Kisah Paryono, Perjuangan Panjang Dari Cleaning Service Hingga Jadi Politisi Senayan

Sabtu, 03/09/2022 - 22:23
Paryono, anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.

Paryono, anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.

Klikwarta.com, Karanganyar - Sosok politisi PDI Perjuangan yang satu ini banyak dikenal berbagai kalangan karena kedekatannya dengan masyarakat. Dialah Paryono, pria kelahiran Karanganyar, 10 Desember 1974 yang kini menjabat sebagai Anggota Komisi VIII di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Siapa sangka, di balik gelarnya sebagai Politisi Senayan yang disandangnya kini, tersimpan kisah perjalanan hidup yang penuh liku dan pengorbanan, begitu pula dengan proses perjalanan karir yang telah dilaluinya.

Akhir remaja Paryono dilewati  dengan kerja keras sebagai pejuang keluarga. Asam garam hidup di perantauan hingga melakoni pekerjaan sebagai sopir mini bus dan petugas kebersihan ternyata pernah menjadi pengalaman yang mengisi masa - masa sulitnya di waktu dahulu.

Saat ditemui Klikwarta com beberapa waktu lalu di kediamannya di Ringin Asri RT 03 RW 12, Bejen, Karanganyar, Paryono menuturkan, awal tahun 1995 dirinya dihadapkan pada kenyataan yang dilematis. Perekonomian keluarganya jatuh dan terpuruk. Di saat yang sama, perusahaan milik ayahnya gulung tikar.

Tak ada pilihan lain, Paryono lantas memutuskan pergi merantau demi mencari jalan keluar bagi diri dan juga keluarganya. Bangku kuliahnya semasa duduk sebagai mahasiswa semester dua di salah satu universitas swasta di Kota Solo bahkan terpaksa harus dia tinggalkan.

Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menjadi kota tujuan pertama. Di kota itu, Paryono bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik kayu lapis untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya berpindah ke Kota Banjarbaru dan menjadi tenaga kontrak di Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan (BIPHUT) Departemen Kehutanan.

Jakarta, adalah kota tujuan berikutnya. Di sana Paryono mengadu nasib sebagai karyawan di salah satu rumah makan, hingga kemudian dia  memutuskan untuk  kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, Karanganyar. Paryono lalu bekerja sebagai sopir mini bus Damar Sasongko jurusan Solo - Sukoharjo dan bus Aji Putra jurusan Solo - Matesih.

"Saya lantas berpikir, sudah  bekerja dimana saja tetapi belum juga menemui jalan terang. Saya lalu teringat histori ayah saya. Beliau adalah seorang kontraktor di Karanganyar dan memiliki perusahaan, namanya CV Puri Handayani. Perusahaan itu beliau dirikan tahun 1976. Tetapi semenjak mengalami  kebangkrutan, akhirnya saya memilih untuk merantau, dan pada tahun 1996 ayah saya meninggal," kenangnya.

Melanjutkan kisah masa lalunya, Paryono bercerita  tentang sosok sang ayah yang semasa hidup dikenal sebagai pribadi yang pandai dan akrab bergaul dengan siapa pun, baik rekan seprofesi maupun kalangan pejabat.

Tiba pada 14 Januari 1998, Paryono bekerja menjadi tenaga honorer di kantor Pemkab Karanganyar sebagai petugas kebersihan atau cleaning service.  

Membuka pintu kantor hingga membersihkan meja kerja para pejabat menjadi rutinitasnya setiap pagi. Sedangkan di sore hari selepas jam kerja para pejabat, Paryono menyapu, mengepel lantai dan menutup kembali semua pintu serta gorden jendela kantor.

Dari hasil jerih payahnya bekerja di kantor pemerintahan itu, Paryono menyisihkan sedikit demi sedikit upah yang ia terima untuk dijadikan modal merintis kembali perusahaan yang ditinggalkan mendiang ayahnya. 

"Ayah dulu juga sempat meninggalkan pesan supaya saya tetap mempertahankan CV Puri Handayani untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup  ibu saya, keluarga dan saudara saya. Waktu itu kondisi keluarga memang sudah sangat terpuruk," ucapnya. 

Masih teringat oleh Paryono, ketika reformasi Mei 1998 menandai masa transisi perekonomian bagi dirinya. Dari penghasilan yang sebelumnya terbilang serba pas - pasan, lambat laun memperoleh pijakan untuk bangkit kembali. 

Selain hasil pendapatan bulanan sebagai tenaga honorer sebesar Rp.90 ribu sampai Rp.120 ribu yang ia terima kala itu, Paryono juga memperoleh penghasilan tambahan dari pekerjaan sampingan di luar jam dia  bekerja. 

