Anggota DPRD Jawa Timur Dapil XI (Nganjuk- Madiun) Mayjen TNI (Purn) Dr Istu Hari Subagio
Klikwarta.com, Jawa Timur - Petani Desa Sanan, Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk mengeluhkan ketidakstabilan harga produk pertaniannya. Akibatnya masyarakat yang menjadi petani merugi dengan pendapatan yang didapat dari hasil pertaniannya.
Salah satu warga Desa Sanan, Mahfud mengatakan, bahwa mayoritas masyarakat di Desa Sanan Kecamatan Pace adalah petani karena daerah agraris. Namun hal tersebut tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh para petani.
Mahfud menilai Harian Ongkos Kerja (HOK) yang didapat petani dan buruh sangat minim. Apalagi saat ini terjadi kelangkaan pupuk subsidi karena Pemerintah mengurangi kuota 50 persen. Tentunya hal ini sangat berdampak pada hasil pertanian.
"Ada stabilitas hasil pertanian karena hasil pertanian dengan Harian ongkos kerja sehingga hasilnya untuk upah saja kadang-kadang kurang. Apalagi saat ini sedang sulit pupuk dikurangi 50 persen," ujar Mahfud saat menyampaikan aspirasi kepada Anggota DPRD Jawa Timur Dapil XI (Nganjuk- Madiun), Mayjen TNI (Purn), Dr Istu Hari Subagio saat jaring aspirasi di Balai Desa Sanan, Sabtu 14 November 2020 malam.
Mahfud mengaku dengan kondisi seperti saat ini harga hasil panen jagung hanya Rp 36 ribu perkilogramnya. Ironisnya lagi, lahan seluas 1.400 meter persegi yang ditanami hanya mampu panen 1 kuintal.
"Untuk itu, kita meminta agar ada kontrol hasil panen," katanya.
Mahfud menegaskan, persoalan yang serius dan harus diselesaikan adalah stabilitas harga. Mengingat selama ini yang terjadi adalah barang melimpah, tetapi permintaan berkurang. Tentu harga akan anjlok karena minimnya permintaan.
Mahfud menagih janji pemerintah yang akan membeli hasil pertanian dengan harga eceran tertinggi, jika produk melimpah.
"Mohon distabilkan. Umpama panen barang melimpah permintaan kurang. Hasil pertanian banyak, jadi janji pemerintah membeli hasil petani dengan harga eceran tertinggi tidak terwujud," ungkapnya.
Sementara warga lain, Mukayat menyampaikan bahwa kebutuhan akan drainase desa sangat diperlukan. Warga sudah menyampaikan ke Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrembangdes), namun sampai saat ini tidak ada realisasinya.
"Drainase sudah disampaikan ke musrembang desa. Namjn sampai sekarang tidak ada tindaklanjut, tidak ada realisasi. Tolong dibangunkan drainase," pintanya.
Warga Desa Sanan, Mulyono menuturkan bahwa setiap musim kemarau, para petani mengeluhkan kebutuhan air untuk lahan pertanian. Mengingat air sulit didapat ketika musim kemarau.
Untuk mendapatkan air, warga harus menggali tanah hingga kedalaman 400 meter. Kemudian pompa dimasukkan untuk menyedot air keatas. Warga ingin ada upaya dari DPRD agar mempermudah mendapatkan air
Menanggapi aspirasi masyarakat, Istu Hari Subagio menegaskan, penduduk Desa Sanan 90 persennya adalah bekerja sebagai petani.
Istu menyebut memang sering terjadi harga produk pertanian tidak stabil, jika panen. Kondisi akan diperparah jika pupuk langkah. Ketidakstabilan harga produk pertanian ini tentunya berimbas upah yang didapat petani dan buruh.
"Pertanian memang seperti itu. Di lain pihak langkah dan mahalnya pupuk. Para petani mengasumsikan penghasilan hanya Rp 750 ribu. Buruh tani kalau sehari 100 ribu, maka sebulannya bisa dapat Rp 3 juta. Berarti antara petani dengan buruh tani masih enak buruh tani," paparnya.
Politisi asal Partai Golkar itu menjelaskan, untuk dapat menstabilkan harga produk pertanian diperlukan campur tangan pemerintah. Dengan adanya intervensi pemerintah, hasil panen terlebih dulu diamankan ke gudang. Selanjutnya dibuatkan kebijakan untuk mengatur keluar masuk produk.
"Saya pikir bisa menguntungkan petani kalau ada campur tangan pemerintah. Pas panen harganya tinggi, minimal bisa menyamai pendapatan atau lebih besar itu yang diharapkan petani," terangnya.
Terkait kelangkaan pupuk, mantan Pangdam Bukit Barisan itu meminta masyarakat melaporkannya jika menemukan adanya penyalahgunaan pupuk subsidi. Istu khawatir Pemerintah sudah berusaha mengeluarkan produksi pupuk dalam jumlah besar, tetapi tidak disalurkan ke petani.
"Kuatir disalahgunakan Dilaporkan saja kalau ada temuan. Kita gerebek bareng-bareng nanti," pungkasnya.








