Rindu yang Tak Terucap

Minggu, 09/06/2024 - 11:26
Dara Tera Pradita

Dara Tera Pradita

Oleh: Dara Tera Pradita mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta dengan program studi Penerbitan (jurnalistik). 

Belakangan ini, sebuah film Thailand yang sedang tayang di bioskop Indonesia, "How to Make Millions Before Grandma Dies", menjadi perbincangan hangat. Teman-teman saya tak henti-hentinya membicarakan film tersebut. Bahkan, banyak dari mereka yang sudah menontonnya dan berbagi cerita seru tentang seorang lelaki yang meninggalkan mimpinya demi mengurus neneknya. Satu hal yang membuat cerita ini menarik adalah motif tersembunyi di balik keputusannya. Namun, saya hanya tahu sedikit tentang film itu, hanya sebatas sinopsis yang saya baca di internet. Ya, benar sekali, saya belum menontonnya, meski sebenarnya sangat tertarik.

Alasan utamanya bukan karena keterbatasan uang atau waktu, melainkan saya enggan menonton film tentang nenek dan cucunya. Setiap kali menonton film bertema keluarga, saya pasti menangis. Bayangan yang hadir terlalu menyakitkan; mengingatkan pada kenangan yang saya tahu akan membuatku merasa kehilangan.

Memori dalam Jarak

Sejak kecil, jarak selalu menjadi penghalang antara saya dengan kakek dan nenek. Kedua pasang orang tua dari ayah dan ibu tinggal di pulau yang berbeda, jarang sekali bisa bertemu. Setiap kali mereka datang ke Jakarta, rasanya seperti mendapatkan kejutan besar. Sebagai cucu bungsu, perhatian mereka selalu tertuju pada saya. Ayah pasti mengambil cuti, dan liburan keluarga bersama kakek dan nenek menjadi momen berharga yang selalu saya nantikan.

Saya ingat betapa cerewet dan aktifnya saya saat kecil. Saya suka bercerita dan bertanya tentang banyak hal kepada kakek. Salah satu pertanyaan polos yang terus teringat adalah, “Kek, kenapa kakek tinggal di Riau padahal punya rumah di Jakarta? Apakah karena Jakarta suka banjir?” Kakek menjelaskan bahwa meski punya rumah dinas di Jakarta, tugasnya sebagai tentara memaksanya tinggal di Riau. Saya baru mengerti bahwa tugas sebagai tentara membuat kakek selalu jauh dari keluarga.

Janji yang Tertunda

Keinginan saya untuk mengunjungi Riau tak pernah terwujud. Ayah, ibu, dan kakak saya sudah pernah ke sana, tetapi saya selalu ketinggalan. Kakek pernah berjanji akan mengajak saya ke

Riau saat ia datang ke Jakarta lagi. Namun, janji itu belum sempat dipenuhi ketika nenek jatuh sakit saat sedang berbelanja di pasar. Mereka harus tinggal lebih lama di Jakarta untuk merawat nenek. Meski melihat nenek sakit membuat saya sedih, ada kebahagiaan karena bisa lebih sering bertemu mereka.

Dua bulan berlalu, dan nenek yang mulai pulih akhirnya kembali ke Riau. Saya merasa sedikit kecewa karena mereka tidak mengajak saya, tetapi yang terpenting adalah kesehatan nenek. Tak lama setelah mereka kembali, nenek jatuh lagi dan kondisinya memburuk. Ayah segera berangkat ke Riau, meninggalkan saya yang sedang menjalani ujian kenaikan kelas tiga sekolah dasar. Hari-hari berikutnya penuh dengan kekhawatiran dan telepon dari Riau yang memberitakan kondisi nenek.

Kabar Buruk

Suatu sore yang kelabu, kabar buruk itu datang. Nenek meninggal dunia. Saya terpuruk mendengar berita itu, tubuh saya seakan tak berdaya dan air mata tak henti-hentinya mengalir. Ayah yang terdengar mencoba menahan tangisnya di telepon membuat saya semakin sedih. Saya tidak bisa bertemu nenek untuk terakhir kalinya. Rasa penyesalan dan kehilangan menyelimuti hati saya. Di saat orang lain bisa menghabiskan waktu bersama kakek dan nenek mereka, saya hanya bisa mengenang pertemuan-pertemuan singkat yang kami miliki.

