Konteks Historis yang ada di Pasar Bogor

Sabtu, 15/07/2023 - 14:01
Suasana di Pasar Bogor, Kota Bogor (Sumber: tribunews.com/Lingga Arvian Nugroho)

Suasana di Pasar Bogor, Kota Bogor (Sumber: tribunews.com/Lingga Arvian Nugroho)

Oleh : Nadira Riskia Marin

Klikwarta.com - Sekilas tampilan Pasar Bogor sama seperti pasar pada umumnya, yaitu sebuah tempat pusat perbelanjaan yang digandrungi oleh masyarakat khususnya ibu-ibu yang mengincar barang dengan harga murah. Saat memasuki pasar kita akan menjumpai gedung-gedung kumuh dengan mecium bau busuk yang menyengat, belum lagi menginjak tanah becek lantaran kubangan air dimana-mana. Meskipun begitu pasar tetap selalu ramai dengan beragam kegiatan jual belinya. 

Di pasar kita akan melihat berbagai macam aktivitas masyarakat, diantaranya aktivitas tawar menawar antara pedagang dengan pembeli, serta kegiatan para kuli panggul di pasar yang sedang kepayahan membawa beban belanjaan “sang majikan”. 

Dibalik tampilannya yang seperti pasar pada umumnya. Pasar Bogor memiliki konteks historis tersendiri di Kota Bogor. Pasar ini menjadi salah satu pusat konsentrasi masyarakat non-Eropa yang diizinkan beroperasi di kawasan elit Eropa. Pada masa kolonial, Gubernur Jenderal Van der Parra dan para pegawai tinggi kolonial mengabulkan bisnis sewa tanah dengan pendirian sebuah pasar di Buitenzorg. 

Atas bisnis sewa tanah tersebut, Gubernur Jenderal Van der Parra sudah meraup keuntungan yang cukup besar. Dalam laporan keuangan 1777, disebutkan pendapatan gubernur jenderal sebesar 14.000 ringgit, sekitar 8.000 ringgit berasal dari sewa tanah Pasar Bogor.

Semakin tingginya aktivitas perekonomian, apalagi rampungnya rel kereta api yang menghubungkan Batavia-Buitenzorg sepanjang 50 km pada 1873 meningkatkan status pasar ini dari pasar lokal menjadi pasar regional. Sejak saat itu, Pasar Bogor dimasukkannya dalam jalur perdagangan Priangan-Batavia. 

Pasar ini berdekatan dengan Kampung Bogor dan tidak jauh dari Kantor Kabupaten Kampung Baru. Karena pasar ini berdekatan dengan Kampung Bogor, maka spontan pedagang yang singgah pun menyebutnya Pasar Bogor. Kata Bogor inilah yang kemudian meluas tidak hanya di kalangan pedagang, tetapi juga meluas dalam kehidupan masyarakat umum. 

Pada akhir masa kolonial, kata Bogor telah akrab di telinga masyarakat kolonial, sebagai nama tidak resmi dari Buitenzorg. Lebih dari itu, Pasar Bogor kemudian menjadi simbol interaksi antara masyarkat golongan Pribumi, Tionghoa, dan Arab di kawasan eklusif Buitenzorg. Hal itu terjadi sejak meningkatnya volume perdagangan dan jaminan keamanan di pasar ini. Hal ini membuat para pedagang memutuskan untuk tinggal permanen di daerah sekitar Pasar Bogor.
 
Masyarakat Pribumi kemudian tinggal di daerah, Lebak Pasar. Kemudian tumbuh pula Perkampungan Tionghoa (Handelstraat, Jalan Suryakencana sekarang) dan Perkampungan Arab (daerah Empang) pada akhir abad ke-19. Interaksi yang telah terjalin selama berabad-abad membuat ketiga kelompok masyarakat telah mampu beradaptasi dan menerima keberadaan satu dengan yang lainnya. 

Hingga kini Pasar Bogor masih eksis dikalangan masyarakat Bogor. Kabarnya pasar ini akan memiliki wajah baru karena kawasan Pasar Bogor akan segera di bangun ulang oleh pemerintah Kota Bogor. Lantaran terletak di pusat kota, sehingga sudah tidak cocok lagi menjadi pasar melainkan akan diubah menjadi pusat perbelanjaan yang lebih rapih dengan berbagai macam fasilitas baru, dan tentunya tetap akan menjadi ruang terbuka bagi para UMKM. 

Berita Terkait