"Setiap kali diminta untuk mencucikan mobil milik pejabat, kadang saya diupah sebesar Rp 5 ribu. Pemasukan tambahan juga saya dapat dari upah kalau pas saya disuruh membantu jika ada kegiatan atau rapat. Sampai saat itu saya bisa mengumpulkan uang dan punya tabungan Rp 1 juta. Uang itulah yang saya pakai untuk mengurus surat - surat kelengkapan agar bisa merintis kembali perusahaan mendiang ayah saya. Perlahan perusahaan itu saya rintis dan alhamdulillah bisa saya jalankan lagi," bebernya. 

Dampak krisis moneter yang menerpa Indonesia kala itu, kata Paryono, turut dirasakan pengusaha di Kabupaten Karanganyar, termasuk pula pelaku usaha di bidang kontruksi. Sektor perekonomian yang sedang lesu membuat banyak pengusaha kontruksi tak mampu bertahan, hingga ada pula yang terpaksa menutup perusahaan mereka karena kolaps.

Menginjak bulan Oktober 1998, Paryono memberanikan diri  menerima tawaran pengerjaan proyek Padat Karya, yakni program pembangunan dari pemerintah untuk infrastruktur di daerah ketika itu.

"Melihat peluang itu saya pun berspekulasi. Dan mungkin sudah rejeki, ternyata saya diberi uang muka sebesar tiga puluh persen. Padahal, saat itu tidak ada sistem uang muka. Untuk kekurangan modalnya, saya penuhi dengan menggadaikan BPKB sepeda motor pinjaman milik teman saya, hingga akhirnya proyek itu bisa terselesaikan," kata Paryono. 

Lebih ingin konsen menekuni profesinya sebagai kontraktor, Paryono lalu memutuskan berhenti dan meninggalkan pekerjaannya sebagai cleaning service. Sesuai harapan sang ayah, Paryono akhirnya menjadi Direktur CV Puri Handayani pada tahun 1999.

Fokusnya sebagai pengusaha hingga menjadi anggota Gapensi, sempat membuat Paryono tak menduga jika ia bakal terjun ke dunia politik. Akan tetapi, pertimbangan dukungan dan dorongan yang terus diberikan oleh orang - orang terdekat, meneguhkan dirinya untuk mengambil keputusan. Sampai pada akhirnya, Paryono pun mengawali karir politiknya sebagai kader PDI Perjuangan.

"Sebagai anggota yang loyal, tentunya mau tidak mau saya harus ikut dalam berproses. Berjalannya waktu, saya pun semakin dekat dan intens berinteraksi di dalam PDI Perjuangan. Tahun 2001, saya dipercaya untuk menjabat sebagai Wakil Bendahara di PAC PDI Perjuangan Karanganyar," jelasnya.

Menjadi seorang politisi yang berlatar belakang pengusaha, Paryono masih tetap aktif berkecimpung di beberapa perhimpunan. Tak hanya Gapensi, ia juga masuk di dalam keanggotaan Aspekindo, Ardin, Kadin dan beberapa perhimpunan pengusaha kontruksi lainnya.

"Tahun 2003, akhirnya pekerjaan maupun aktifitas saya di organisasi sudah mapan, begitu juga kondisi secara ekonomi. Hingga saya bisa punya rumah, tabungan, mobil dan punya modal untuk lebih total terjun ke dunia politik. Tahun 2004 hingga 2008 saya dipercaya menjadi anggota DPRD Karanganyar," jelas dia.

Rentang waktu 2005 hingga 2010 ia menjabat sebagai Sekretaris DPC PDI Perjuangan Karanganyar. Setelahnya, jabatan politik Paryono adalah sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan hingga 2015. Paryono juga pernah menjabat Wakil Bupati Karanganyar mendampingi Bupati Rina Iriani Sri Ratnaningsih, selama periode 2008 - 2013.

Paryono maju ke kancah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2013 sebagai Calon Bupati Karanganyar berpasangan dengan Diah Shintawati. Namun dalam  kesempatan ini, kemenangan berpihak kepada pasangan pesaingnya, yakni Juliyatmono - Rohadi Widodo.

Selepas dari kontestasi politik itu, karir Paryono baik sebagai pengusaha maupun politisi semakin menanjak. Masih di tahun 2013, Paryono menduduki posisi sebagai Direktur di PT. Taruna Bima Abadi hingga 2018. Ia juga memegang jabatan sebagai Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah periode 2015 hingga 2019. 

