Sumber : Pinterest
Oleh : Aqmarina Aulia Jami Instansi (Politeknik Negeri Jakarta)
Sosok wanita tangguh paruh baya dengan ikhlas menggerakkan seluruh tangannya tanpa belas kasih. Kasih sayangnya yang tak bisa diukur dengan apapun yang ada di dunia ini. Hatinya sekuat batu karang yang terhempas jutaan kali oleh derasnya ombak di lautan.
Siapa lagi jika bukan Ibuku. Wanita yang telah mengandung, melahirkan, dan merawat diriku sepenuh jiwanya. Dari mengorbankan waktu dan energinya untuk merawat anak-anak hingga menghadapi tantangan hidup dengan keberanian, Ibu adalah teladan nyata tentang kekuatan dan ketahanan hidup.
Pengorbanan yang tidak terbatas yang dilakukan oleh seorang Ibu demi kebahagiaan dan kesuksesan anak-anaknya. Dari malam tanpa tidur hingga pengorbanan finansial, Ibu mengajarkan arti sejati dari cinta tanpa syarat.
Ketika memasuki dunia pendidikan, Ibu dengan cermat mempersiapkan segala kebutuhanku. Dia bangun pagi-pagi untuk menyiapkan bekalku untuk sekolah, menyetrika seragamku, dan mempersiapkan perlengkapan sekolahku. Ibuku selalu memastikan dengan baik anak-anaknya ketika di sekolah.
Tidak hanya mengurus rumah dan kebutuhanku, Ibu juga turut menjadi guru ketika di rumah, mengajari dan memastikan selalu anaknya agar mendapat nilai yang memuaskan, Ibuku selalu mengutamakan pendidikan anaknya apalagi dalam bidang agama.
Menurutku, memiliki orang tua yang peduli akan agama anaknya adalah suatu hal yang langka, Aku bersyukur diberikan Ibu yang peduli akan akhiratku, jika tidak dibekali dengan ilmu agama mungkin Aku sudah tersesat di jalan yang salah.
Ibu selalu mengajarkan anak-anaknya berlatih menulis, membaca, berhitung dengan baik hingga kami sebagai anaknya memiliki banyak prestasi. Ibuku selalu bangga dengan apa yang anaknya lakukan dia tidak pernah sama sekali membandingankan Aku dengan anak tetangga, seperti yang banyak orang bilang, beberapa orang tua mereka sering membandingkan pencapaian anaknya sendiri dengan anak tetangga.
Setiap pagi ketika dia bangun lebih awal, dan Aku masih terlelap dalam mimpiku. Ibu sudah menghidangkan sarapan di atas mejaku, agar ketika Aku bangun bisa langsung menyantap sarapan itu. Kadang-kadang Aku kesal karena masih mengantuk, ternyata hal seperti itu sangat romantis ketika disadari saat ini.
Dahulu Aku pernah merasakan cemburu ketika Ibuku lebih perhatian dengan anak lain entah sepupu atau siapa pun itu, Aku merasa Ibu tidak sayang dan tidak perhatian denganku, tetapi pandangan Aku salah untuk semua itu, ketika Aku semakin beranjak dewasa semakin sadar ternyata rasa sayang Ibu sangat besar terhadapku memang terkadang yang terdekat tidak terlihat.
Ketika Ibu bercerita tentang kehidupannya di masa lalu, sejak kecil dia sudah ditinggal oleh kedua orang tua, ayahnya (kakekku) hidup dengan keluarga barunya, sedangkan Ibunya (nenekku) sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan Ibuku dan keluarga, dan Ibu tinggal dan diurus oleh kakeknya.
Ibuku sedikit mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, seharusnya Aku sebagai anaknya harus bisa lebih memberikan kasih sayang yang lebih terhadapnya, tetapi sering kali Aku menyakiti hatinya baik disadari maupun tidak. Maafkan Aku Ibu.
Setiap kali Ibu pergi ke kajian, biasanya mambawa bingkisan. Ibuku tidak pernah mau memakannya jika anaknya tidak makan. Ibuku selalu mengutamakan perut anak-anaknya dibandingkan perutnya sendiri, tidak peduli seberapa lama dia belum makan, yang terpenting adalah anaknya.
Hal pertama yang Aku cari ketika sakit adalah Ibu, dia merawatku dengan sepenuh jiwa, selalu memperhatikanku dengan sangat baik agar Aku cepat pulih.
