Gedung Kesenian Jakarta: Bangunan Tua Peninggalan Belanda

Rabu, 09/11/2022 - 19:04
Ilustrasi Gedung Kesenian Jakarta. Foto : Pexels.com
Ilustrasi Gedung Kesenian Jakarta. Foto : Pexels.com

Klikwarta.com - Pada zaman kolonial Belanda, Gedung Kesenian Jakarta awalnya bernama Theater Schouwburg Weltevreden. Sedangkan pada zaman pendudukan Jepang bernama Sin'tsu Cekizyoo, atau dikenal sebagai Gedung Komedi. Namun saat ini bangunan tersebut lebih dikenal dengan nama Gedung Kesenian Jakarta atau biasa disingkat GKJ.

Seorang arsitektur bernama Jeni VOC dan Mayor Schultze,  membangun GKJ dengan model neo-renaisans. Namun sebelum GKJ dibangun, lahan tersebut merupakan gedung Teater Militer Weltevreden yang dibangun oleh Gubernur Jendral Belanda Daendels. Kemudian direalisasikan oleh Gubernur Jendral Inggris, Thomas Stamford Raffles bersama sekelompok tentara Inggris.

Keberadaan gedung kesenian saat itu mampu meningkatkan apresiasi masyarakat akan seni pertunjukkan seperti opera, music klasik, tari dan nyanyi, serta sirkus dan sulap. Kebanyakan pertunjukkan diselenggarakan oleh grup orang kulit putih. Rombongan sandiwara pimpinan Louis Bouwmeester, grup pimpinan Von de Wall atau Victor Ido, Jan Fabricius, dan Louis Couperus pernah mengadakan pergelaran di gedung ini.

Selain menjadi tempat pementasan (teater) bangunan tersebut pernah digunakan untuk Kongres Pemoeda yang pertama. Serta pada masa Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno digunakan sebagai tempat meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Bangunan tua namun masih terlihat menawan itu berada di hiruk-pikuk keramaian pusat Jakarta, serta memiliki tempat-tempat yang bersejarah disekitarnya. Misalnya Pasar Baroe, Posbloc, Masjid Istiqlal, Katedral, Museum Taman Prasati, dan masih banyak lagi.

Meski sempat menjadi biskop, namun pemerintah kembali merubah fungsi bangunan tersebut menjadi Gedung Kesenian berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu kota Jakarta. Bangunan gedung yang terlihat simple namun elegan itu dapat dijangkau dengan mudah menggunakan transportasi umum seperti komuterline, transjakarta, jaklinko, dan sebagainya. 

Penulis: Indah mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta Program Studi Penerbitan (Jurnalistik)

Tags

Related News