Keikutsertaan sebagai caleg dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) tingkat DPR RI 2019 Daerah Pemilihan (Dapil) IV Jawa Tengah, mengantarkan nama Paryono menuju Gedung Parlemen Senayan, setelah ia  meraih suara tertinggi di Kabupaten Karanganyar. Tepatnya 1 Oktober 2019, Paryono resmi dilantik menjadi Anggota Komisi VIII DPR RI untuk periode 2019-2024.

Dari deretan nama caleg yang bersaing pada ajang pemilihan wakil rakyat saat itu, ada petahana DPR RI seperti Ketua DPD Demokrat Jateng Rinto Subekti dan politisi PAN Laila Istiana Diana Savitri. Caleg pesaing lainnya, adalah mantan Bupati Wonogiri Danar Rahmanto yang maju melalui PDI Perjuangan dan mantan Bupati Sragen Agus Fatchurrahman dari Golkar.

Beberapa nama lagi, yaitu Ketua DPD PDI Perjuangan Jateng Bambang Wuryanto, Bendahara DPD PDI Perjuangan Jateng Agustina Wilujeng Pramestuti, politisi PKS Muhammad Martri Agoeng dan politisi Golkar Endang Maria Astuti.

Kiprah Paryono sebagai politisi papan atas terbilang cukup  diperhitungkan, Bahkan, saat ini dia dipercaya menjabat sebagai bendahara Badan Pemberdayaan Ekonomi Kreatif di DPP PDI Perjuangan. Menurut Paryono, pada prinsipnya apapun jabatan politik yang diembannya, adalah amanah untuk dijalankan sebaik mungkin sebagai sebuah pengabdian.

"Yang jelas sudah bertahun - tahun saya berproses di politik, diawali dari pusaran Pemilihan Bupati Karanganyar tahun 2001. Saya masuk di politik bukan sebagai politisi dari karpet merah. Pada posisi itu saya benar - benar berjuang dari titik terendah alias dari nol. Hanya dukungan dan doa dari orang tua serta kawan - kawan dekat seperjuangan yang menguatkan saya," ujarnya.

Selama meniti karir politiknya, Paryono menyebut, tak hanya satu kali dirinya mendapat kepercayaan dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

"Tiga kali saya mendapat rekomendasi. Diawali dari saya maju hingga terpilih menjadi Wakil Bupati Karanganyar, mencalonkan diri menjadi Bupati Karanganyar meskipun kalah, hingga saya dapat nomor urut sebagai Caleg DPR RI. Apapun pendapat atau opini orang, faktanya saya tiga kali mendapat kepercayaan dari Ibu Megawati Soekarnoputri," paparnya.

Selain eksistensinya sebagai politisi sekaligus pengusaha, Paryono juga dikenal sebagai seorang organisator yang kiprahnya pantas diperhitungkan. Lekat dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) Pemuda Pancasila sejak tahun 1996 hingga sekarang, ia dipercaya memegang posisi penting.

Tercatat, Paryono pernah menjabat sebagai Ketua PAC Pemuda Pancasila Kec. Ngargoyoso periode 1996 hingga 2000, Wakil Ketua MPC Pemuda Pancasila Karanganyar periode 2000 hingga 2005, Sekretaris MPC Pemuda Pancasila Karanganyar periode 2005 hingga 2009, Ketua MPC Pemuda Pancasila Karanganyar periode 2009 hingga 2019. Selanjutnya ia terpilih sebagai Sekretaris MPW Pemuda Pancasila Jateng di tahun 2018. Saat ini, Paryono menjabat sebagai Ketua MPN Pemuda Pancasila Bidang Sarana dan Prasarana.

Nama Paryono juga tertoreh pernah memegang jabatan sebagai Ketua PMI Kabupaten Karanganyar periode 2008 hingga 2013 dan Ketua PSSI Karanganyar periode 2010 hingga 2012. Perhatiannya terhadap bidang kepemudaan, juga membawa Paryono terpilih menjadi Wakil Ketua KNPI Jawa Tengah periode 2010 hingga 2014.

Dari biografi tentang dirinya, nama Paryono tercatat sebagai alumni S1 Fakultas Hukum Universitas Surakarta tahun 2005. Adapun jenjang S2 ditempuhnya di Fakultas Hukum Universitas Slamet Riyadi hingga lulus tahun 2007.

Selama berkiprah menjadi politisi, Paryono juga telah menerima sejumlah tanda penghargaan dari berbagai pihak. Di antaranya yaitu dinobatkan sebagai Wakil Bupati Termuda di tahun 2013, Tokoh Inspiratif Peduli di tahun 2017 dan Tim Monitoring Pilkada Serentak di tahun 2017 dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri). 

(Pewarta : Kacuk Legowo)

Berita Terkait