang sering dilakukan untuk sungkeman. Seperti meminta doa restu orang tua sebelum menikah. Orang yang di sungkemi biasanya memberikan nasihat dan doa untuk sang anak pada saat prosesi sungkeman.

Di masa kini, budaya salim yang sering dilakukan oleh orang Indonesia telah menyebar ke berbagai negara di Asia Tenggara seperti, Brunei, Malaysia, dan Filipina. Di sini hal tersebut menjadi hal yang biasa dilkaukan, namun di belahan bumi lain,Khususnya di negara negara Eropa, budaya ini cukup baru bahkan dimaknai berbeda. Sebab  sebagian negara di Eropa salim biasanya dilakukan oleh Pria terhadap wanita.

Marco Motta, pemain sepak bola asal Italia, yang kala itu bermain di liga Indonesia mengaku cukup terkejut ketika di salimi oleh salah satu pemain asli Indonesia yakni Resky Fandi. Hal ini di dapatkan Motta ketika dirinya di tarik keluar dan di gantikan oleh Resky Fandi pada pertandingan Persija Jakarta menghadapi klub Singapura, Geylang FC, dalam sebuah laga uji coba 23 Februari 2020 lalu.

Tak hanya itu pada kompetisi Danone Nations Cup 2017, Indonesia yang di wakili oleh tim sepak bola di bawah usia 12 tahun juga melakukan budaya salim terhadap para wasit asal Perancis. Kala itu pertandingan antara Indonesia menghadapi Argentina, para pemain berbaris rapih memasuki lapangan dan berdiri rapih ditengah lapangan. Lazimnya pembukaan pertandingan sepak bola, para pemain bersalaman dengan wasit dan juga pemain dari tim lawan. Namun karna sudah terbiasa untuk melakukan salim terhadap orang yang lebih tua, para pemain terlihat tidak sadar dan langsung mencium tangan para wasit yang akan memimpin pertandingan itu.

Kejadian ini menjadi viral di Twitter, para netizen mengungkapkan rasa bangga pada perilaku yang dilakukan oleh anak anak tersebut. Tak sedikit yang mengaku kagum bahwa mereka tidak melupakan budaya salim tersebut. Jadi itulah budaya salim dari indonesia yang di kagumi oleh orang asing.
 

Berita Terkait