Sang Penyendiri Berharap di OKB

Sabtu, 07/04/2018 - 08:24
ilustrasi

ilustrasi

Cerpen:  Benny Hakim  Bemardie

Kisruh penuh intrik pada Organisasi Kepemudaan Berbentuk. Pisau bersarung dalam senyum, sembari berucap untuk kepentingan bersama, dan berbagai solusi untuk kepentigan pribadi.  Perang urat saraf dan fisik menjadi bagian tak terelakan. Awam mengatakan itu bagian dari dinamika berorganisasi.

Tahun ini nyaris serupa dengan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa kelompok orang berkerumun membahas soal Organisasi Kepemudaan Berbentuk. Mereka menyebutnya OKB.

Sengatan mentari sepengalan  di negeri ujung  ufuk barat ini, membuat basah ketiak para pemuda-pemudi yang umumnya telah berpasangan itu.  Hanya sedikit orang dari kelompok itu berfikir akan efek domino, dari memperebutkan kekuasaan sebagai  penguasa berkuasa di OKB. Mengapa diperebutkan OKB itu? Apa tidak ada kesempatan di organisasi lain? Ah.....Tentunya kalau tak berada-ada, tak akan burung tampua bersarang rendah”, lamun Sang Penyendiri.    

Awalnya Sang Penyendiri tak tertarik. Jangankan berfilsafat, melayani lintasan  fikiranpun dia enggan. Kalimat “meningkan kepalak” itu acapkali terucap, sebelum dia tahu kalau dia tak tahu karena dia tahu. Ingin andil dan siapa tahu-siapa tahu, merenung dan berstrategi merupakan jawaban harus diambil. OKB harus direbut dengan cara yang elegan.

Berguru Sehari

Sang Penyendiri mulai menyentakkan dirinya yang  selama ini belum terjaga. Berjalan menyisiri pantai, bergegas dia menemui seorang Tuan Guru Strategi yang telah lama menidurkan ilmunya, karena merasa lelah dengan apa yang pernah ia lakukan saat jadi pemuda.   

Pagi menjelang siang, Sang Penyendiri sudah bertandang. Sambutan semangat  terpancar dari Tuan Guriu Strategi saat Sang Penyendiri ingin belajar. Ilmu terapan merupakan solusi, mengingat waktu kian mepet untuk memperebutkan kekuasaan di OKB.

“Dalam ajaran pendahulu, hidup ini adalah perperangan. Bila kamu ingin menang dalam perang, maka pakailah tipu daya”, kata  Tuan Guru Strategi usai Sang Penyendiri mengungkapkan maksud ingin belajarnya.  “Analogikanlah apa yang kamu ingini itu dengan perang”,  sambungnya.

Anggukan demi anggukan selalu dilakukan Sang Penyendiri. Dia berfikir tak penting berbicara apalagi membantah dalam berguru.

“Keinginan kamu untuk merebut OKB itu langkah baik mengisi seni dan romantika dalam hidup. Langkah pertama, kamu harus membaur di salah satu kubu dari kelompok yang berseteru.  Saat bertegangan anatara dua kubu, Kamu harus tampak lemah saat kamu kuat”, kata Tuan Guru Strategi.

“Bukankah itu menunjukan kelemahan dan tidak gentelmen Tuan?” tanya Sang Penyendiri yang datang tanpa membawa gula kopi.

Percakapan sempat terputus,  saat anak gadis cantik Tuan Guru Strategi menyela untuk menawarkan segelas kopi dan tiga poting roti. “Silahkan dicicipi”,  sapanya.  Sapaan suara serak-serak basah itu tak membuat Sang Penyendiri gagal fokus, meskipun dia tidak menderita diabetes. 

Dengan Meluruskan posisi duduknya, satu kaki dinaikan diatas bangku, Tuan guru kembali memberikan pengajaran dengan suara tegas jelas dan lantang. Merebut OKB yang diingini itu tak musti dengan bentrok fisik , Tapi pikirkanlah cara yang lebih efesien untuk merebut dan mendapatkan kekuasaan.

Tuan Guru kembali mengatakan kalau hidup ini ibarat perang dan harus mengunakan taktik dan strategi.  Sebuah nama  Sun Tzu sempat terdengar.  Sang penyendiri juga tidak mengerti apa dan siapa itu Sun Tzu.  Anggukan tetap dilakukannya secara tak di sengaja.

“Umpanlah kubu tempat kamu berdiri  dengan bayangan untung, bingungkan dan silaukanlah mereka. Gunakanlah amarah untuk membuat mereka murka, rendah hatilah agar mereka sombong. Letihkan kedua kubu lawan dengan jalan berputar-putar, bikin mereka bertengkar sendiri. Serang mereka di saat mereka tidak menduganya, di saat mereka lengah. Haluslah agar kau tidak terlihat. Misteriuslah agar kau tak teraba. Maka kau akan kuasai nasib lawanmu”.