Pernah saat itu, Aku dan Ibu mengalami kecelakaan jatuh dari motor. Pada saat itu sedang hujan sore hari, Ibu meminta diriku untuk mengantarkan ke rumah temannya, ketika arah pulang awan berubah menjadi gelap, tanda hujan akan turun ke bumi, benar saja saat dipertengahan jalan, hujan sangat deras dan jalanan sangat licin, motorku dengan kecepatan yang lumayan cepat, lalu motor kami tergelincir, hingga kami terjatuh. Saat itu, keadaanku lumayan parah hingga Aku tidak sadarkan diri alias pingsan.
Sebelum Aku pingsan sempat melihat sekitar dengan setengah kesadaranku, terdengar suara Ibuku yang sangat panik dan berteriak meminta tolong kepada orang sekitar. Ibuku sangat
khawatir kala itu, karena mulutku keluar banyak darah, padahal dia sendiri jatuh dan dia tidak peduli dengan keadaan dirinya, dia lebih mengutamakan keadaanku agar baik-baik saja.
Saat itu, Aku sedih sekali karena Ibuku terluka akibat Aku, Aku merasa bersalah, Aku takut Ibuku seperti nenekku yang telah meninggal dunia, akibat jatuh dari motor, Aku tidak ingin Ibu merasakan sakit yang sama dengan nenekku.
Ibuku selalu memastikan keadaanku setiap harinya agar selalu kenyang, walaupun dia sendiri terkadang makan nasi kemarin, sedangkan Aku enggan memakannya dan memilih- milih makanan.
Aku selalu menceritakan apapun kepada Ibuku, dia adalah orang pertama yang selalu ada cari disaat Aku disakiti oleh orang yang berprilaku tidak baik terhadapku, Aku selalu mengadu kepada Ibuku, tanpa memikirkan bagaimana masalah yang sedang dia alami.
Terkadang kita sebagai anak sangat egois, kita hanya mau enak dan bahagianya diri kita tanpa memikirkan orang tua sendiri. Apa pernah kita bertanya kepada Ibu selama hidup, apakah Ibu bahagia?
Bagi Ibuku, kebahagiaan anak adalah prioritas utama. Dalam setiap doanya, dia selalu menyebut nama anaknya. Ibu berjuang tanpa lelah untuk memberikan yang terbaik bagi anak- anaknya. Dia bekerja keras, baik siang maupun malam, agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Meskipun terkadang kita tidak menyadari, perlakuan kita bisa menyakitkan hatinya. Meski hatinya mungkin menangis, dia tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depan anak-anaknya.
Bagaimana perasaan kita ketika melihat ibu kita, setiap hari, bertambah helai rambut putihnya? Wajahnya semakin keriput dan kulitnya semakin kusut? Apakah kita merasa jijik dan ingin menjauh darinya? Namun, seburuk apapun kondisi kita, ibu selalu menerima kita dengan tulus. Dia dengan senang hati memeluk kita yang terluka oleh dunia luar, dan memaafkan segala kata-kata kita yang mungkin menyakitkan.
Ibu, keberadaannya semakin dalam dihati dan tidak akan tergantikan. Senyumnya terukir seperti air di padang pasir saat musim kemarau berkepanjangan. Matanya memancarkan cahaya yang menerangi setiap langkah kita. Ia bagaikan lilin yang terus menyala dalam kehidupan kita.
Tidak ada yang dapat mencintai kita sebesar cinta seorang Ibu pada anaknya. Ibu, bukan hanya wanita yang patut dihormati, melainkan juga sosok yang mampu menghargai kita apa adanya. Ibu adalah orang yang paling dekat dengan kita, karena keberadaannya tersemat dalam hati kita.
Aku tidak bisa membayangkan jika Ibuku pergi dari hidupku, Aku mungkin akan hancur sehancur-hancurnya, Aku tidak bisa hidup tanpa Ibuku. Setiap kali pertanyaan ini muncul “bagaimana jika Ibu tidak lagi ada di dunia?” Aku pasti langsung menangis hingga sesak. Aku berdo’a kepada Tuhan, “Bisakah Ibuku abadi? Tuhan tolong biarkan saja Aku yang pergi dari dunia ini lebih dahulu, karena Aku tak sanggup tanpa Ibu.”
Ibuku adalah segalanya dalam hidupku, Ibuku berprofensi ganda, Ibuku tidak hanya berperan sebagai orang tua, melainkan guru dan sahabatku. Ingin sekali Aku memeluk erat tubuhnya sambil mengucapkan terima kasih atas segala yang telah diberi, Aku harap Ibu selalu bahagia dan berumur panjang.








