Pengasuh Ponpes Hidayatul Qomariyah KH. Aly Shodiq Ahmad.
Klikwarta.com, Bengkulu - Terkait beredarnya kabar dugaan keracunan massal para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Qomariyah, diklarifikasi Pengasuh Ponpes, KH. Aly Shodiq Ahmad.
Kepada Klikwarta.com, KH. Aly Shodiq Ahmad menyebutkan bahwa kejadian di Ponpes Hidayatul Qomariyah ada kejanggalan-kejanggal. "Jadi belum tentu adanya santri keracunan", tegasnya, Selasa malam (25/08/2020).
Untuk itu, kata KH. Aly Shodiq Ahmad, dirinya selaku pengasuh Ponpes berkewajiban memberikan klarifikasi terkait berita-berita yang sudah beredar di berbagai media massa. Menurutnya, terkait berita-berita yang telah beredar soal viralnya keracunan santri sebanyak 2 kali, tentu nama baik Ponpes bisa dipandang jelek, karena dianggap Ponpes tidak bagus dalam memberikan makanan terhadap para santri.
"Maka dari itu, saya jelaskan kronologi kejadian-kejadian sebenarnya yang banyak sekali kejanggalan-kejanggalan. Seperti, anak yang tidak makan tapi tetap merasakan hal-hal yang dirasakan oleh anak yang mengalami mual dan muntah. Kemudian, ada anak yang makan banyak sekali tapi tidak merasakan apa-apa atau sehat-sehat saja. Yang aneh lagi, ada anak yang makan berdua, yang satunya merasa mual dan muntah tapi yang satunya lagi tidak merasakan apa-apa, padahal makanan yang dimakan sama dan minuman yang diminum juga sama", kata KH. Aly Shodiq Ahmad.
Lanjutnya mengatakan, hasil uji Lab sampel muntahan dari Balai Besar POM Palembang atas kejadian pertama menunjukan bahwa makanan-makanan yang dimakan para santri tersebut juga negatif dari bakteri-bakteri yang mengandung racun.
"Pada waktu kejadian pertama (14 Agustus, red), tepatnya usai salat Jumat, saya merasakan kejanggalan, namun tak bisa diungkapkan. Kemudian ada kejadian lagi 10 hari berikutnya, pada tanggal 24 Agustus tepatnya hari Minggu pukul 21.00 WIB. Pada waktu itu, anak-anak sedang belajar seperti biasanya. Namun tiba-tiba, anak-anak merasakan mual dan mau muntah, padahal anak-anak makannya ketika Maghrib, bahkan ada anak yang belum makan hanya minum saja", ungkapnya.
"Pada saat kejadian seperti ada yang menular, maka pada saat itu juga saya mengajak anak-anak untuk berzikir bersama. Ketika baru saja dimulai zikir, banyak anak-anak yang langsung teriak-teriak seperti orang kesurupan. Ada yang berteriak langsung muntah, ada yang berteriak langsung pingsan. Saat itu, saya tidak mau mengambil risiko, makannya saya langsung membawa anak-anak ke rumah sakit. Jadi kemungkinan tidak ada orang keracunan diawali dengan teriak-teriak seperti itu", jelasnya.
Sambungnya mengatakan, sewaktu kejadian, ada anak yang sempat ditangani di Ponpes, ketika anak itu muntah dan dibacakan sesuatu, alhamdulillah langsung sehat kembali.
"Padahal anak itu juga makan ketika Maghrib, tapi mualnya jam 9 keatas dan juga ada anak yang jam setengah 10 malam baru merasakan mual. Ini kan aneh namanya. Mestinya kalau memang keracunan, begitu makan langsung merasakan perutnya tidak enak. Ini kok jaraknya lama, terus ada juga anak yang minumnya ketika Magrib dan belum makan, kemudian mengalami hal yang sama mual dan mau muntah", terangnya lagi.
