Meski BDR, Guru di Aceh Singkil Wajib Tetap Masuk Kerja

Kamis, 20/08/2020 - 21:25
Siswa dan guru salah satu sekolah di Aceh Singkil.

Siswa dan guru salah satu sekolah di Aceh Singkil.

Klikwarta.com, Aceh Singkil - Kendati kegiatan belajar mengajar kembali memakai pola jaringan (Daring) dari rumah terhadap pembelajaran siswa sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan wajib masuk kerja sesuai jadwal dan jam kerja di Sekolah.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Singkil, Murmo DM mengatakan, dengan positif nya sejumlah warga setempat terpaparnya covid-19 dari hasil swab Unsyiah Banda Aceh, Pihaknya kembali menerapkan pola belajar dari rumah.

Karena sebelumnya, Pihak Pemkab Aceh Singkil melalui Disdikbud sempat memberlakukan pembelajaran tatap muka disekolah dengan mengikuti protokol kesehatan.

Namun, mengingat kondisi penyebaran virus covid-19 di Kabupaten Aceh Singkil, kegiatan belajar mengajar tatap muka sementara ini kembali dihentikan dan proses belajar dilakukan secara daring.

Kendati demikian, para kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan tetap harus masuk untuk menyusun perangkat pembelajaran, pembagian dan pemberian tugas terhadap siswa serta melaksanakan tugas rutinitas lainnya, tegas Kabid Pendidikan Dasar,  Rabu (19/08/2020).

Hal itu mengingat guru harus menyusun jadwal memberikan materi pembelajaran terhadap siswa melalui jaringan on line. Namun, apabila ada siswa yang susah terjangkau internet ataupun tidak memiliki fasilitas alat komunikasi, guru harus melakukan jemput bola dengan program keliling dor tu dor dari rumah kerumah memberikan serta menjemput tugas materi untuk dipelajari siswa, ujar Murmo.

Dengan begitu, dimasa Pandemi covid-19 ini, Kepala Sekolah dan guru harus lebih kreatif menciptakan program-program untuk memberikan pembelajaran kepada siswa sekolah.

Begitu pun, memang proses belajar mengajar secara daring tidak untuk menuntaskan kurikulum. Tapi, yang terpenting siswa sekolah tetap belajar dengan tidak terlalu membebani siswa banyaknya materi yang diberikan untuk dipelajari.

Murmo mengakui, bila dilihat poling data di Pusat, 67 persen para orang tua/wali keberatan pembalajaran daring. Karena merasa terbebani dengan paket data, ungkapnya.

(Pewarta : Supriadi)

Berita Terkait