Bakal Jadi Tontonan Menarik, Virtual Event International Mask Festival 2020 Gaet Seniman dari 12 Negara

Selasa, 16/06/2020 - 11:43
Danang Pamungkas (salah satu pengisi acara yang akan tampil dalam virtual event International Mask Festival (IMF) 2020)
Danang Pamungkas (salah satu pengisi acara yang akan tampil dalam virtual event International Mask Festival (IMF) 2020)

Klikwarta.com, Solo - Perhelatan tahunan festival seni topeng berskala internasional, International Mask Festival (IMF) akan kembali digelar di Kota Solo, Jawa Tengah.

Dengan mengusung konsep pertunjukkan seni topeng dan pameran kerajinan topeng, IMF 2020 akan diselenggarakan secara virtual melalui tema “Face Mask of Global Society”.

Dipilihnya tema tersebut merujuk pada topeng sebagai salah satu penyalur nilai-nilai penting dalam kehidupan manusia, khususnya di Indonesia. Seperti diketahui, topeng adalah artefak seni yang sudah dikenal manusia sejak zaman prasejarah. Dengan usianya yang menembus batas, seni topeng telah mampu untuk ditempatkan menjadi sebuah karya yang agung dan sakral.

Berbekal dari peran masker sebagai pelindung diri bagi masyarakat, IMF membawa topeng bersama fungsi dan bentuknya untuk menunjukkan era baru dari dunia.

Pada perhelatan tahun ketujuh ini, IMF secara virtual akan mengenalkan topeng lebih mendalam kepada masyarakat dunia digital. Acara tersebut hadir sebagai wujud penggambaran perkembangan topeng klasik ke kontemporer melalui sebuah media baru.

b

(Direktur Solo International Performing Arts (SIPA), Dra. Irawati Kusumorasri saat konferensi pers persiapan virtual event International Mask Festival (IMF) 2020)

Melalui impian untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap seni topeng, kehadiran IMF diharapkan mampu memberikan edukasi tentang apresiasi seni bagi masyarakat, sekaligus sebagai sarana penjagaan nilai dari kehidupan seni yang merupakan bagian dari kehidupan budaya yang 
menjadi karakter bangsa.

IMF 2020 hadir dengan menggaet sejumlah seniman dari dalam negeri maupun mancanegara untuk menampilkan karya mereka lewat media dalam jaringan (daring), pada hari Jumat hingga Sabtu, 19 - 20 Juni 2020  pukul 17.00 - 21.00 WIB melalui platform Youtube, Instagram, dan Facebook SIPA Festival. Adapun Studio Lokananta, Jalan Achmad Yani 379A, Kerten, Laweyan, Solo menjadi tempat penyelenggaraan teknis virtual event ini.

Selama dua hari itu, Virtual Event IMF 2020 akan menampilkan pertunjukan topeng karya sederet seniman dan seniwati  dari berbagai kota dan provinsi di Indonesia seperti Solo, Semarang, Pati, Malang, Cirebon, Banyumas, Ponorogo, Yogyakarta, Pamekasan, Sukabumi, Bali, Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Sementara itu, delegasi dari luar negeri yang akan turut memeriahkan Virtual Event IMF 2020 yakni Malaysia, Zambia, Bhutan, Perancis, Korea, Belgia, Ecuador, Jepang, Singapura, New Zealand dan Inggris.

Virtual Event IMF 2020 ini gratis untuk disaksikan masyarakat secara luas. Penonton hanya perlu mem-follow dan menonton melalui media sosial di YouTube (SIPA Festival), IGTV (@internationalmaskfest), and Facebook (SIPA Festival).

c

Selain bisa mengikuti quiz selama acara, penonton IMF 2020 pun bisa berpartisipasi lewat chat box di setiap channel media social yang ada, maupun memberikan donasi kepada para artis IMF 2020 di Pojok Donasi.