Kamu sebagai pemuda, bentak Tuan Guru Strategi, harus tahu waktu bertahan dan menyerang. Kamu harus  tahu lawan sudah kalah sebelum berperang. Kamu harus tahu berdiri di tempat tak terkalahkan, dan Kamu harus  tahu kubu tempat kamu bergabung  sudah menang sebelum berperang.

“Lawan atau musuh yang  paling berbahaya itu adalah  musuh yang  dapat memasak didapurmu”,  kata Tuang Guru Strategi mengunakan bahasa analogi.

Suara adzan Ashar mengumandang. Sang Penyendiri mohon pamit pulang dan dia menyalami Tuan Guru tanpa membungkukkan badan dan kepalanya. Dia menganggap sikap itu merupakan perbuatan feodal.  Menyisir pantai kembali dijalaninya, hingga ia terhenti saat tertusuk tumbuhan bulu babi di dalam hamparan pasir.

Mengkaji   

Satu ayat seribu makna  sejuta hikmah. Sang Penyendiri  sengaja istirahat sejenak, untuk menghilangkan sakit dikaki kanannya akibat tertusuk bulu babi. Ia berfikir, apakah taktik strategi yang diajarkan Tuan Guru Strategi tadi,  mirip dengan ilmunya kucing air?

Kucing air atau binatang berang-berang  selalu  mengambil ikan di kolam saat yang empunya lengah.  Ikan di kolam akan dihabisi dan dialokasikan ke sarangnya untuk dismpang sebagai  cadangan saat lapar memanggil. Di lamunannya,  Sang Penyendiri mencoba menginggat  orang-orang  ambisius di  OKB  yang akan digadang-gadang  menjadi penguasa yang berkuasa. Bila kedua kubu dapat  dia lemahkan dengan ilmu yang diajarkan Tuan Guru Strategi, tinggal lagi menghadapi para ambisius.

Tak sadar, ucapan ambisius difikirkan oleh orang yang juga ambisius.  “Strategi yang mudah dilakukan adalah menyerang mereka dengan beban psikologis. Serang saja apa yang dianggap mereka berharga”  kata Sang Penyendiri ngedumel dalam hati.

Serang mereka dengan pihak kubu aku sajalah. Kedua kubu itu diadu saja. Soal pendukung lainnya, nanti diumpan  saja  mereka  dengan uang. Biar saja mereka jadi pengkhianat. Yang penting  jangka panjang tercapai,  dan  OKB  nantinya direbut. Apalagi  umpan  disodorkan langsung di mulut mereka.

Kilat dan petir mulai tampak saat kelam menyambangi negeri ufuk barat ini. Sang penyendiri beranjak pulang untuk beristirahat, jelang keesokan hari untuk meraih mimpi rebut OKB, Dalam pembaringan, mata belum juga hendak terkatub.  Mata Sang Penyendiri tertuju  pada sobekan buku usang diatas almari.

Rupanya  sebuah sobekan buku yang berisi ungkapan. Yang berbunyi, “........Giring lawan anda ke dalam sikap meremehkan kemampuan anda, sampai pada akhirnya dia  terlalu yakin akan diri sendiri, sehingga menurunkan level pertahanannya. Pada situasi ini anda dapat menyerangnya”.

Pergulatan

Pergulatan merebutkan OKB yang sah dan siapa yang berhak menjadi penguasanya, pagi itu berlangsung sengit penuh intrik. Sang Penyendiri terus memainkan perannya diantara dua kubu yang berseteru. Sang Penyendiri mulai merapat ke kubu lawan, tanpa diketahui kubu yang menaunginya.

Sang Penyendiri mencoba mempengaruhi  musuh dari dalam, dengan gaya bijak dengan semboyan untuk kerja sama, penyerahan diri  serta perjanjian damai. Harapnya dia akan menemukan kelemahan yang ada. Berbagai propaganda diutarakan Sang Penyendiri, termasuk dirinya kini sudah tersakiti oleh kubunya. Dia menjadikan dirinya sebagai umpan dengan berbagai harapan yang ada di benaknya.

Alhasil, nasib dan nasap belum berpihak pada Sang Penyendiri. Apa yang dilakukannya tak memperoleh hasil bagi kepentingan pribadinya.  Teringat dia akan peribahasa China: ”Jika seluruhnya gagal, mundur”.

Sang Penyendiri kembali membaur di OKB dengan  kelompok level terendah.  Disini dia mencoba melakukan konsolidasi dan kompromi terselubung.  Dia tidak menyerah karena itu cerminan kekalahan total. Tindakan kompromi dilakukanya agar tidak dikatakan setengah kalah, daripada melarikan diri dari kelompok yang kadong dimasuki, tapi itu juga bila dilakukan, bukanlah sebuah kekalahan.

“Selama anda tidak kalah, anda masih memiliki sebuah kesempatan untuk menang” Tegur Tuan Guru Strategi yang muncul saat  akan menjemput putranya yang terpilih menjadi Ketua OKB dari kubu lawan Sang Penyendiri.

Cerpenis  tinggal di Bengkulu Kota

Berita Terkait