Pura Patirtan Taman Pasupati, Dari Jejak Ken Arok Hingga Tradisi dan Ritual Melukat

Senin, 12/06/2023 - 19:43
Klikwarta.com melakukan penelusuran eksistensi Pura tersebut bersama Romo Mangku Irwai, Romo Bawon dan Romo Mangku Arifin di rumah kediamannya, Senin (12062023).
Klikwarta.com melakukan penelusuran eksistensi Pura tersebut bersama Romo Mangku Irwai, Romo Bawon dan Romo Mangku Arifin di rumah kediamannya, Senin (12062023).

Klikwarta.com, Malang - Salah satu tempat ibadah di Dusun Jengglong, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, menarik untuk dikunjungi siapa saja, terlepas apapun keyakinannya. Dari kacamata tempat ibadah, Pura Patirtan Taman Pasupati tidak jauh berbeda dibanding lainnya, yaitu sama-sama tempat beribadah bagi umat Hindu. 

Klikwarta.com melakukan penelusuran eksistensi Pura tersebut bersama Romo Mangku Irwai, Romo Bawon dan Romo Mangku Arifin di rumah kediamannya, Senin (12/06/2023).

Untuk menuju ke Pura tersebut, kita melewati jalan lurus menurun berundak (93 undakan). Konon, lokasi Pura ini dulunya merupakan tempat mengasingkan diri atau bertapa Ken Arok (Ken Angrok) atau Sri Ranggah Rajasa atau Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi sebelum mendirikan Kerajaan Singasari.

Tidak jauh dari Desa Sukodadi ada jejak Ken Arok yang tercatat dalam 'Pararaton'. Disebutkan, Ken Arok berhubungan erat dengan Gunung Katu, yang saat ini secara administratif berada di Dusun Sumberpang Kidul, Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. 

Pararaton menyebutnya 'Rabut Katu' atau tempat suci dan Gunung Katu adalah 'anak' Gunung Kawi yang dianggap pecahan Gunung Meru.

Pura Patirtan Taman Pasupati

Selain itu, tidak jauh dari keberadaan Gunung Katu, ada jejak daerah 'Kagenengan' atau 'Dharma ring Kagenengan' yang secara administratif saat ini masuk Dusun Durenan dan Dukuh Juwet Manting, Desa Parangargo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Kagenengan tercatat dalam 3 manuskrip dari peradaban masa lalu, yaitu Pararaton, Nagarakretagama dan Prasasti Mula Malurung.

Secara turun temurun, Pura Patirtan Taman Pasupati memiliki tradisi dan ritual 'melukat' atau pembersihan diri. Kata melukat, memang cukup asing di telinga orang awam.

Romo Mangku atau Pemangku adalah orang yang mengemban tugas menjalankan tradisi dan ritual melukat. Melukat sendiri, bebas dijalani semua keyakinan apapun, terlepas dari korelasinya dengan keyakinan tertentu.

Melukat adalah upacara pembersihan pikiran dan jiwa secara spiritual dalam diri manusia, yaitu pensucian secara rohani, artinya menghilangkan pengaruh kotor atau 'klesa' dalam diri. Melukat berasal dari kata 'sulukat' yakni 'su' yang berarti baik dan 'lukat' yang artinya pensucian.

Melukat dipimpin oleh Romo Mangku atau Pemangku, sesajian seperti prascita dan bayuan disiapkan, disertai mantra-mantra. Orang yang akan diupacarai akan dimantrai terlebih dahulu, dan upacara ini dilakukan pada saat bulan purnama atau tilem atau 'Kajeng Kliwon'.

Secara garis besar, melukat dilakukan dengan cara mencuci rambut 3 kali, mencuci muka 3 kali, tengkuk 3 kali, kumur 3 kali, mencuci tangan 3 kali dan mencuci kaki 3 kali.

Di luar Pura terdapat pohon beringin yang rimbun, dan di sisi barat daya pohon beringin terdapat 3 pancuran yang dindingnya berbatasan dengan pagar depan Pura. Sedangkan di sebelah utara pohon beringin terdapat 'Bale Kentongan' yang berdekatan dengan jembatan.

Memasuki kompleks Pura, kita harus melewati 'Candi Bentar', dan Candi Bentar adalah sebutan gapura berbentuk 2 bangunan serupa dan sebangun, tetapi merupakan simetri cermin yang membatasi sisi kiri kanan pintu masuk Pura. 

Lewat Candi Bentar, kita menjumpai 'Mandala Madya', dan Mandala Madya ini, dijumpai sebuah bale beratap limasan yang letaknya berada di selatan. Bale itu biasanya digunakan untuk 'Pasraman Pasupati' atau 'Padepokan Lembah Tulis'. 

Dari Mandala Madya, pengunjung bisa melanjutkan ke bagian dalam. Bagian dalam ini dinamakan 'Mandala Utama'. Mandala Utama ini merupakan area yang sakral dalam tradisi persembahyangan umat Hindu.

