Cak Hari pemerhati budaya (kiri) saat penelusuran
Klikwarta.com, MALANG - Konon, punden yang berlokasi di Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, dulunya adalah bangunan di masa lampau. Entah kenapa, bangunan tersebut tenggelam ke dalam dasar tanah, dan hanya menampakkan bebatuan andesit tak berwujud apapun di permukaannya.
Cak Hari, pemerhati budaya dan Kang Juari, sesepuh desa setempat, bersama Mbah Tarmuji, warga RT 27 RW 08, Dusun Lebo, Desa Madiredo, melakukan penelusuran seputar misteri, sekaligus mitos yang berkembang di tengah masyarakat, jumat (05/03/2021)
Punden yang dinamakan "Mbah Sumodiharjo" atau disebut "Pangeran Samber Nyowo" oleh warga setempat, lokasinya tidak jauh dari jalan pedesaan, hanya sekitar 100 meter jaraknya. Berada di tengah areal pertanian berpermukaan miring yang didominasi tanaman holtikultura, punden tersebut terlihat mencolok, lantaran satu-satunya bangunan bertembok permanen.
Disekitar punden, terlihat beberapa bebatuan andesit berceceran, dan bentuknya rata-rata pipih dengan ketebalan sekitar 16 hingga 19 cm, sedangkan kelebaran sekitar 42 hingga 63 cm. Diantara bebatuan tersebut, ada 1 batu terlihat ada 2 lubang dengan kedalaman sekitar 8 hingga 9 cm.
Menurut Tarmuji, batu berlubang 2 ini, adalah batu dakon, dan dulunya pernah dijadikan tempat meramu obat-obatan. Batu ini terkoneksi dengan batu berbentuk lumpang dengan lebar 28 cm dan kedalaman 19 cm. Kedua batu itu, sama-sama digunakan untuk membuat ramuan obat di masa lalu.
Terkait sebutan "Gedong Silem", konon dulunya adalah bangunan permanen berbahan dasar bebatuan, kemudian tenggelam atau terpendam kedalam tanah. Tenggelamnya bangunan itu disebabkan apa, dan karena apa, berbagai versi tersebar di tengah masyarakat.
Yang jelas, bangunan yang bisa dilihat saat ini tidak ada, alias tanpa wujud, sedangkan bebatuan yang terlihat di atas permukaan tanah, hanyalah batu andesit berbentuk pipih yang tercecer disekitarnya.
Namun, dikatakan Tarmuji, bagi kacamata supranatural, bangunan itu bisa dilihat wujudnya, bagi mereka yang memiliki kelebihan, dalam artian indera keenam. Tidak cuma bangunan, berbagai wujud sosok yang bisa dikatakan masuk kategori "astral", bisa dilihat.
"Yang bisa melihat ada bangunan disini hanya orang-orang tertentu. Bangunannya berukuran besar. Tapi, gambarannya seperti apa, saya kurang tahu".
Lanjut Tarmuji, bagi siapa saja yang hendak berkunjung ke lokasi tersebut, dipersilahkan tanpa ada batasan apapun, tetapi tetap berpegang pada konsep etika, dalam artian berperilaku sewajarnya, dan tidak mengambil benda apapun di sekitar punden.
"Dulu pernah ada yang mengambil batu disini, batunya di bawa pulang, tak lama dia mengembalikannya lagi, katanya setiap hari dia diganggu sesuatu yang tak kasat mata".
Selain itu, bebatuan kuno diketahui ada di sekitar areal pemakaman umum, yang lokasinya hanya berjarak 100 meter dari punden tersebut. Di areal pemakaman itulah, warga setempat menyebutnya kawasan candi, walaupun fakta di lapangan, tidak ada wujud atau bangunan yang mengarahnya.
Dijelaskan Tarmuji, dulunya banyak bebatuan serupa ada di sekitar areal pemakaman, dan sebagian warga meyakini bahwa tempat itu dulunya adalah candi.
Rata-rata bebatuan di areal pemakaman berbentuk besar, memanjang dan pipih, serta terbuat dari andesit. Tetapi tumpukan 5 batu maupun 4 batu yang diletakkan berdiri, tidak menunjukkan tanda-tanda perwujudan candi. (dodik)








