SMP 2 Kudus Hadirkan Jurnal Digital 7 KAIH, Ciptakan Murid Berkarakter Melibatkan Ekosistem Sekolah

Jumat, 31/07/2026 - 12:25
Mendikdasmen Abdul Mu'ti

Mendikdasmen Abdul Mu'ti

Klikwarta.com, Kudus, Jawa Tengah, 31 Juli 2026 - Membangun karakter anak tidak cukup hanya melalui nasihat di ruang kelas. Perlu proses yang konsisten, terukur, dan melibatkan sekolah serta keluarga. Berangkat dari keyakinan tersebut, SMP 2 Kudus menghadirkan Aplikasi Jurnal 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), sebuah platform digital yang menjadi wadah pencatatan implementasi kebiasaan positif murid sekaligus mendukung transformasi layanan pendidikan berbasis data.

Melalui aplikasi berbasis laman ini, perjalanan pembentukan karakter peserta didik tidak lagi tercatat di lembar-lembar jurnal yang rentan hilang atau rusak. Seluruh rekam jejak perkembangan murid kini tersimpan secara digital, sehingga dapat dipantau lebih cepat, akurat, dan mudah diakses oleh guru, orang tua, maupun manajemen sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi atas hadirnya aplikasi ini. Ia berharap, 7KAIH akan dapat terus diimplementasikan dengan baik. Sebab, ia meyakini, "Kebiasaan orang menentukan kesuksesannya. Biasakan bangun pagi lalu beribadah dan berolahraga. Biasakan hidup sehat karena sehatmu adalah hidupmu," ujarnya di Kudus, Jawa Tengah, Jumat (31/7). 

Bagi SMP 2 Kudus, digitalisasi bukan semata menghadirkan teknologi, melainkan membangun budaya pendidikan yang lebih responsif, transparan, dan berbasis data. Kepala SMP 2 Kudus, In Setyorini, mengatakan inovasi tersebut lahir sebagai respons atas kebutuhan sekolah menghadirkan layanan pendidikan yang adaptif terhadap era digital sekaligus memperkuat implementasi 7KAIH yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

"Jurnal Digital 7 KAIH bukan hanya alat pencatatan, tetapi menjadi ruang kolaborasi antara murid, guru, dan orang tua. Data yang tersaji membantu kami memahami perkembangan karakter peserta didik secara utuh sehingga langkah pembinaan dapat dilakukan lebih tepat," ujarnya.

.

M. Nur Faizin, Guru Mata Pelajaran IPA yang menggagas aplikasi ini menjelaskan, melalui sistem yang terintegrasi, guru dapat memantau kebiasaan harian murid, melakukan deteksi dini apabila muncul persoalan, sekaligus memberikan apresiasi terhadap setiap perilaku positif. Orang tua pun memperoleh gambaran perkembangan anak secara objektif sehingga komunikasi dengan sekolah menjadi lebih terbuka.

“Misalkan anak menuliskan bangun jam 05.00, orang tua bisa ikut memvalidasi. Orang tua bisa login, istilahnya memberi paraf kalau dalam laporan manual pada umumnya. Orang tua bisa memberikan komentar di aplikasi jika kenyataan pelaksanaannya di rumah berbeda dengan laporan yang diisikan anak,” terangnya ketika menjelaskan efektivitas aplikasi ini mendorong peran orang tua berpartisipasi mengembangkan karakter anak.  

Sosialisasi Jurnal Digital 7 KAIH ini kata Faizin akan semakin gencar dilakukan kepada orang tua pada Agustus mendatang. Harapannya, Jurnal Digital 7 KAIH menjadi fondasi lahirnya generasi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga berkarakter tangguh, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

"Capaian akademik itu tidak menentukan kesuksesan seseorang karena 80 persennya ditentukan oleh karakter. Maka, dengan adanya jurnal ini, saya harap anak-anak bisa jujur mengisi jurnal hariannya dan terus semangat memperbaiki diri karakternya," tuturnya. 

.

Salah satu murid kelas 9 SMP 2 Kudus, Indigo A, menyampaikan kesannya menggunakan aplikasi Jurnal Digital 7 KAIH. "Pengisiannya simpel banget. Ada pilihan aktivitas 7KAIH, kita tinggal menjelaskan waktu kita mengerjakan aktivitas dan terakhir ada catatan refleksi," ungkapnya yang senang mengisi jurnal melalui HP dibandingkan secara manual.

Menurut Indigo, jurnal ini menjadi alat komunikasi yang efektif untuk membantu orang tuanya memantau kebiasaannya. Dengan demikian, penerapan 7KAIH berjalan berkesinambungan baik di sekolah maupun di rumah. Selain itu, karena orang tua dapat ikut memantau aktivitas anak, maka ia termotivasi untuk mengisi jurnal dengan jujur.

"Mengisi dengan jujur, membuat orang tua percaya dengan kita. Guru dan orang tua juga bisa menilai karakter kita apa adanya. Jurnal ini bisa menjadi refleksi supaya kita bisa tumbuh dengan karakter yang lebih baik," imbuhnya yang mulai aktif mengisi Jurnal Digital 7 KAIH sejak 13 Juli 2026. 

Pada kesempatan ini, Indigo dan rekan sebayanya Ahza mempraktikkan cara kerja Jurnal Digital 7 KAIH menggunakan Interactive Flat Panel (IFP). Dengan antusias, keduanya menjelaskan cara login, mengisi aktivitas, dan mensimulasikan cara orang tua memantau jurnal anak. 

Dalam sesi dialog dengan Mendikdasmen, Ahza mengungkapkan bahwa aplikasi Jurnal Digital 7 KAIH menjadi solusi untuk melatih kedisiplinan bangun pagi pukul 04.00. "Orang tua saya juga mendukung karena bisa mengontrol keseharian saya," pungkas Ahza.

(Kontributor : Arif)

Berita Terkait