Kupas Budaya di Padepokan Sri Gading Purworejo Malang

Rabu, 17/03/2021 - 11:02
Cak Heri saat bersama Pandu Prayitno
Cak Heri saat bersama Pandu Prayitno

Klikwarta.com, MALANG - Padepokan yang berada di Dusun Binangsri, Desa Purworejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, menjadi tempat rutin bagi anggota Paguyuban "Dharma Bhakti" yang berdomisili di Ngantang. 

Padepokan "Sri Gading" yang diketuai Pandu Prayitno, secara rutin tiap Jumat Legi mengadakan tradisi Macapatan. Nama Sri Gading sendiri disematkan berdasarkan historis setempat, dalam artian memiliki riwayat yang melatarbelakangi berdirinya bangunan tersebut.

Sebagaimana dijelaskan sesepuh setempat, Rianto atau akrab disapa Mbah To, tradisi Macapatan tidak lepas upaya Paguyuban Dharma Bhakti melestarikan tradisi, sekaligus memelihara nilai-nilai luhur dari para leluhur.

Tak cuma Macapatan saja, kelompok seni Campursari "Sekar Gading" pimpinan Mulyono atau akrab disapa Mbah Mul, eksis menjaga keharmonisan budaya lokal yang dipadukan tembang bergenre Jawa.

Cak Hari, pemerhati budaya, menelusuri eksistensi Padepokan Sri Gading yang sudah berdiri sejak tahun 2019 lalu, dan anggotanya diperkirakan sudah mencapai 160 orang. Kamis (16/3/2021)

Dikatakan Mbah To, Padepokan Sri Gading membuka pintu lebar-lebar kepada siapa saja yang ingin bergabung atau hanya sekedar melihat aktifitas rutin Macapatan maupun Campursari. 

Ia menegaskan, Padepokan Sri Gading sama sekali tidak terafiliasi dengan agama atau kepercayaan, karena semua kegiatannya berlatarbelakang seni dan budaya.

"Siapa saja bebas masuk di padepokan ini, mau gabung silahkan, mau melihat silahkan, kita tidak membatasi apapun. Kegiatan kita tidak ada hubungannya dengan agama, jadi apapun latarbelakang agamanya bisa bergabung".

Macapatan secara rutin diadakan tiap Jumat Legi, dalam pelaksanaannya sendiri, seluruh anggota datang berdasarkan kesadaran masing-masing. Pada saat Macapatan, ketenangan dan konsentrasi dibutuhkan, agar makna maupun nilai-nilai budi pekerti bisa dipahami.

"Kita disini arahnya ke seni budaya, kalau bukan kita sendiri yang melestarikannya, di masa depan kita digeser seni budaya asing yang belum tentu cocok dengan adat kita".

Terkait cerita turun temurun asal mula Dusun Binangsri yang berkembang di tengah masyarakat, Mbah To menjelaskannya kepada Cak Hari. Dari awal mula penamaan yang terkorelasi dengan "Sri" atau padi, hingga nama Binangsri yang berhubungan erat dengan kata bina.

Mbah To berpesan, apapun sukunya, hargailah dan hormatilah budaya daerah setempat, hal itu awal dari upaya melestarikan dan mengembangkan budaya, agar tidak terlindas budaya asing, yang besar kemungkinan tidak sesuai dengan adat istiadat turun temurun. (dodik)

Related News