Tak hanya seni pertunjukan topeng. Pada acara ini akan ditayangkan pula video dokumenter pembuatan topeng dari masyarakat lintas budaya beserta aplikasinya dalam seni tari. Ada pula cosplay berkostum topeng, lelang topeng kepada visitor, wawancara dengan pakar topeng, network dengan festival topeng di negara lain, profile museum topeng, tamu surprise hingga greeting dari organisasi topeng dunia IMACO.

Direktur Solo International Performing Arts (SIPA), Dra. Irawati Kusumorasri, saat menggelar konferensi pers, Senin (15/06/2020), di Sekretariat IMF 2020, Jalan Kedasih No. 22 Kerten, Laweyan, Solo menyampaikan, bahwa dengan dibuka untuk umum, gelora spirit seni topeng yang disajikan pada acara ini diharapkan dapat tersalurkan kepada masyarakat secara luas, selaras dengan maksud penyelenggaraan IMF 2020 itu sendiri.

"Salah satu tujuan IMF juga untuk memberi wadah teman - teman seniman untuk tetap berkarya dengan baik. Tentu saja ini memberi semangat kami untuk mendorong teman-teman seniman untuk terus berkarya menyongsong hadirnya new normal. Sesuatu era baru yang harus kita lakukan dengan pikiran yang positif dan penuh kreatifitas," terang Irawati kepada wartawan.

IMF 2020, lanjut Irawati, merupakan bukti dari semangat meningkatkan kecintaan dan pelestarian topeng sebagai salah satu warisan dunia. Dengan harapan, ruang pertemuan media baru visual ini dapat menjadi pemersatu. Sehingga sikap saling memahami budaya antar negara di dunia terwujud dengan indah melalui dialog budaya,
yakni keanekaragaman dan kekayaan topeng.

"Kami juga ingin IMF tetap eksis serta tidak mengecewakan para pecinta seni pertunjukan. Dan ini menjadi pengalaman baru buat kami serta kawan - kawan seniman. Semoga Event Virtual IMF 2020 ini bisa diterima oleh masyarakat secara luas hingga ke seluruh dunia. Dan ini justru semakin memperluas network kami, yang bisa menjadikan keharmonisan antar bangsa," tambahnya.

Melihat situasi dunia yang tengah dilanda pandemi Covid-19, IMF 2020 mulai beralih dari sebuah pagelaran menjadi acara virtual melalui pemberdayaan media baru. Perubahan dan penyesuaian masif yang mengiringi peralihan ini, menjadi tantangan tersendiri baik bagi penyelenggara maupun bagi seniman yang terlibat dalam IMF tahun ini. Meski demikian, komitmen untuk terus mampu menyajikan acara seni yang berkualitas selalu menjadi semangat utama dari penyelenggaran Virtual Event IMF 2020 ini.

"Virtual Event IMF 2020 ini menjadi pengalaman kami yang pertama dan kami akan betul - betul menyiapkan ini menjadi sesuatu yang mungkin nantinya akan berlangsung seterusnya," pungkas Irawati.

Adapun IMF 2020 diselenggarakan oleh Pemuda Indonesia Kreatif dan Semarak Candrakirana Art Center. Pemuda Indonesia Kreatif merupakan sekelompok mahasiswa dan alumni perguruan tinggi di Solo Raya, dimana sebagian besar dari mereka berasal dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

Sebagaimana diketahui, di bawah naungan SIPA Community, IMF diadakan setiap tahunnya di Kota Solo, Jawa Tengah. Acara ini, kali pertama dicetuskan oleh Dra. Irawati Kusumorasri dengan nama IIMF (Indonesia International Mask Festival), yakni pada tahun 2014. Namun selama beberapa tahun belakangan, IIMF berganti nama menjadi IMF seperti yang dikenal oleh masyarakat, khususnya Kota Solo hingga saat ini.

(Pewarta : Kacuk Legowo)

Related News

Loading...

pers

loading...