Sirilus Ladur (Alumnus PMKRI Cabang Kupang / Anggota FORKOMA PMKRI Labuan Bajo)
Oleh: Sirilus Ladur (Alumnus PMKRI Cabang Kupang / Anggota FORKOMA PMKRI Labuan Bajo)
Klikwarta.com - Perhelatan Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Kota Ruteng, Manggarai, semestinya tak dibaca sekadar rutinitas konstitusional dua tahunan. Di tengah lanskap sosial-politik yang kian sentralistik, forum tertinggi perhimpunan ini mengemban misi ideologis yang krusial: membaca ulang arah kompas peradaban Indonesia, langsung dari beranda Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menggugat Bias Urban dari Rahim Manggarai
Gagasan besar yang diusung—Mempertegas Arah Pembangunan Nasional Menuju Indonesia yang Berdaulat dan Berkeadilan—bukanlah jargon yang lahir dari ruang kedap suara. Pemilihan Ruteng sebagai episentrum diskursus terbilang amat strategis. Di bumi Manggarai inilah, wajah bopeng pembangunan nasional terpampang nyata: ketimpangan infrastruktur, akses pendidikan yang tertatih, hingga ancaman krisis ekologis yang terus mengintai ruang hidup warga.
Lewat enam sub-tema yang dibedah—infrastruktur, sumber daya manusia, martabat kemanusiaan, ekologi integral, ekonomi, dan pariwisata—kader PMKRI dituntut turun dari menara gading. Agenda utamanya jelas: membongkar bias perkotaan (urban bias) yang selama ini mendominasi narasi pembangunan negara, dan menarik paksa fokus Istana ke akar rumput di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Batu Uji Tiga Benang Merah
Secara internal, MPA kali ini adalah batu uji bagi relevansi Tiga Benang Merah perhimpunan di tengah pragmatisme zaman.
1. Intelektualitas di Tahun Politik: Forum ini harus melahirkan pokok-pokok pikiran berbasis riset dan kajian ilmiah. PMKRI pantang sekadar membebek pada retorika politik elektoral atau menjadi tukang stempel kebijakan penguasa.
2. Kristianitas sebagai Roh Perlawanan: Ajaran Sosial Gereja, khususnya Laudato Si tentang Ekologi Integral, tak boleh berhenti sebagai kutipan manis di atas mimbar. Ia harus menjadi roh perlawanan terhadap segala bentuk eksploitasi alam di NTT yang acap kali bersembunyi di balik topeng 'pembangunan' dan 'investasi'.
3. Fraternitas yang Merengkuh: Ruteng sukses membuktikan diri sebagai rumah besar yang inklusif; merengkuh ratusan delegasi dari Sabang hingga Merauke, menjembatani pertukaran gagasan tanpa disekat oleh primordialisme wilayah.
Diplomasi Kultural Melampaui Sekat Organisasi
Kita patut mengapresiasi keberhasilan PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus dalam merajut kolaborasi dengan Keuskupan Ruteng, Pemerintah Daerah Manggarai, dan publik secara luas. Forum ini berhasil melampaui batas eksklusif sebuah organisasi mahasiswa. Ia menjelma menjadi ruang diplomasi kebudayaan, di mana kearifan lokal (local wisdom) dan potensi pariwisata Manggarai yang berbasis komunitas diangkat ke panggung nasional secara elegan.
Alarm Nyaring bagi Purna-Aktif
Bagi kaum purna-aktif—khususnya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Alumni (FORKOMA) PMKRI di Labuan Bajo dan sekujur daratan NTT—momentum MPA ini adalah alarm yang nyaring. Ia memanggil kita kembali pada khitah perjuangan. Tugas para alumni bukan sekadar duduk bernostalgia, melainkan mengawal, mengamplifikasi, dan mengeksekusi rekomendasi strategis adik-adik kita di MPA Ruteng ke dalam ruang publik tempat kita berkarya hari ini.
Dari udara dingin Ruteng, PMKRI sejatinya sedang mengirimkan pesan yang amat tajam ke Istana Negara: sebuah peringatan bahwa Indonesia yang berdaulat adalah ilusi, selama keadilan sosial belum membumi di seluruh pelosok negeri. (**)