"Paginya, ketika saya ngaji dengan anak-anak. Saya melihat ada anak yang wajahnya (tatapannya, red) kosong. Kemudian, ketika saya tegur, tiba-tiba langsung lemah dan merasakan perutnya tidak enak. Pada saat itu juga langsung saya suruh bawa ke rumah sakit. Begitu sampai dirumah sakit, anak itu berteriak-teriak, lalu dirawat. Nah, apakah yang seperti ini termasuk tanda-tanda orang keracunan ?, apakah tidak ada tanda-tanda yang lain, misalnya non medis. Karena, kalau diinformasikan kemana-mana pesantren keracunan dua kali, terus terang tentu kami sangat menyayangkannya", ungkap KH. Aly Shodiq Ahmad.
Terangnya lagi, "Pesantren kami tidak apa-apa, karena wali santri semuanya meyakini bahwa ini adalah bukan racun dan anak-anak semuanya juga merasakan seperti itu. Ini ujian", pungkasnya.
KH. Aly Shodiq Ahmad juga berharap terkait berita-berita yang sudah beredar soal keracunan tersebut, kepada pewarta atau pihak lainnya untuk ikut segera memberikan klarifikasi terkait hal ini.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Herwan Antoni mengatakan atas kejadian tersebut, pihaknya telah menerima hasil uji Lab pada kejadian pertama.
"Hasil uji Lab sampel muntahan di Balai Besar POM Palembang, pada kejadian pertama, dari 3 jenis bakteri yang diperiksa yakni Salmonella, shigella dan Escherichia coli tidak ditemukan atau menunjukan negatif. Namun, dari uji sisa makanan di BPOM Bengkulu, bakteri Salmonella negatif, sementara bakteri Staphylococcus dan Bacillus positif", katanya, saat dikonfirmasi Klikwarta.com, via telephone selular, Rabu pagi (26/08/2020).
Disamping itu, kata Kadinkes, pihaknya juga telah menurunkan tim terpadu ke Ponpes untuk melakukan pengecekan. "Dari hasil cek lapangan, ditemukan soal penyajian makanan yang dimasak pada sore hari dan disajikan pada pagi hari, termasuk soal air minum", terangnya.
"Tim terpadu yang kami tugaskan itu, tim yang membidangi soal masalah ini, termasuk dari pihak puskesmas. Jadi kami bekerja berdasarkan data dan cek langsung dilapangan", sambungnya.
Sementara terkait sampel pada peristiwa kedua pada 24 Agustus 2020, kata Kadinkes, baru dikirim dua hari yang lalu. "Untuk yang ke Balai POM Palembang sudah kita kirim, sementara untuk yang BPOM Bengkulu sudah dalam pemeriksaan", jelasnya.
Atas kejadian ini, lanjutnya, pihak Dinkes juga sudah memberikan imbauan, bahwa dalam penyajian makanan skala besar butuh diterapkan Higiene dan Sanitasi.
"Dalam penyajian makanan dan minuman dalam skala besar, butuh diterapkan Higiene dan Sanitasi. Mulai dari menjaga kebersihan dan juga pada saat pembuatan makanan dan minuman", jelasnya lagi.
Tambahnya, kejadian ini menjadi evaluasi bagi kita semua untuk lebih baik lagi. "Untuk para santri yang sempat dibawa kerumah sakit, sudah ditangani semua. Kebanyakan gejalanya pusing dan mual. Tidak ada yang dirawat lama, kan ini soal dugaan keracunan makanan, jadi tergantung pada ketahanan tubuh masing-masing santri. Semua santri yang sempat ditangani sudah kembali ke Ponpes", pungkasnya.
Diketahui, berdasarkan informasi yang diperoleh Klikwarta.com, pada kejadian tanggal 14 Agustus 2020 ada 155 santri dibawa ke rumah sakit dan pada tanggal 24 Agustus 2020 dengan jumlah 65 santri juga dibawa ke rumah sakit.
Sementara terkait imbauan yang dilakukan pihak Dinkes juga sudah dilakukan oleh pihak Ponpes, termasuk soal merubah sistem pola makan dan pengolahan makanan dan minuman bagi para santri. (Red/LJ)








