Mengapa Kita Lebih Sering Marah kepada Orang Terdekat Dibandingkan Orang Lain?

Jumat, 23/05/2025 - 08:41
Foto : Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

Oleh : Laura Inggrit

Klikwarta.com - Marah adalah salah satu emosi yang paling umum dirasakan oleh setiap orang. Emosi ini bisa muncul secara tiba-tiba, terasa intens, dan terkadang sulit dikendalikan. Menariknya, tanpa disadari, kita cenderung lebih sering meluapkan amarah kepada orang-orang terdekat terutama keluarga dibandingkan kepada teman atau orang lain di luar rumah.

Tetapi, mengapa hal ini terjadi? Apa yang membuat kita lebih mudah tersulut ketika berhadapan dengan orang tua, saudara kandung, atau pasangan, sementara kita bisa tetap tenang dan rasional saat menghadapi teman kerja atau kenalan?.

Dilansir dari Undiknas, menurut penelitian terbaru yang dilakukan oleh Deborah South Richardson, profesor psikologi di Georgia Regents University, cara seseorang menyalurkan emosi dan kemarahan sangat berkaitan dengan kualitas hubungan yang dimiliki dengan “target” kemarahan tersebut.

Mengapa ke Orang Terdekat?

Orang terdekat, seperti orang tua, pasangan, atau saudara kandung, sering kali menjadi sasaran amarah kita karena adanya kedekatan emosional yang mendalam. Hubungan yang erat ini menciptakan perasaan aman—sebuah kondisi di mana kita merasa tidak perlu menahan diri karena yakin bahwa mereka akan tetap menerima kita apa adanya, terlepas dari luapan emosi yang terjadi.

Rasa aman ini memberikan efek signifikan yang menyebabkan seseorang merasa bebas mengekspresikan kemarahan kepada orang terdekatnya tanpa terlalu memikirkan dampak jangka panjangnya. Sementara itu, ketika berinteraksi dengan teman kerja atau kenalan, kita lebih cenderung menjaga emosi karena adanya norma sosial dan pertimbangan tertentu yang membuat kita mengendalikan diri dengan lebih baik.

Menjaga Wajah di Hadapan Orang Lain

Di lingkungan kerja, kita dituntut untuk bersikap profesional demi kepentingan bersama. Rasa marah bisa saja muncul, terutama ketika situasi yang dihadapi tidak sesuai dengan ekspektasi. Apalagi jika kita harus bekerja dengan rekan yang sulit diajak bekerja sama, emosi bisa dengan mudah tersulut.

Namun, dalam konteks profesional, banyak orang cenderung memilih untuk menahan amarah dan berusaha mengendalikan emosi. Kita sering kali memilih diam dan menekan perasaan demi menjaga suasana kerja tetap kondusif. Norma sosial serta keinginan untuk menghindari konflik membuat kita lebih berhati-hati dalam mengekspresikan emosi negatif.

Meskipun demikian, kemarahan yang ditekan terus-menerus tidak bisa disimpan selamanya. Jika seseorang terus-menerus menghadapi ketidaksesuaian tanpa ruang untuk menyalurkan emosinya, amarah itu bisa saja meledak sewaktu-waktu, terutama ketika batas toleransinya sudah terlampaui.

Ketika Marah yang Dipendam Menjadi Ledakan

Menahan amarah memang bisa menjadi pilihan tepat saat kita berada dalam situasi yang menuntut sikap profesional. Namun, apakah cara ini bisa terus dilakukan tanpa konsekuensi? Tentu tidak. Jika emosi terus-menerus ditekan tanpa ada ruang untuk melepaskannya, hal ini dapat menumpuk dan menjadi beban mental yang berat. Ketika akhirnya ada kesempatan untuk meluapkan emosi, amarah itu justru bisa meledak kepada orang-orang terdekat meski mereka sebenarnya tidak terlibat dalam penyebab kemarahan tersebut.

