Candi Kedaton, Jejak Terakota di Bumi Majapahit

Jumat, 28/04/2023 - 20:39
Klikwarta.com bersama Suwondo dan Sunaryo, keduanya pecinta budaya asal Ngantang, Malang, (Jumat,28/4/2023) menelusuri jejak peradaban dari era Majapahit

Klikwarta.com bersama Suwondo dan Sunaryo, keduanya pecinta budaya asal Ngantang, Malang, (Jumat,28/4/2023) menelusuri jejak peradaban dari era Majapahit

Klikwarta.com, Mojokerto - Peradaban masa lalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta budaya tanah air, salah satunya Candi Kedaton yang berada di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto. Klikwarta.com bersama Suwondo dan Sunaryo, keduanya pecinta budaya asal Ngantang, Malang, (Jumat,28/4/2023) menelusuri jejak peradaban dari era Majapahit ini.

Bukti arkeologi di situs ini menunjukkan keberadaan bangunan profan dalam suatu pemukiman, terlihat pada relief dan temuan miniatur rumah berbahan terakota, yaitu rumah bertiang yang berdiri diatas pondasi susunan bata.

Barang-barang dari tanah liat bakar, pecahan atau utuh adalah artefak yang paling banyak ditemukan di situs ini. Bentuknya ada yang berupa tembikar, benda hiasan atau ornamen bangunan. Tembikar dan terakota mencapai puncaknya di masa Majapahit, terutama barang keperluan sehari-hari menjadi indikator keberadaan sebuah pemukiman.

A

Struktur bangunan didominasi tembok bata yang membagi ruangannya bersekat-sekat, dan posisi keberadaan tembok tersebut berbeda ketinggian pada gundukan. Yang terlihat sekarang adalah bagian puncak struktur, berupa persegi berpermukaan rata dari susunan bata.

Bangunan di situs ini berasal dari periode yang berbeda, bangunan suatu periode menumpuk di atas periode sebelumnya. Tampak sekali struktur bata dinding bagian bawah tersusun berbeda dengan bagian atas. 

J

Struktur bagian bawah susunannya tidak menggunakan spesi, sedangkan struktur bagian atas susunannya menggunakan spesi tanah. Lapisan lepa ditambahkan untuk memperkuat sambungan antar dinding. Lepa batu bercampur pecahan kerakal dan cara melapisnya tidak rata. 

Sanggar Pamelang menjadi salah satu bangunan yang cukup menarik di situs ini, Sanggar tersebut merupakan bangunan air berdenah persegi, beratap susunan bata, lantai dan dinding berlapis lepa. 

Lapisan lepa telah dikenal di masa Majapahit, dan dalam tulisan Mpu Prapanca (Kakawin Negarakretagama) disebut "bajralinepa maputih". Ruang yang terbentuk terbilang cukup sempit, hanya dapat dimasuki oleh satu orang dewasa. 

Dengan atap yang dimilikinya, sanggar ini menjadi bangunan yang tertutup, lebih menyerupai gua, dimaksudkan sebagai gua pertapaan bila dikaitkan keberadaan tamansari, salah satunya berfungsi sebagai tempat bersemedi. Tapa Kungkum (bertapa dengan berendam di air) telah dikenal dalam budaya Jawa, terutama untuk mengasah ilmu kebatinan. 

C

Selain bata dan karang, struktur dinding bangunan air tersusun dari material bata msi (hasil pembakaran yang sangat tinggi) sekeras besi. Bata msi berasal dari tungku pembakaran terakota, dan di masa lalu, Majapahit dikenal penghasil barang terakota bermutu tinggi.

Di situs ini terlihat karang yang menempel pada dinding struktur air, tepatnya pada dinding tambahan yang susunan batanya menggunakan spesi tanah. Penggunaan karang memiliki makna simbolik menghadirkan samudera yang mengelilingi pusat jagad raya, sebagaimana kosmologi Jawa.

Ada 2 teknik penyusunan bata di situs ini, yaitu dengan cara gosok tanpa spesi dan menggunakan spesi. Teknik gosok tanpa spesi terlihat pada struktur bata bangunan air berupa kolam parit berlapis lepa. Sedangkan susunan bata dengan spesi tanah, terlihat di permukaan sebagian besar struktur.

Di bagian barat, terlihat adanya beberapa struktur yang berbentuk dan berdenah persegi, tingginya rata-rata 50-60 cm, yang terdiri dari 7-12 lapis susunan bata dengan spesi tanah. 

Struktur ini merupakan bagian pondasi dari bangunan semi permanen bertiang kayu. Besaran tiang yang disanggah umpak batu sebanding dengan besarnya bangunan, berdasarkan ukuran pondasi persegi.

Struktur yang disebut kolahan dipastikan sebagai tempat penampungan air, lantai dan dindingnya dilapisi lepa. Tidak terlihat anak tangga yang memasukinya. Tempat penampungan air lainnya adalah jobong, terbuat dari tanah liat bakar dan ditanam ke dalam tanah.

"Bagi anda yang berkunjung di Candi Kedaton ini, diharapkan tidak masuk ke area bangunan (dibawah jembatan besi), karena dikhawatirkan akan merusak atau mengubah susunan bata maupun strukturnya,"jelas Suwondo. "Pengunjung dapat melihat langsung jejak peradaban era Majapahit ini dari jembatan besi yang ada diatas struktur bangunan."

Lanjutnya,"Tempat ini memiliki area parkir yang luas dan toilet yang memadai untuk digunakan. Pengunjung diharapkan tidak merokok atau membuang sampah di lokasi ini, agar kebersihan bangunan tetap terjaga."

Diluar konteks peradaban, ternyata tempat ini juga menjadi incaran pelaku spiritual hingga togel lovers. Sebagaimana diungkapkan Martono, asal Lamongan, dirinya mengaku pernah dapat rejeki nomplok usai melakukan ritual di tempat ini, yaitu togel. Tak tanggung-tanggung 4 angka jitu (as) diperolehnya dari mimpi.

(Lipsus:dodik)

Berita Terkait