Foto Ilustrasi
Klikwarta.com, Depok - Di tengah hiruk-pikuk suasana Idulfitri, ketika sebagian besar orang menikmati libur panjang bersama keluarga, para pelaku usaha laundry justru sibuk berjibaku dengan tumpukan pakaian kotor. Momen lebaran menjadi berkah tersendiri bagi bisnis pencucian pakaian ini. Meski tarif jasa dinaikkan hingga 100 persen, permintaan justru meningkat tajam—bahkan melebihi kapasitas layanan harian.
Fenomena ini dialami oleh Arif Kurniawan, pemilik laundry "Bersih Ceria" di kawasan Depok. Sejak H-3 lebaran hingga H+4, order mencuci yang masuk melonjak drastis. Dari biasanya 80 kilogram per hari, kini tembus hingga 200 kilogram. Karyawan yang tersisa pun kewalahan. Sebab, sebagian besar dari mereka sudah pulang kampung, menyisakan dua orang tenaga operasional dan dirinya sendiri.
“Kami terpaksa menaikkan tarif dua kali lipat, dari Rp7.000 menjadi Rp14.000 per kilogram. Tapi anehnya, pelanggan tetap antre. Bahkan ada yang rela ditunggu dua hari hanya untuk cuci kilat,” ungkap Arif sambil memeriksa jadwal pengambilan pakaian.
Kenaikan tarif ini bukan tanpa alasan. Selain untuk menyesuaikan beban kerja dan jam operasional yang diperpanjang, harga bahan baku seperti deterjen, pewangi, dan listrik juga meningkat selama masa libur panjang. Belum lagi, mereka harus membayar lembur untuk karyawan yang tetap bekerja di hari libur.
“Kalau tidak dinaikkan, kami malah rugi. Tapi kami tetap jaga kualitas—pakaian tetap bersih, harum, dan disetrika rapi. Itu yang bikin pelanggan loyal,” tambahnya.
Tak hanya di kota besar, fenomena serupa terjadi di kota-kota kecil hingga pinggiran desa. Masyarakat yang tidak memiliki asisten rumah tangga, atau ditinggal pembantu mudik, memilih jasa laundry untuk mengurus cucian menumpuk selama momen lebaran. Kebutuhan akan pakaian bersih dan rapi menjadi sangat penting, terutama saat harus menghadiri acara silaturahmi, open house, hingga halal bi halal.
“Pakaian saya dan anak-anak menumpuk. Tiap hari ganti karena banyak acara keluarga. Karena tidak sanggup nyuci sendiri, saya titip laundry meski tarifnya mahal. Toh, ini cuma setahun sekali,” ujar Rini, ibu dua anak asal Tangerang.
Sebagian pemilik laundry bahkan menerapkan sistem kuota harian dan prioritas untuk pelanggan lama. Ada juga yang menolak order setrika saja dan fokus pada paket lengkap cuci-setrika agar proses lebih efisien.
“Kami sampai tolak pelanggan baru. Kapasitas penuh. Daripada tidak maksimal hasilnya, lebih baik dibatasi,” ujar Lina, pemilik laundry di Semarang.
Menurut pengamat UMKM, Dr. Rika Hanum, fenomena lonjakan order laundry di masa lebaran mencerminkan dua hal penting: meningkatnya kebutuhan praktis masyarakat urban dan keterbatasan SDM domestik saat hari raya. Lonjakan ini bisa menjadi peluang besar jika pelaku usaha mampu mengantisipasi lonjakan secara sistematis—baik dari sisi operasional, stok bahan, maupun layanan pelanggan.
“Tarif naik itu wajar. Yang penting tetap transparan, kualitas dijaga, dan layanan tetap ramah. Justru ini momen bangun loyalitas jangka panjang,” jelas Rika. Sabtu (5/4)
Dengan peningkatan tarif hingga 100 persen, banyak pelaku laundry meraup omzet dua hingga tiga kali lipat dari hari biasa. Beberapa bahkan mengakui bisa menutup seluruh biaya operasional satu bulan hanya dalam seminggu musim lebaran.
Meski melelahkan dan penuh tekanan, banyak pelaku laundry tetap semangat. Sebab, momen seperti ini jarang datang. Mereka paham betul, di saat orang lain libur dan beristirahat, merekalah yang bekerja di balik layar untuk memastikan pakaian-pakaian lebaran tetap bersih, wangi, dan layak pakai.
“Lebaran bukan waktu istirahat bagi kami. Tapi ini rezeki. Lelah sekarang, untung kemudian,” tutup Arif dengan senyum penuh syukur.
(Kontributor : Arif)