Situasi ini sebenarnya bisa dicegah. Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan atau kesadaran untuk mengelola emosinya dengan sehat. Sering kali, kita bahkan tidak tahu bagaimana cara melepaskan amarah dengan benar agar tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Inilah yang membuat pentingnya memahami cara mengekspresikan kemarahan dengan sehat, agar emosi yang wajar ini tidak berubah menjadi ledakan yang merusak.

Emosi yang meledak tiba-tiba seringkali bukan karena kejadian saat itu, melainkan karena penumpukan emosi yang tak pernah diungkapkan. Menyalurkan kemarahan pada orang terdekat seringkali membuat kita menyesal karena merusak hubungan, kepercayaan, dan rasa aman. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda penumpukan emosi agar bisa diatasi sebelum meledak.

Belajar Mengelola Emosi dengan Lebih Sadar

Marah bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya, melainkan perlu dikenali dan dipahami. Saat kita mulai merasa emosi memuncak, penting untuk berhenti sejenak dan menyadari apa yang sebenarnya kita rasakan: apakah ini murni marah, atau ada kekecewaan, rasa tidak dihargai, atau kelelahan yang tersembunyi di baliknya?.

Memahami akar masalah membantu kita merespons dengan tenang, bukan gegabah. Ambil jeda, tarik napas dalam, atau tuliskan perasaan dalam buku harian. Ini memberi ruang bagi pikiran jernih sebelum bertindak. Mengelola emosi bukan soal menekan perasaan, tapi memberi ruang yang tepat untuk mengekspresikannya.Cara ini memberi ruang bagi logika untuk kembali hadir sebelum kata-kata tajam atau tindakan tak terkendali terlontar. Mengelola emosi bukan berarti menekan perasaan, tapi memberi tempat yang sehat bagi emosi itu untuk keluar. Dalam proses ini, marah bukan lagi sesuatu yang harus ditakuti, tapi dipelajar sebagai bagian dari tumbuh dan memperkuat koneksi dengan orang yang kita sayangi.

Menekan amarah tentu dapat menjadi solusi ketika dalam situasi dan kondisi dituntut profesional, tapi apakah hal ini dapat selamanya dilakukan? Tentunya tidak! Jika terus menerus menekan emosi tanpa berpikir untuk melepaskannya akan mengakibatkan beban mental dalam diri.Nah, ketika punya kesempatan untuk meluapkan amarah malah mengenai orang terdekat yang mungkin secara tidak sengaja berada di lingkungan yang sama dengan kita.

Hal ini dapat dihindari, tetapi tidak semua orang punya kontrol yang baik untuk melepaskan amarahnya.  Mungkin juga kita tidak tahu bagaimana melepaskan amarah yang ada untuk kesehatan mental kita sendiri.

Bandingkan saat kita dalam lingkungan pekerjaan yang tuntut profesional untuk suatu kepentingan bersama. Marah akan menjadi salah satu emosi yang akan sering timbul jika situasi dan kondisi berbeda jauh dengan ekspektasi. Belum lagi marah mudah tersulut jika berhadapan dengan orang yang tidak dapat diajak untuk bekerja sama.

Hal ini  dapat menjadi akibat berkibarnya amarah. Faktanya direalita kita cenderung memilih untuk tetap diam dan berusaha menekan segala emosi yang ada jika berada diposisi itu. Lebih banyak orang yang lebih memilih untuk terus profesional dan menerapkan norma sosial yang ada untuk menhindari luapan emosi dan berujung pada pertikaian.

Walaupun cenderung banyak orang yang memilih menekan marahnya untuk tetap bisa bekerja dan menghindari masalah dengan orang lain, tetap saja marah tidak bisa selamanya disimpan dalam hati. Marah mungkin akan dapat meledak jika sudah melewati batas mampu seseorang untuk menoleransi setiap ketidaksesuaian yang ada.

Tags

Berita Terkait