Pembukaan event Kampung Seni Ramadhan yang digelar Sanggar Senthir Nusantara Jaya, di halaman Kantor Disparpora Karanganyar, Sabtu (7/3/2026) sore.
Klikwarta.com, Karanganyar – Wajah halaman Kantor Disparpora Karanganyar bersolek. Mulai tanggal 7 hingga 16 Maret 2026, sebuah instalasi bambu daur ulang menjadi pusat perhatian dalam perhelatan perdana event Kampung Seni Ramadhan yang digagas oleh Sanggar Senthir Nusantara Jaya. Event ini bukan sekadar perayaan religi, melainkan sebuah ruang ekspresi kreativitas putra daerah.
Ada yang berbeda dalam visual dekoratif perhelatan tahun ini. Mengusung semangat ramah lingkungan, Tim Dekorasi Tresno Putro bersama para seniman lokal menyulap limbah bambu menjadi karya seni instalasi yang megah. Pemilihan bambu bukan tanpa alasan; material ini dianggap sebagai simbol keterikatan manusia dengan alam pedesaan.
"Kami ingin mengambil spirit potensi desa. Ingatan masa kecil saat kita bebas berkreasi dengan sumber daya alam yang tak terbatas, itulah yang ingin kami hadirkan kembali," ujar Ketua Sanggar Senthir Nusantara Jaya, Dony Sangaji, saat pembukaan acara tersebut, Sabtu (7/3/2026) sore.
Kampung Seni Ramadhan didesain sebagai "daya ungkit" ekonomi masyarakat. Kegiatan ini menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan penguatan produk lokal dari 17 kecamatan di Karanganyar.
Selama sepuluh hari penuh, pengunjung disuguhi rangkaian acara yang variatif seperti lomba hadroh, musik religi, tari sufi, hingga gamelan bocah. Berbagai hiburan rakyat mulai dari orkes keroncong, dangdut jadul, Reog Ponorogo, dan tari klasik.
Kegiatan juga diisi dengan workshop kreatif, bazar kerajinan, kuliner takjil, hingga fashion show, dan akan ditutup dengan pementasan wayang kulit.
Meski kental dengan nuansa tradisi, Kampung Seni Ramadhan tetap membuka diri terhadap kemajuan teknologi dan karakteristik Generasi Z. Harapannya, acara ini menjadi pemantik bagi lahirnya ekosistem ekonomi kreatif yang berkesinambungan di Karanganyar, bahkan di luar momentum bulan suci.
"Ini adalah awal. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk hadir, berkolaborasi, dan membuktikan bahwa seni budaya adalah identitas sekaligus penggerak ekonomi yang potensial," imbuh Dony.
Di tengah tantangan "sepi job" bagi para pekerja seni, acara ini menjadi bukti resiliensi komunitas kreatif Karanganyar. Pemerhati budaya, Ramadhan Isnain, menyoroti konsep Sobo Kebon yang diusung para seniman, sebuah kesadaran untuk kembali ke kebun dan alam guna menemukan ide-ide segar.
"Jika pergerakan dilakukan atas dasar kepekaan terhadap alam, material di sekitar rumah bisa memiliki nilai fungsi dan ekonomi yang kuat. Semangat gotong royong pemuda melalui workshop kreatif adalah kunci adaptasi di era digital ini," kata Ramadhan.
Sementara itu, Kepala Disparpora Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, dalam pidato sambutannya menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut.
"Kami memproyeksikan kegiatan ini sebagai embrio baru bagi bangkitnya pariwisata di Karanganyar. Kedepannya, kami berharap acara ini bertransformasi menjadi agenda rutin yang mampu mewadahi kreativitas para seniman sekaligus memutar roda ekonomi kreatif secara berkelanjutan," ucapnya.
Pewarta : Kacuk Legowo








