Tausiyah Kamis Taqwa Kanwil Kemenkumham Banten. Kamis (6/10)
Klikwarra.com, Serang - Guna meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan seluruh Pegawai Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan Ham Banten mengikuti Tausyah Agama dalam kegiatan Kamis Taqwa ( 06/10/22). Dalam Kamis Taqwa, Tausyah yang disampaikan oleh Ustadz Jumardan mengangkat tema mengenai Gugurnya amalan.
Nampak, Kepala Kantor WilayahTejo Harwanto, Kepala Divisi Keimigrasian Ujo Sujoto dan Kepala Divisi Administrasi, Sri Yusfini Yusuf menyimak dengan khidmat Tausiyah yang disampaikan bersama dengan seluruh jajaran Kanwil Kemenkumham Banten.
Dalam Tausyahnya, Ustadz Jumar dan menyampaikan bahwa Bersyukur merupakan suatu perbuatan yang bermaksud berterima kasih atas limpahan nikmat yang telah Allah berikan. Tidak memandang nikmat itu banyak atau sedikit. Jika manusia tidak dapat bersyukur kepada zat yang menciptakannya, yang memberi segalanya. Maka azab Allah lah yang akan didapat.
“Begitupun dalam berbuat baik harus iklhas tanpa ada paksaan , apapun yang dilakukan jangan berharap mendapatkan pujian dari manapun, semuanya dilakukan karena sang pencipta Allah SWT," ujarnya.

Manakala beramal dengan berbagai jenisnya, seorang Muslim sangat berharap agar seluruh amalannya diterima oleh Allâh SWT . Hal ini didorong oleh kesadarannya untuk menjadikan seluruh hidupnya di dunia ini sebagai kesempatan memperbanyak kebaikan di sisi Allâh SWT.
Namun perlu diketahui, sesungguhnya limpahan pahala yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala janjikan hanyalah akan didapatkan bagi orang yang melakukan amalan dengan ikhlas dan berharap pahala dari-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya setiap amalan memiliki motivasi dan tujuan. Sebuah amalan tidaklah terhitung sebagai ketaatan kecuali jika didasari dengan keimanan, yakni bukan hanya terdorong oleh sekedar rutinitas (kebiasaan), hawa nafsu, atau mencari pujian semata. Motivasinya harus iman dan tujuannya adalah menggapai ridha dan pahala dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala.Dan salah satu contoh penggugur amalan itu diantaranya adalah
1. Syirik Dan Riddah (Kemurtadan),
Keduanya jelas menjadi penghalang diterimanya sebuah amalan di hadapan Allah Azza wa Jalla , sebaik dan seindah apapun amalan itu, karena Allah Azza wa Jalla membenci syirik dan kemurtadan serta tidak menerima segala jenis kebaikan apapun dari mereka manakala mereka mati dalam kondisi demikian
2. Riya.
Yaitu seseorang beramal dan memperlihatkan amalannya kepada manusia, mengharapkan suatu kebaikan duniawi bagi dirinya ketika mereka melihatnya. Riya’ tergolong syirik kecil yang memiliki beragam jenis dan bentuknya. Banyak sekali hadits yang menyatakan kekhawatiran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap riya’ yang akan dialami oleh umatnya
Semoga SWT senantiasa menggugah hati kita untuk mewaspadai segala hal yang akan menggugurkan amalan kita atau mengurangi keberkahannya.
(Kontributor : Safarudin)








