Direktur Utama RS Menur, drg. Vitria Dewi, M.Si
Klikwarta.com, Surabaya - Kasus adiksi game dan judi online pada anak kian marak ditangani RS Menur Surabaya. Direktur Utama RS Menur, drg. Vitria Dewi, M.Si menegaskan, akar persoalan bukan pada gadget, melainkan pola asuh dan lemahnya pendampingan orang tua.
“Pengasuhan, pola asuh, awal itu memang dari orang tua yang memberikan kebebasan. Sebenarnya gadget itu nggak salah. Itu satu bentuk kemajuan teknologi di mana kita bisa mengakses hal-hal positif,” kata Vitria, Jumat (9/5/2026).
Menurutnya, gadget jadi berisiko ketika anak yang belum dewasa dibiarkan bebas tanpa batas.
“Mau memutuskan hal positif apa yang kita lakukan kan tergantung yang menggunakan. Nah, anak itu memang belum dewasa, belum bisa memutuskan berapa banyak dia akan mengakses. Makanya perlu pendampingan orang tua,” tegasnya.
Vitria mengingatkan, orang tua harus aktif mendampingi: mulai dari memilih situs yang boleh dibuka anak hingga membatasi durasi penggunaan. Jika tidak, potensi kecanduan sangat besar.
“Kalau penggunaan gadget ini dilepas begitu saja, mohon maaf tanda petik misalnya liar mau buka situs apa aja, terserah mau berapa jam sehari tidak ada batasnya. Ini pasti akan punya risiko potensi kecanduan yang sangat besar,” ujarnya.

Ia mencontohkan kebijakan di sekolah yang melarang siswa bawa gadget, atau wajib menyimpan di tas selama jam pelajaran.
“Hanya boleh ketika memang ada pembelajaran yang membutuhkan gadget. Karena anak-anak kadang ada tugas kelompok di sana. Jadi gadget itu digunakan harus dengan bijaksana, ada pembatasan waktu,” jelasnya.
Vitria menekankan, teknologi bukan musuh. Gadget bisa jadi sarana belajar dan hal positif jika dipakai tepat. Masalah muncul ketika anak mengakses game bermuatan kekerasan atau judi online tanpa kontrol.
“Game dengan muatan kekerasan, anak akan tumbuh dengan perilaku kekerasan. Judi online, anak ingin menang terus, skor besar. Dampaknya ada nilai uang. Orang tua biasanya baru tahu setelah uang habis,” kata Vitria merujuk kasus yang ditangani RS Menur.
Vitria meminta orang tua tidak abai. Perubahan perilaku jadi alarm utama: anak yang semula soleh dan manut tiba-tiba melawan, bahkan sampai kekerasan fisik karena tak diberi pulsa atau uang top up game.
“Biasanya kasus seperti ini baru membuat orang tua mengantar anaknya ke rumah sakit. Setelah ditelusuri, adiksinya sudah berjalan lama,” ungkapnya.
Ia berharap orang tua lebih waspada dan terlibat aktif. Gadget tanpa pengawasan bisa jadi pintu masuk adiksi yang merusak mental anak, sehingga Deteksi dini penting agar penanganan tidak terlambat.
Pewarta: Supra








