Satu Sambutan Lembut, Menghancurkan Seribu Alasan Lalai

Selasa, 20/05/2025 - 21:33
Tangkapan layar suasana perkuliahan daring melalui Google Meet

Tangkapan layar suasana perkuliahan daring melalui Google Meet

Oleh : Yovita Arnelia Putri Rismanto

Klikwarta.com - Pukul 14.30 siang. Aku menatap layar ponsel dengan malas. Jadwal kuliah bersama Pak Zaenal seharusnya dimulai pukul 13.00 dan berakhir pukul 15.00. Tapi entah mengapa, hari itu aku merasa terlalu berat untuk ikut dari awal. Toh, tinggal tiga puluh menit lagi selesai. Apa gunanya bergabung sekarang? Aku hanya perlu absen di akhir, bukan?

Dengan langkah santai, aku membuka aplikasi Google Meet dan klik bergabung. Seperti dugaanku, kelas sudah sunyi. Beberapa kotak kamera mati berjejer rapi. Hanya wajah Pak Zaenal yang tampak, masih menjelaskan sesuatu dengan tenang.

Aku masuk tanpa suara, tanpa kamera. Namaku muncul di antara para peserta lain yang barangkali juga hanya login tanpa benar-benar hadir. Aku berharap tidak dipanggil, tidak disapa, dan tidak diperhatikan.

Namun harapanku pupus begitu Pak Zaenal menyebut namaku. “Ah, saudari Yovita baru masuk ya?” suaranya lembut, tanpa nada menghakimi.

Aku panik sejenak. Haruskah aku  menjawab? Tapi kemudian aku nekat menyalakan mikrofon. “Iya, Pak… maaf, baru bisa bergabung.”

Yang aku khawatirkan tidak terjadi. Tak ada teguran keras, tak ada sindiran. Beliau justru menjawab dengan senyum, “Tidak apa-apa. Selamat datang. Silakan disimak, kita masih bahas poin terakhir soal metode penelitian kuantitatif.”

Aku terdiam. Hatiku mendadak berat. Bukan karena materi yang berat, tapi karena sikap beliau. Aku datang dengan niat menghindar, mengulur waktu, bahkan mungkin mengakali sistem. Tapi yang aku temui justru seorang dosen yang tetap membukakan pintu. Bahkan ketika aku datang saat pintu itu hampir tertutup.

Beliau tidak mempermalukanku. Beliau tidak bertanya kenapa aku terlambat. Tapi justru dari ketenangan itulah aku merasa dihantam oleh rasa bersalah. Tidak ada yang memaksaku untuk datang tepat waktu, tidak ada sanksi tertulis untuk keterlambatan di kelas daring. Tapi di sinilah letak ujiannya: apakah aku masih mampu menjaga integritas saat tidak ada yang melihat?

Kuliah online memberi banyak celah untuk bersembunyi. Kita bisa hadir tanpa benar-benar hadir, bisa terlambat tanpa ditegur, bahkan bisa tidak ikut sama sekali tanpa terdeteksi. Tapi pengalaman hari itu membuatku sadar, justru dalam kebebasan itulah budi pekerti diuji.

Pak Zaenal tidak pernah menyuruh kami menyalakan kamera. Tapi beliau selalu hadir sepenuhnya, memberikan yang terbaik di balik layar. Dan seharusnya, kami pun belajar untuk melakukan hal yang sama. Tidak demi nilai, bukan demi absen, tapi karena menghargai.

Karena ternyata, budi pekerti bukan sekadar sopan santun yang terlihat. Ia tumbuh dalam kesadaran: bahwa ketulusan dosen tidak seharusnya dibalas dengan kemalasan mahasiswa.

Hari itu, aku menyalakan kamera di menit terakhir. Bukan untuk menunjukkan wajah, tapi untuk menunjukkan niat. “Terima kasih, Pak,” ucapku di akhir sesi.

Dan beliau menjawab, seperti biasa, dengan senyum tulusnya:

“Terima kasih juga, sudah hadir.”

Tags

Berita Terkait