Salah satu kondisi lapak pedagang yang berdekatan dengan tempat pembuangan sampah di Pasar Pulo Jahe Foto : Leonardo Juan
Oleh : Leonardo Juan
Klikwarta.com - Bau sampah, becek, dan jorok itulah gambaran ketika melintas dan mengunjungi Pasar Kemiri di Depok, serta Pasar Pulo Jahe di Jakarta Timur. Kedua pasar ini termasuk pasar tradisional. Melihat 2 kondisi tersebut, tampaknya berbagai pasar tradisional di masing-masing wilayah Indonesia perlu dibenahi secara fisik. Dibenahi secara fisik dengan tujuan perbaikan kebersihan, kenyamanan, dan keamanan bagi para pelaku ekonomi di pasar tradisional.
Pasar tradisional dengan stigma negatif yang ada, tetap memiliki daya tarik tersendiri. Daya tarik yang dimiliki, antara lain bahan makanan lebih segar ditemukan di pasar tradisional dibandingkan pasar swalayan, harga bahan makanan bisa tawar menawar, dan sebagai pembeli bisa melihat serta memilih secara langsung bahan makanan yang ingin dibeli.
Meskipun memiliki daya tarik, ada kemungkinan bahwa keberadaan pasar tradisional kedepannya akan kalah dengan saing pasar swalayan dan pasar digital. Hal ini disebabkan karena kebersihan dari pasar tradisional, kurang diminati oleh masyarakat, kenyamanan dari segi tempat berbelanja, dan berbelanja bahan makanan secara online.
Salah satu lapak pedagang bahan makanan di Pasar Pulo Jahe berdekatan dengan tempat sampah, tempat sampah sisa sayuran, buah, dan sebagainya. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah bahan makanan yang dijual kebersihannya teruji? Bagi sebagian orang mungkin tidak menyadari atau memerhitungkan hal tersebut, tetapi dari segi kebersihan bahan makanan perlu diselidiki dan diamati.
Selain dari segi kebersihan, kenyamanan di pasar tradisional perlu dipertanyakan. Jarak antar lapak para pedagang yang berdekatan memberikan ruang gerak yang sempit bagi para pembeli ketika ramai. Minimnya ruang bergerak ketika kondisi ramai menyebabkan kesulitan pernapasan bagi beberapa orang. Hal ini seperti sudah menjadi lumrah bagi beberapa pasar tradisional di Indonesia, padahal hal tersebut perlu dibenahi untuk perubahan.
Melihat realitas salah satu pasar tradisional, yaitu Pasar Pulo Jahe dan beberapa pasar tradisional yang ada di berbagai daerah di Indonesia, diperlukan modernisasi pasar tradisional. Pembaharuan seperti salah satu contoh pasar yang ada di Jakarta Selatan, yaitu Pasar Santa yang dulunya kumuh menjadi modern. Di saat aku mengunjungi Pasar Santa kesan pasar tradisional seperti becek, bau, jorok, dan kotor pun hilang.
Salah satu contohnya adalah Pasar Santa yang bisa diubah menjadi modern, memberikan contoh bahwa banyak pasar tradisional bisa dibenahi. Pembenahan pasar tradisional perlu dilakukan untuk mendukung kenyamanan para pengunjung dan pembeli. Selain itu existensi pasar tradisional tidak kalah saing dengan pasar modern.
Pasar tradisional bukan hanya mengenai transaksi antara penjual dan pembeli, tetapi banyak kehidupan yang bergantung pada pasar tradisional. Perlunya pembenahan untuk memberikan pembaharuan tata letak, stigma masyarakat, dan keberlangsungan pasar tradisional. Serta mendukung digitalisasi untuk ekosistem pasar tradisional.
Modernisasi perlu melibatkan banyak pihak seperti pemerintah daerah setempat, para perdagang, serta masyarakat di sekitar daerah pasar tradisional. Diperlukan komunikasi intens dan mendalam untuk menata pasar tradisional.
Keadaan pasar tradisional yang masih belum dibenahi secara fisik dan lingkungan yang tidak bersih memunculkan kemungkinan dan persepsi bahwa bahan pangan yang disediakan tidak bersih dan tidak higienis. Bahan makanan ditakuti terkontaminasi karena kondisi pasar yang jorok.
Maka diperlukan pembenahan pasar tradisional untuk memberikan rasa aman, nyaman, dan kemudahkan para pembeli untuk mencari tempat membeli bahan makanan. Setiap pembenahan yang akan dilakukan pasti menimbulkan perlawanan, hal ini wajar karena timbul kekhawatiran dari para pedagang. Diperlukan komunikasi dan solusi sebelum pelaksanaan. Pembenahan secara fisik untuk keberlangsungan pasar tradisional.








