Tokoh Papua Tolak Peringatan HUT OPM

Kamis, 01/12/2022 - 15:32
papua
papua

Oleh : Saby Kossay )*

Para tokoh Papua menolak peringatan hari ulang tahun OPM (Organisasi Papua Merdeka) tanggal 1 Desember 2022. Mereka tidak mau merayakannya karena organisasi ini jelas memberontak dan terlarang. Mereka juga mengimbau warga Papua, terutama mahasiswa, untuk tidak memperingati ulang tahun OPM, karena hal tersebut sama saja menjadi penghianat bangsa.

OPM adalah organisasi pemberontak, yang tidak setuju akan hasil Pepera (penentuan pendapat rakyat) yang menyatakan bahwa rakyat Papua ikut Indonesia. Padahal Pepera sudah terjadi lebih dari 30 tahun lalu dan hasilnya juga dianggap sah oleh pengadilan internasional. OPM tidak terima dan ingin memerdekakan diri, walaupun Papua adalah bekas jajahan Belanda dan otomatis masuk wilayah Indonesia.

Selama ini OPM dan KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) memberontak secara gerilya dan baru akan gunung Ketika peringatan hari ulang tahun OPM tanggal 1 Desember. Pasukan OPM turun gunung untuk merayakannya, sambil memamerkan eksistensinya di tengah masyarakat. Jelang tanggal ini pengamanan di seluruh wilayah Papua makin diperketat agar tidak ada penyerangan oleh OPM, terutama di wilayah rawan seperti Jayapura dan Manokwari.

Dra. Sipora Nelci Moldouw, M.M, Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita, menyatakan bahwa pendukung OPM didominasi oleh kelompok-kelompok yang belum puas. Katanya 1 Desember itu hari merdeka. Merdeka yang mereka inginkan adalah merdeka yang mungkin hanya angan-angan saja. Mama Sip begitu gencar menyuarakan penolakan HUT OPM, karena ia sangat nasionalis dan seorang putri dari veteran. Ayahnya bernama Poreu Abner Ohee, pelaku sejarah Kongres Pemuda tahun 1928.

Dalam artian, sejak tahun 1928 warga Papua ingin bergabung dengan Indonesia, oleh karena itu datang ke Kongres Pemuda yang menyuarakan Sumpah Pemuda. Namun fakta ini tidak diakui oleh OPM. Mereka menolak sejarah dan tidak percaya akan kehadiran Jong Papua di Kongres Pemuda.

OPM terus menyuarakan pendapatnya bahwa Papua harus dimerdekakan dari Indonesia dan 1 Desember adalah hari ulang tahun mereka, sekaligus hari kemerdekaan yang ditunggu-tunggu. Padahal selama ini Papua tidak pernah dijajah oleh Indonesia. memang sebelum tahun 1945, Papua (yang dulu bernama Irian Barat) dijajah oleh Belanda. Namun sejak proklamasi, otomatis Indonesia merdeka, termasuk Papua.

Bagaimana bisa OPM mengira bahwa Papua dijajah oleh Indonesia? Padahal pemerintah sudah memberikan begitu banyak dana dan fasilitas untuk rakyat di Bumi Cendrawasih. Misalnya Jembatan Youtefa, Jalan Trans Papua, Bandara Internasional Sentani dan lain sebagainya. Hal ini yang perlu dipahami oleh rakyat Papua agar mereka tidak terprovokasi oleh OPM yang selalu menghasut untuk memerdekakan diri.

Dra. Sipora yang akrab disapa dengan panggilan “Mama Sip” ini menambahkan, anak-anak muda yang aktif menyuarakan Papua merdeka telah dipengaruhi oleh informasi-informasi yang sengaja dipelintir oleh kelompok kepentingan tertentu. Baik dari luar negeri maupun di Papua sendiri.

Informasi yang dimaksud adalah propaganda dari OPM yang menyatakan bahwa pemerintah pusat ingin mengambil kekayaan alam Papua. Padahal yang benar adalah para investor datang ke Bumi Cendrawasih untuk proyek kerja sama yang saling menguntungkan.

Oleh karena itu para pemuda jangan mudah terprovokasi hoaks dan propaganda dari OPM. Jangan lupakan sejarah bahwa OPM telah membunuh banyak orang asli Papua selama puluhan tahun. Bagaimana bisa mereka mengajak untuk merdeka, sementara orang Papua malah dihilangkan nyawanya dengan kejam?

Sementara itu, Tokoh Agama Papua Pendeta Alberth Yoku, menyatakan bahwa para mahasiswa Papua yang sedang menjalani studi, jangan terlibat unjuk rasa, saat 1 Desember. Mahasiswa sedang menempuh pendidikan dan membangun masa depan. Dengan bekal ilmu maka bisa bekerja atau meniti karir politik.

Pendeta Alberth melanjutkan, para mahasiswa seharusnya belajar dengan rajin, karena kampung menunggunya. Raihlah ilmu dengan baik dan jadikan hal ini sebagai motivasi positif. Jangan malah terlibat aksi-aksi (seperti demo pro OPM).

Dalam artian, para mahasiswa (yang rata-rata kuliah di luar Papua) diharap untuk fokus pada studi dan belajar dengan tekun. Jangan ikut-ikutan demo pro OPM dan meneriakkan ‘Papua merdeka’.  Unjuk rasa bukanlah aksi untuk tampil keren dan mereka beresiko dibubarkan hingga dipidana, karena demo tersebut tidak berizin.

Para mahasiswa tidak belajar sejarah dan tidak memahami bahwa OPM adalah kelompok pemberontak. Mereka seharusnya memahami sejarah berdirinya OPM lalu menjauhinya, karena bersikap nasionalis.

Seharusnya para mahasiswa sangat malu ketika berdemo pro OPM dan menuntut kemerdekaan Papua, karena mereka rata-rata bisa kuliah dengan beasiswa otsus yang diberikan oleh pemerintah. Namun sebaliknya, mereka justru menentang pemerintah dan pro ke kelompok pemberontak. Hal ini sungguh suatu sikap yang memalukan.

Para tokoh Papua menentang keras peringatan ulang tahun OPM tanggal 1 Desember. Mereka anti OPM karena paham bahwa ia adalah kelompok pemberontak dan terlarang. Para tokoh juga mengimbau agar masyarakat dan mahasiswa asal Papua untuk tidak ikut aksi mendukung OPM, karena sama saja menjadi pengkhianat negara.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Tags

Related News