Deteksi Gangguan Kesehatan Mental melalui Pengenalan Emosi untuk Mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045

Senin, 05/05/2025 - 16:42
ilustrasi. Istimewa

ilustrasi. Istimewa

Oleh : Sofia Sa’idah

Teknologi saat ini tak hanya dapat mengenali wajah seseorang, lebih dari itu, teknologi mampu memahami kondisi emosi seseorang. Pengenalan emosi melalui kombinasi ekspresi wajah, suara, sinyal otak, sinyal jantung, laju pernapasan dan kelembaban kulit- menjadi teknologi baru untuk mendeteksi adanya gangguan Kesehatan mental seseorang dengan lebih cepat dan akurat. Harapannya, dengan teknologi ini, gangguan Kesehatan mental segera terdeteksi sebelum kondisi semakin memburuk.

Jumlah penderita gangguan kesehatan mental meningkat setiap tahunnya. Sebagai informasi, World Health Organization (WHO) merilis informasi bahwa pada tahun 2019, 1 dari setiap 8 orang, atau sekitar 970juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan Kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan dan depresi sebagai jenis paling umum. Pada tahun 2020, jumlah orang hidup dengan gangguan Kesehatan mental meningkat secara signifikan akibat pandemi COVID-19.

d
Sumber : https://neurodivergentinsights.com

Melihat kondisi tersebut, masalah gangguan Kesehatan mental mencuri perhatian para peneliti, termasuk Sofia Sa’idah, yang merupakan salah satu mahasiswa pada Program Doktoral Teknik Elektro Universitas Telkom. Peneliti berencana untuk mengembangkan sistem pendeteksi gangguan Kesehatan mental berbasis kecerdasan buatan (AI). Berbeda dengan pendekatan pada umumnya yang hanya mengandalkan wawancara dan kuesioner, sistem pendeteksi gangguan Kesehatan mental berbasis teknologi kecerdasan buatan ini dirancang untuk membantu mengenali tanda-tanda awal melalui perubahan emosi seseorang dengan memanfaatkan berbagai sinyal sekaligus sebagai modalitas, mulai dari perubahan ekspresi wajah, intonasi suara, hingga sinyal fisiologis seperti sinyal jantung, sinyal otak , sinyal otot, sinyal Gerakan mata, laju pernafasan dan kelembaban kulit.

Pendekatan emosi berbasis multimodalitas yang menggunakan berbagai sinyal dari tubuh manusia ini memungkinkan perubahan emosi dapat dikenali segera bahkan sebelum individu tersebut menyadarinya. Penggunaan multimodalitas ini didasarkan pada kebutuhan penilaian yang lebih objektif,untuk mengurangi faktor subjektifitas jika hanya digunakan satu modalitas saja.

Di masa yang akan datang, sistem pengenalan emosi berbasis multimodalitas ini diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam mendeteksi dini adanya potensi gangguan Kesehatan mental bagi seluruh elemen Masyarakat, baik tenaga medis maupun Masyarakat pada umumnya. Sehingga, persoalan gangguan Kesehatan mental yang saat ini meningkat akan tertangani dengan lebih cepat sehingga jumlah penderta gangguan Kesehatan mental dapat menurun secara signifikan. Program ini selaras dengan terwujudnya Program Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3 dan 4, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta Pendidikan Berkualitas untuk merealisasikan Misi Indonesia Emas di tahun 2045. (*)

Berita Terkait