Dibalik Esensi dan Motorik Wisuda Taman Kanak-kanak

Selasa, 19/07/2022 - 18:33
Foto: theAsianparent

Foto: theAsianparent

Oleh : Melan Eka Lisnawati/Politeknik Negeri Jakarta

Suatu hari saya dikagetkan, melalui perbincangan hangat di kelas tentang materi perkuliahan yang disampaikan oleh seorang dosen di Politeknik Negeri Jakarta. mengingatkan akan dulu saat masa pelepasan sekolah taman kanak-kanak atau TK ternyata saya pernah mengalami di wisuda menggunakan toga.

Well, acara seperti ini dianggap biasa bahkan lumrah terjadi. Seakan lupa wisuda erat kaitannya dengan kesakralan setelah melewati proses panjang yang menyita pikiran dan tenaga, serta perjalanan untuk menempuh tugas akhir dan skripsi yang selalu dibumbui berbagai macam drama. 

Sayangnya, makna wisuda saat ini tergeser dengan melihat salah satu lembaga anak-anak banyak menyelenggarakan perpisahan bak orang lulus kuliah. Lengkap dengan toga, dandanan, dan tak lupa prosesi pemidahan kucir tali toga dari kiri ke kanan.

Menurut psikolog pengamat pendidikan Bondhan Kresna, wisuda bagi anak PAUD atau TK tidak ada dampak secara psikologis. Lalu bila tidak ada dampaknya, maka akan seperti apabila esensi dibalik wisuda dipakai oleh ranah yang seharusnya belum sampai ke sana.

Esensi dibalik makna wisuda

Wisuda adalah proses akhir dalam rangkaian kegiatan akademik pada sebuah perguruan tinggi. Wisuda juga merupakan tanda pengukuhan atas selesainya studi dan diadakan prosesi pelantikan melalui rapat senat terbuka. Menurut literatur sejarah, wisuda dibawa oleh orang-orang Eropa khususnya bangsa Romawi yang mengawalinya.

Pakai tebal yang di pakai oleh Eropa ini sekarang dikenal dengan toga. Saat ini toga identik dengan warna hitam yang memberikan simbol misteri kegelapan yang telah dikalahkan oleh para wisudawan di bangku kuliah. Artinya, ilmu yang diterima dapat diresapi serta tersimpan keagungan sebagai bentuk apresiasi atas kerja kerasnya.

Topi toga yang disematkan melambangkan para wisudawan mampu berpikir rasional dengan melihat dari berbagai sudut pandang. Sehingga tahap kehidupan selanjutnya akan dijalani dengan sudut pandang dan pemikiran yang lebih luas lagi.

Sedangkan penyematan kuncir pita dari kiri ke kanan yang bermakna bahwa ketika lulus nanti para wisudawan mampu berkembang, berinovasi, dan berimajinasi. Untuk itu, bila wisuda sudah dipakai seremonialnya oleh lembaga kanak-kanak. Maka esensi yang sakral akan terasa hambar ketika kegiatan itu sering bahkan berulang kali pernah dilakukan manusia.

Fokuskan untuk motorik Anak

Dikutip dari Kompas.com Henny Prasetio dari Principal Sunshine Montessori Preschool, Jakarta mengatakan, pertanyaan tentang perlu atau tidaknya wisuda untuk anak TK sudah muncul lama. Mengingat hal tersebut tergantung kebiasaan dari tiap sekolah dalam merayakan kelulusan anak didiknya.

Terlepas dari acara seremonial wisuda, taman kanak-kanak selalu menyuguhkan pentas seni dan unjuk bakat di acara akhir tahun ajaran seperti di acara wisuda ini. Dari kelas paling kecil hingga yang akan memasuki jenjang Sekolah Dasar pasti menampilkan pertunjukan seperti tarian, nyanyi, drama, puisi, hingga yang lainnya.

"Acara ini biasanya dihadiri oleh orang tua peserta didik, sehingga mereka dapat mengetahui perkembangan yang sangat pesat dari sisi motorik, kematangan sosial emosional dan kognitif anak-anaknya," cerita Henny dikutip dari Kompas.com

Namun, perkembangan motorik anak di taman kanak-kanak bisa dilakukan dengan cara lain tanpa mendegradasi label wisuda yang absah dilakukan oleh setiap perguruan tinggi. Caranya, dengan menerapkan perkembangan motorik anak di setiap pembelajaran.

Mengembangkan motorik anak juga bisa dengan perlombaan atau pertemuan bersama para taman kanak-kanak di lingkungan sekitar atau dari luar. Bahkan, setelah nanti pelonggaran Covid-19 peserta didik di taman kanak-kanak bisa diajak untuk pengenalan ke alam atau tempat-tempat penting untuk meningkatkan ingatan dalam motoriknya.

Peningkatan motorik anak juga bisa mendorong rasa empati kepada sesama. Lantas, acara wisuda dengan berbagai alat dan teknis yang memerlukan biaya bisa dikemas dengan acara pentas seni atau kunjungan ke rumah-rumah dhuafa atau yatim piatu. (*)

Berita Terkait