Lihat Bangunan Tertelan Bumi di Balora, Rohindin Mersyah Menunduk dengan Mata Berkaca-kaca

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah sempat menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca melihat bangunan-bangunan tertelan bumi di Perumnas Balaroa, Palu.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah sempat menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca melihat bangunan-bangunan tertelan bumi di Perumnas Balaroa, Palu.

*Dampak Likuifaksi Palu Layak Jadi Musium Alam Pertama di Dunia*

Klikwarta.com - Beberapa hari yang lalu, Pemerintah Provinsi Bengkulu mengunjungi Perumnas Balaroa, salah satu wilayah yang 'tertelan bumi' di Kota Palu.

Terlihat, gundukan tanah, rumah yang tenggelam separuh, mobil-mobil yang sudah tidak berbentuk dan sekumpulan orang yang masih setia menunggu anak, istri, suami dan sanak kerabatnya yang tidak berhasil dievakuasi. Dari raut muka, mereka semua masih bersedih bercampur trauma. 

Betapa dahsyatnya musibah yang di alami perkampungan Balaroa tersebut akibat Likuifaksi. Kata tak sanggup menggambarkan semuanya. Melihat kondisi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah sempat menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca melihat bangunan-bangunan tertelan bumi di Perumnas Balaroa, Palu.

ss

Rohidin melihat dengan kepala mata sendiri kondisi bangunan-bangun yang seluruhnya bergeser dan sebagian besar tenggelam. Yang membuat merinding, masih banyak jenazah yang tidak berhasil dievakuasi lantaran sulit menembus struktur tanah yang sudah mengeras bercampur dengan tembok-tembok beton. Bendera merah putih berkibar di mana-mana, sebagai penanda adanya korban yang tidak bisa dievakuasi. 

Menurut Rohidin, fenomena likuifaksi Palu sangat dahsyat dan ia meyimpulkan bahwa kejadian ini amat sangat langka. Bukan hanya di Indonesia, bahkan juga di dunia sehingga ini patut atau layak dipelihara dengan salah satunya dijadikan "Musium Alam Likuifaksi". 

Bukan karena lokasi pemukiman tersebut sulit dibangun kembali dengan bangunan yang sama, namun lebih kepada 'menyematkan' fenomena ini sebagai simbol 'sejarah keganasan alam' yang pernah terjadi di Palu Sulawesi Tengah Indonesia.

Ia mencontohkan Musium Kobe di Jepang. Semua yang terkait dengan bencana dikumpulkan dan dibuat narasi bahkan dibuat film sehingga menjadi musium yang sangat terkenal dan ramai didatangi masyatakat dunia. Tentu bukan hanya berwisata, numun juga jadi pusat pemberlajaran dan penelitian.

Ini akan menjadi, tambah Rohidin, satu-satunya 'Musium Alam Likuifaksi' di dunia. Banyak manfaat yang akan dipetik jika ini bisa direalisasikan. Selain akan jadi pusat penelitian ahli gempa dunia, juga akan jadi objek penelitian ahli gempa di Indonesia melakukan studi.

Selain itu, juga akan jadi pembelajaran bagi generasi yang akan datang. Bahwa kita pernah pengalami fenomena alam yang amat sangat dahsyat dan meninggalkan kepiluan. Dan pasti ini akan fenominal dikemudian hari.

Tentu juga bisa menjadi tempat ziaroh bagi anak cucu korban. Bukan hanya bagi yang memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan darah semata namun juga sebagai pengingat pada seluruh umat manusia bahwa kita harus pintar-pintar bersyukur dan menjaga alam ini secara baik dan bijak untuk menghindari 'kemarahan' alam. (MC)

Related News

B

 

Caleg
Herliardo

 

Benny
Usin