KMNU UNAIR Dorong Revitalisasi Aswaja An-Nahdliyah

Sabtu, 12/09/2026 - 22:51
Dr M Atoillah Isfandiari

Dr M Atoillah Isfandiari

Klikwarta.com, Surabaya - Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Airlangga (KMNU UNAIR) menjadikan Daurah X Harlah KMNU UNAIR 2026 sebagai momentum untuk membicarakan kembali keberlanjutan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah di lingkungan perguruan tinggi, terutama di tengah perubahan karakter generasi mahasiswa.

Kegiatan yang mengusung tema “Membangkitkan Gairah Ke-NU-an” atau Ghirah Nahdliyah tersebut berlangsung di Ruang Utama Masjid Ulul Albab, Kampus A Universitas Airlangga, Surabaya, Sabtu (12/9/2026) malam.

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan PCNU Surabaya, ISNU Airlangga, PMII, serta sejumlah unsur lainnya termasuk salah satu pendiri KMNU UNAIR, Bustomi, S.Hub.Int., M.IP. Selain menjadi bagian dari rangkaian Harlah KMNU UNAIR, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi dan refleksi mengenai tantangan kaderisasi serta penguatan Aswaja An-Nahdliyah di lingkungan kampus.

Pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Dr. M. Atoillah Isfandiari, dr., M.Kes., yang akrab disapa Dokter Atok. Ia juga menjabat sebagai Wakil Dekan II Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR.

.

Dokter Atok menilai terdapat persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam hubungan antara generasi dosen dan mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa saat ini merupakan bagian dari Generasi Z yang tumbuh dalam lingkungan sosial, teknologi, dan budaya yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

“Sekarang gap antar generasi itu luar biasa. Antara kami yang dosen dan mahasiswa yang mayoritas adalah Gen Z,” tuturnya.

Menurut Dokter Atok, kondisi tersebut menuntut adanya upaya revitalisasi. Penguatan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dan semangat ke-NU-an di kampus perlu terus menemukan bentuk yang relevan bagi generasi mahasiswa saat ini.

“Saya mau bahas lebih ke semangat revitalisasi,” katanya.

Hal tersebut dinilai penting karena Universitas Airlangga memiliki sekitar 25.000 mahasiswa program sarjana. Jumlah tersebut membuat lingkungan kampus menjadi ruang strategis bagi proses kaderisasi dan pengembangan nilai-nilai keislaman serta kebangsaan di kalangan generasi muda.

Dalam konteks itu, KMNU UNAIR diharapkan tidak hanya menjadi wadah berhimpun mahasiswa Nahdliyin. Organisasi tersebut juga diharapkan mampu mengambil peran sebagai “agent of change” NU di kampus Airlangga.

Dokter Atok juga melihat perkembangan keberadaan KMNU di Masjid Ulul Albab sebagai sesuatu yang positif. Masjid tersebut menjadi lokasi pelaksanaan Daurah X Harlah KMNU UNAIR 2026.

“Masjid Ulul Albab sekarang berarti sudah terwarnai KMNU. Ini bagus,” ujarnya.

Menurut dia, perkembangan tersebut menarik jika dibandingkan dengan pengalamannya ketika masih menjadi mahasiswa. “Saya sejak kuliah 1995 tidak pernah masuk radar. Ini menarik,” katanya.

Keberadaan KMNU di Masjid Ulul Albab diharapkan dapat menjadi ruang yang lebih luas untuk pembinaan mahasiswa, penguatan tradisi keilmuan, serta pengembangan Aswaja An-Nahdliyah di lingkungan akademik.

Dalam forum tersebut, Dokter Atok juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan generasi muda Nahdliyin dengan tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama pendiri Nahdlatul Ulama.

Ia mengatakan, siapa pun yang berada dalam lingkungan NU pada hakikatnya merupakan bagian dari mata rantai keilmuan para ulama, termasuk KH Hasyim Asy’ari sebagai salah satu muassis Nahdlatul Ulama.

“kita semua adalah santrinya Mbah Hasyim. Dan mudah-mudahan mendapatkan barokah Masyayikh,” ujarnya.

Dokter Atok menyampaikan pernyataan tersebut dengan kerendahan hati. Ia mengaku sebenarnya merasa sungkan karena dirinya pun masih membutuhkan mauidoh hasanah dari para guru.

“Saya agak sungkan karena pada dasarnya saya sendiri butuh dapat mau'idoh hasanah. Ini kok malah ngasi,” katanya.

Ia juga menegaskan sikapnya untuk tetap menghormati para guru yang hadir dalam kegiatan tersebut.

“Kapasitas ilmu saya biasa. Maka izinkan saya di bawah. Ga berani duduk di atas. Kurang adab nantinya pada para guru saya yang hadir,” ujar Dokter Atok.

Pesan mengenai hubungan dengan para muassis NU juga disampaikan Dewan Pembina KMNU UNAIR, Ahmad Syauqi, S.Hum., M.Si. Menurut dia, jabatan dan posisi seseorang dalam berbagai lembaga NU pada akhirnya harus ditempatkan sebagai bentuk pengabdian atau khidmah.

“kita semua apapun latar jabatan kita di semua lembaga NU adalah "khadim" Mbah Hasyim Asy'ari dan muassis NU,” kata Ahmad Syauqi.

Menurut Ahmad Syauqi, cara pandang tersebut penting untuk menjaga agar jabatan di lingkungan NU tidak dipahami semata-mata sebagai kedudukan struktural. Setiap posisi mengandung amanah untuk meneruskan perjuangan dan nilai yang diwariskan para pendiri NU.

Daurah X Harlah KMNU UNAIR 2026 karena itu diharapkan menjadi lebih dari sekadar kegiatan peringatan hari lahir organisasi. Momentum tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses mempertemukan pengalaman generasi sebelumnya dengan karakter dan energi mahasiswa generasi baru.

Bagi KMNU UNAIR, tantangannya adalah bagaimana menjaga kesinambungan tradisi Aswaja An-Nahdliyah sekaligus membuatnya tetap relevan bagi mahasiswa yang hidup dalam lingkungan akademik dan sosial yang terus berubah.

Dokter Atok berharap kegiatan yang berlangsung di Masjid Ulul Albab tersebut dapat menjadi awal dari proses revitalisasi yang lebih berkelanjutan di Universitas Airlangga.

“Semoga dengan Daurah KMNU dan Harlah di Masjid Ulul Albab jadi tonggak semangat revitalisasi Aswaja An-Nahdliyah ke depannya di UNAIR,” pungkasnya.

Kegiatan Daurah X Harlah KMNU Unair 2026 yang merupakan rangkaian momen Harlah ke-11 ini, menempatkan isu regenerasi sebagai bagian penting dari pembicaraan tentang masa depan Aswaja An-Nahdliyah di kampus. Di tengah jarak antar generasi yang semakin terasa, upaya membangun dialog dan kesinambungan tradisi menjadi pekerjaan bersama agar nilai-nilai yang diwariskan para muassis NU tetap memiliki ruang dalam kehidupan generasi muda.

(Kontributor : Arif)

Berita Terkait