Pura Patirtan Taman Pasupati

Di area ini kita menjumpai Padmasana, dan Padmasana adalah tempat untuk bersembahyang dan menaruh sesajian guna manembah terhadap Tuhan. Berdampingan dengan Padmasana sisi barat terdapat Pelinggih yang dikenal dengan sebutan 'Giri Kawi'. 

Antara Pelinggih Giri Kawi dan Padmasana terdapat arca Raden Wijaya (Dyah Wijaya) atau Sri Kertarajasa Jayawardana atau Nararya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana, pendiri Kerajaan Majapahit. 

Di sisi sebelah timur Padmasana dengan arah sejajar terlihat 'Sanggar Surya' yang diyakini sebagai lenggahnya atau bersemayamnya 'Trayo Dasa Sakti', yakni tiga belas saksi yang mengikuti segala gerak langkah kita. 

Sedangkan di sebelah selatan dari Mandala Utama ini terdapat pancuran perwujudan 'Sang Hyang Wisnu'. Air yang mengalir dari pancuran itu dipercaya sebagai tirtha kesucian. 

Kata 'tirtha' itu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti sebagai kesucian atau setitik air, air suci, atau bersuci dengan air. Secara spesifik, tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kotoran maupun kecemaran pikiran.

Masyarakat setempat mempercayai air suci patirtan yang berasal dari Gunung Kawi tersebut mampu menyembuhkan sakit, membuat awet muda, dan mengabulkan berbagai pengharapan. 

Dalam kosmologi budaya Jawa, patirtan atau sumber air punya arti penting. Patirtan bisa berupa sumur, belik, kali, danau dan laut. Sumber  air mempunyai makna sebagai sumber kehidupan. Selain dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, oleh para leluhur, air digunakan untuk ritual. 

Sebelah timur Pura ada arca Iswara, di sebelah selatan ada arca Brahma, di sebelah barat ada arca Mahadewa, di sebelah utara ada arca Wisnu dan di tengah ada arca Siwa.

Iswara merupakan visualisasi konsep filosofis yang berarti 'pengendali', dan dalam bahasa Sanskerta, Iswara berarti 'penguasa', sedangkan dalam tradisi 'Saiwa', penggunaan istilah 'Maheswara' yang berarti penguasa agung, berbeda lagi dengan Buddha Mahayana, istilah ini tersemat di nama 'Bodhisatwa' yang terkenal dengan sifat cinta kasihnya yaitu 'Awalokiteswara'.

Sedangkan Mahadewa, berinkarnasi dalam perwujudan dan ada di lintasan perjalanan hidup setiap mahluk. Mahadewa tidak termanifestasikan dalam perwujudan universalnya, melainkan dalam setiap tubuh perseorangan baik pada manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan.

Di pura ini terdapat arca Nyi Ratu Mas perwujudan sosok wanita yang cerdas, tangguh dan perkasa. Dalam tradisi, kita mengusapkan tangan kita ke tangan Nyi Ratu Mas lalu diusapkan ke dahi kita sebanyak 3 kali, mengusapkan tangan kita ke kaki Nyi Ratu Mas lalu diusapkan ke dahi kita sebanyak 3 kali.

Selain itu di tempat ini terdapat bangunan lain yang ditempati arca Dewi Saraswati, letaknya berada di sebelah utara pura utama, dan Dewi Saraswati dikenal sebagai dewi ilmu pengetahuan. Di sebelah barat arca Dewi Saraswati ini terdapat satu bangunan lagi yang terlihat beraura positif yang dijaga oleh 2 arca perwujudan singa. 

Secara tradisional, singa melambangkan kebangsawanan, keningratan, kekuasaan, kenegaraan, dan dianggap sebagai 'raja binatang', sedangkan dari perspektif simbolisasi, singa erat kaitannya dengan kekuatan dan keberanian.

Di area masuk yang dijaga 2 singa tersebut, dipercaya tempat eksistensi 'Sang Hyang Pasupati', nama lain dari 'Sang Hyang Guru' atau Dewa Siwa. Dalam bahasa Sansekerta, kata 'pasupati' berasal dari 2 kata, yaitu 'pasu' dan 'pati', pasu artinya binatang, dan pati artinya raja atau penguasa. 

Jadi, tujuan memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Pasupati adalah untuk mengendalikan sifat-sifat kebinatangan yang sering menguasai diri manusia. 

Dari sisi historis dusun, nama dusun Jengglong diambil dari tanaman 'Jangklong', yang tumbuh subur di sekitar sumber mata air setempat. Sedangkan menurut filosofis desa, nama desa Sukodadi, mengandung arti siapapun yang disukai, maka dialah yang akan dijadikan pemimpin. (dodik)

Related News