Empat Mahasiswa sedang belajar bersama (Ilustrasi: Grace)
Oleh : Hasna Khalishta Afza
Klikwarta.com - Suara ketikan laptop bercampur dengan dering notifikasi WhatsApp menjadi latar belakang di salah satu sudut lobi Gedung TGP. Beberapa mahasiswa tampak sibuk menyelesaikan tugas, yang lain asyik membuat konten TikTok dengan tripod kecil berdiri di antara kotak-kotak meja lobi.
Di tengah lalu lalang yang akrab dengan budaya digital itu, seorang dosen berjalan melintas. Ia sempat menunduk menyapa dua mahasiswa yang sedang duduk. Salah satunya, mungkin terlalu fokus pada layar, hanya membalas dengan lirikan singkat. Sebagian mungkin menganggap hal itu biasa. Tapi saya merasa, ada budi pekerti yang perlahan hilang dari kampus
Di PNJ, kita semua terbiasa dengan dunia yang serba cepat. Tugas datang bertubi-tubi, jadwal rapat organisasi bersambung, dan konten media sosial kampus bersliweran setiap hari. Tapi justru di tengah keramaian itu, muncul ruang kosong untuk sekadar menyapa, mendengarkan, atau meminta izin dengan tulus.
“Saya pernah masuk kelas, mahasiswa malah tetap fokus main game,” cerita Bu Intan, seorang dosen yang sedang mengisi materi mata kuliah umum. “Saya tahu mereka capek, tapi kadang lupa, sopan santun itu tetap penting.”
Saya tak menulis ini untuk menghakimi. Saya juga mahasiswa. Saya tahu bagaimana sibuknya satu hari di PNJ: dari kelas pagi hingga rapat UKM malam. Tapi saya juga pernah merasakan bedanya: ketika satu senyum tulus dari satpam kampus bisa membuat hari lebih ringan, ketika ucapan terima kasih dari dosen membuat kita merasa dihargai.
Budi pekerti memang tidak sekaku zaman dulu. Ia tak melulu soal menunduk sopan atau bicara pelan. Di era digital, nilai-nilai itu bisa hadir dalam bentuk baru: tidak memotong pembicaraan di Zoom, tidak menyebarkan gosip lewat grup kelas, atau cukup menanggapi ajakan kerja kelompok dengan jawaban yang ramah.
Di kampus, saya pernah ikut kelas yang dosennya meminta kami menulis jurnal refleksi etika digital. Teman saya, Rehan, menulis tentang bagaimana ia sadar bahwa menolak ajakan kerja kelompok tanpa alasan yang jelas bisa menyakiti perasaan orang lain. “Kadang kita terlalu sibuk sendiri, sampai lupa bahwa komunikasi itu juga soal menghargai,” tulisnya.
Budi pekerti di dunia digital bukan perkara sepele. Ia hidup di antara ketikan caption, balasan chat, hingga ekspresi wajah saat presentasi. Dan semua itu bisa jadi cermin bagaimana karakter kita terbentuk.
Di PNJ, tempat yang penuh kreativitas dan energi anak muda, budi pekerti tidak harus diajarkan lewat ceramah panjang. Ia bisa tumbuh dari hal-hal kecil. Dari cara kita antre di koperasi kampus, cara kita menjaga kebersihan toilet, sampai bagaimana kita memberi jalan pada orang lain yang sedang buru-buru.
Saya pernah melihat seorang mahasiswa rela menunda masuk lift karena melihat seorang ibu-ibu staf kampus membawa tumpukan berkas. Hal yang sederhana, tapi membekas. Dan itu bukan tugas mata kuliah. Itu hasil dari karakter.
“Budi pekerti itu bukan soal pelajaran. Itu soal pilihan,” kata Pak Fauzy, salah satu Dosen TGP yang sudah bekerja lebih dari satu dekade di PNJ. “Mau jadi pintar, silakan. Tapi jadi baik, itu perlu kesadaran.”
Karakter bukan hanya milik masa SD. Di kampus, kita sedang dibentuk menjadi profesional masa depan. Tapi sehebat apa pun keahlian kita, jika tidak dibarengi empati, ketulusan, dan etika, kita hanya akan jadi manusia yang pandai, tapi tak benar-benar hadir untuk sesama.
Menanam budi pekerti di era digital bukan hal yang kuno. Justru di tengah teknologi yang sering membuat kita terasing, nilai-nilai itu menjadi jembatan untuk kembali menjadi manusia seutuhnya.
Di PNJ, kita belajar banyak hal: teknik, ekonomi, desain, hingga jurnalistik. Tapi semoga di antara semua itu, kita juga belajar bagaimana menjadi manusia yang tahu cara menghargai, memahami, dan saling menjaga.








