Silaturahmi Ikatan Pemuda Jawa Bengkulu (IPJB) Kamis malam (27/09).
Klikwarta.com - Seiring kemajuan zaman, dengan pesatnya kemajuan teknologi seperti saat ini, tak dipungkiri banyak yang mengesampingkan silaturahmi dengan bertatap muka secara langsung. Pasalnya, kebanyakan orang saat ini berinteraksi hanya lewat media sosial.
Melihat hal tersebut, Ikatan Pemuda Jawa Bengkulu (IPJB) kembali membangun semangat kebersamaan dan kerukunan melalui silaturahmi. Ini dilakukan agar setiap generasi nantinya akan lebih guyup rukun dan bertegur sapa saat bertemu.
"Dampak dari kemajuan teknologi saat ini jelas kita rasakan, yakni kurangnya kesempatan banyak orang untuk saling bertemu. Untuk itu, kita (IPJB) akan terus mempertahankan tradisi yang sudah ada sejak dulu ini guyub rukun dengan bersilaturahmi, bertegur sapa dan saling mengenal satu sama lain", ujar Muksinin salah satu pendiri IPJB, saat menggelar silaturahmi Kamis malam (27/09).
Dalam hal ini, Muksinin mengajak semua pemuda untuk bersatu membangun kembali kebersamaan dan kerukunan. "Mahasiswa maupun yang lainnya, mari meningkatkan tali silaturahmi. Kita (IPJB) juga terbuka bagi pemuda yang bukan dari Jawa untuk bersama-sama menjalin silaturahmi", tambahnya.
Senada disampaikan, Siska, bahwa silaturahmi sangat penting untuk dipertahankan disemua kalangan. "Kita semua penting bersilaturahmi, kedepan IPJB akan mengagendakan untuk bersilaturahmi dengan berbagai kalangan di Bengkulu ini. Mungkin kita akan mengadakan kegiatan ngopi bareng sambil ngobrol santai. Tentunya juga akan membahas berbagai kegiatan-kegiatan, seperti bakti sosial", katanya.
Mengutip dari Kompasiana.com, kenapa silaturahmi penting? Karena dengan meninggalkan silaturahmi, akan banyak hal yang hilang. Tidak ada dialog, tidak ada bertatap muka, dan hilangnya kepedulian antar sesama. Komunikasi yang terjadi dalam silaturahmi, umumnya secara dua arah. Dan dalam komunikasi dua arah ini akan terbangun dialog yang membangun. Jika semua ini hilang, masyarakat cenderung menjadi pasif dan bisa berpotensi dimasuki radikalisme dan terorisme. Paham kekerasan dengan mengatasnamakan agama ini, sudah menjadi ancaman bersama oleh semua orang di semua negara.
Radikalisme umumnya masuk dalam komunikasi yang satu arah. Orang yang pasif, orang yang tidak open mind, dan orang yang tertutup umumnya mudah dipengaruhi oleh paham radikalisme. Dan untuk meredam itu, makanya sering-seringlah bertemu dengan banyak orang agar pemikiran kita menjadi terbuka. Sering-seringlah berinteraksi dengan banyak orang, agar kita tidak tertutup dan merasa benar sendiri. Dengan sering melakukan dialog, kita dituntut untuk saling mengerti dan memahami keberagaman. Dan jika semua itu terjadi, tentu radikalisme dan terorisme akan sulit mempengaruhi pemikiran generasi muda yang saat ini banyak menjadi korban. (*)