Kenangan yang Berharga

Di bangku sekolah menengah pertama, saat menghadapi ujian, saya menulis puisi untuk mengenang nenek. Puisi itu masih tersimpan rapi dalam buku diary saya. Kehilangan nenek mengajarkan saya tentang betapa berharganya kenangan bersama orang-orang tercinta. Setelah nenek pergi, kakek menjadi jarang datang ke Jakarta. Ia tak ingin berjauhan dengan kenangan bersama nenek. Rindu dan kesedihan selalu menghantuinya.

Saat pandemi Covid-19 melanda, kakek juga meninggalkan kami. Mendengar berita itu, air mata tak bisa lagi terbendung. Pelukan hangat dari ayah sedikit meredakan rasa kehilangan yang dalam, tetapi tidak cukup untuk menghilangkan kesedihan yang membekas. Ayah yang akhirnya bisa pergi ke Riau menceritakan betapa sulitnya berada di sana tanpa kakek dan nenek. Namun, ia membawa pulang oleh-oleh dari kakek dan nenek, hadiah-hadiah yang mereka beli sebelum nenek meninggal dunia.

Hadiah-hadiah itu masih tersimpan dengan baik hingga kini. Salah satu yang paling berkesan adalah seragam tentara kecil yang dijahit khusus oleh rekan kakek. Saya yang dulu bercita-cita menjadi polisi wanita, tidak menyadari betapa mendalamnya makna seragam itu. Kini saya tahu, kakek ingin saya meneruskan jejaknya sebagai tentara. Nenek juga meninggalkan dua kain cokelat bermotif batik yang masih tampak baru, tersimpan rapi sebagai kenangan dari nenek yang selalu memanjakan saya.

Rindu yang Abadi

Mengenang kakek dan nenek selalu membawa saya pada rasa rindu yang tak terucap. Film yang menceritakan hubungan dengan kakek dan nenek seperti How to Make Millions Before Grandma Dies akan selalu membuka luka lama. Meski waktu telah berlalu, rasa rindu itu tetap ada, seakan tidak ada yang bisa menggantikan kenangan bersama mereka.

Bertahun tahun lamanya rasa sedih dan rindu datang bergantian mengingatkan pada perpisahan itu. Ingin saya putar Kembali waktu dan mengahbiskan waktu lebih lama untuk mereka. Saya ingin sekali merasakan kasih sayang yang lebih lama dari kakek dan nenek. Tolong buat saya kuat apabila saya teringat oleh mereka,. Sampai sekarang pun saya tidak tau bagaimana caranya kuat dan rasa sedih itu hilang dengan sendirinya. Hari demi hari terpendam sakit dari sedih itu, namun rasa rindu itu semakin besar. Saya bahkan tak tau bagaimana ayah ataupun orang diluar sana bisa menghadapi rasanya sedih Ketika ditinggalkan oleh orang orang yang mereka sayang.

Berlarut larut dengan kesedihan mebuat saya tidak menemukan artinya kebahagian. Bahkkan saya tidak menyadari kasih sayang yang tulus terhadap saya. Kedewasaan dan lingkungan merubah cara berfikir saya akan kesedihan. Dari perubahan itu menciptakan hati bersosial dan menumbuhkan rasa empati terhadap semua orang terkhusus pada orang tua

Namun, kesedihan itu juga membawa pelajaran berharga. Kehadiran ayah, ibu, keluarga, dan sahabat menjadi penghiburan. Saya belajar untuk lebih menghargai waktu yang ada, untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan bersama orang-orang yang saya sayangi. Setiap momen bersama mereka adalah harta yang tak ternilai. Dari sini, saya berjanji untuk memanfaatkan setiap momen dengan baik, menciptakan kenangan indah yang bisa dikenang bersama orang- orang terdekat.

Tulisan ini bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang bagaimana kenangan dan cinta dari kakek dan nenek membentuk hidup saya. Meski jarak dan waktu memisahkan kami, kenangan bersama mereka selalu memberikan kekuatan dan pengertian tentang pentingnya cinta dan kebersamaan. Bagi siapa pun yang membaca ini, semoga kalian juga merasakan betapa berharganya setiap momen bersama orang-orang tercinta dalam hidup kalian.

Kenangan bersama kakek dan nenek adalah harta yang tak tergantikan. Meskipun mereka telah tiada, kenangan itu tetap hidup, mengajarkan saya tentang cinta, pengorbanan, dan pentingnya menghargai setiap momen bersama orang-orang tercinta. Rindu yang tak terucap ini adalah bagian dari perjalanan hidup saya, membawa saya untuk lebih memahami nilai waktu dan kenangan yang abadi.

Tags

Berita Terkait