Rumah Batik Palbatu, Edukasi dan Eksistensinya

Senin, 03/07/2023 - 23:13
Mahasiswa KKN yang sedang melakukan proses cat pada kain. Foto:Lidia Pratama Febrian

Mahasiswa KKN yang sedang melakukan proses cat pada kain. Foto:Lidia Pratama Febrian

Penulis: Lidia Pratama Febrian/Mahasiswa Penerbitan Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta

Rumah Batik Palbatu, sebuah rumah yang menjadi tempat pengembangan dan penyediaan sarana belajar membatik. Menjunjung  pelestarian budaya daerah, yang hadir untuk mendorong masyarakat dan anak muda senantiasa gemar membatik. Rumah Batik saat ini telah berkembang menjadi salah satu tempat wisata edukasi batik yang terletak di kawasan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.

Tempat ini sudah berdiri semenjak tahun 2011 silam, mulanya bernama Kampung Batik Palbatu yang kemudian pada tahun 2013 berganti nama menjadi Rumah Batik Palbatu.  Meskipun terletak di tengah pusat kota Jakartal, saya cukup kesulitan menemukan lokasi Rumah Batik Palbatu berada. Namun, bermodal arahan lokasi di google map saya berhasil menelusuri keberadaan tempat belajar membatik ini.

Sebuah papan yang bertulisan Rumah Batik Palbatu membuat saya yakin ini tempat yang saya cari, terlihat beberapa anak muda yang tengah membatik di depan sebuah rumah, mereka tampak memandangi saya yang sedang berdiri digerbang pintu masuk. Dengan langkah kaki yang cepat saya pun menghampiri mereka dan meminta izin untuk bertemu dengan pemilik tempat membatik ini.

Setelah menunggu kisaran 5 menit, akhirnya saya melihat laki-laki paruh baya dengan senyum lebar mendekat ke arah tempat saya menunggu. Budi Dwi Hariyanto merupakan founder Rumah Batik Palbatu, awal mula pendirikan tempat ini karena Pak Budi menyadari pentingnya mempertahankan ragam budaya batik di kalangan masyarakat, terutama untuk mereka yang tinggal di kawasan Tebet.

Pak Budi mengatakan bahwa saat ini sangat kurang sekali pelestarian budaya membatik di kalangan masyarakat, padahal batik adalah warisan budaya leluhur yang harus kita jaga. Pak Budi menilai masih banyak masyarakat yang keliru dengan batik yang sebenarnya, terutama saat munculnya teknik printing sebagai salah satu bentuk pembuatan batik.

Rumah yang tampaknya tak cukup luas, namun siapa sangka tempat ini menjadi ruang belajar membatik yang tumbuh dari kesadaran dan keinginan Pak Budi untuk mempertahankan warisan batik. Tak hanya memberikan edukasi peduli budaya namun juga memberikan pemahaman pada khalayak tentang perbedaan proses batik yang sebenarnya dengan proses batik tiruan atau printing.

Sembari mendengar informasi dari Pak Budi saya melihat beberapa baju dan jaket serta pernak pernik kerajinan batik yang tertata rapi di sisi sudut ruangan, banyak sekali hasil karya para perajin Rumah yang memukau mata. Pak Budi juga menuturkan bahwa pengarajin batik di sini tidak hanya masyarakat biasa, akan tetapi Rumah Batik Palbatu juga memberikan ruang bagi teman -teman penyandang disabilitas dan anak -anak berkebutuhan khusus untuk belajar membuat batik.

Mereka yang datang untuk belajar membatik tak hanya dari kalangan anak muda atau mahasiswa namun juga para turis dari luar negeri lirik Pak Budi pada foto-foto yang terpampang di sisi dinding atas. Hal ini membuktikan dengan adanya Rumah Batik Palbatu di tengah perkembangan zaman tak kalah saing dengan pakaian modern. Pelestarian batik dapat dijadikan sebagai ikon kebanggaan, menjadi daya tarik turis asing hingga belajar bersama mereka. Sebagian yang mengujungi tempat batik ini tak lupa memberikan support dalam bentuk uang maupun membeli produk batik.

Saya menoleh ketika Pak Budi menunjuk ke arah segerombolan anak muda yang tengah melakukan proses batik di depan rumah. Mereka adalah mahasiswa yang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di daerah Tebet kata Pak Budi, niat awal hanya ingin mewawancarai Pak Budi akhirnya ikut serta bergabung dalam kelas membatik bulan ini.

Membatik bukan sekadar melukis di atas kain, namun menyelami detail-detail kecil bahkan tiap garis dari hasil lukisannya. Proses batik di sini cukup mudah ujar Pak Budi, beberapa tahap pembuatan batik yaitu, motif/pola batik (Ngeblat), lalu klowong (Nyanting), warna kuas mapun celup, fiksasi (penguraian warna), dan lorod (pelepasan malam. Proses-proses inilah yang menghasilkan kain batik, bukan hanya sekadar memberi warna dan corak.

Dengan adanya Rumah Batik Palbatu bisa mencetak generasi muda yang paham budaya dan mengerti cara pelestariannya. Melestarikan batik memang tak harus membuat langsung, namun dengan merasakan sensasi pembuatannya kita akan lebih memahami makna batik yang sebenarnya. Mempertahankan budaya leluhur dan mampu bersaing di tengah eksistensi trend fashion saat ini.

Setelah merasa puas dengan informasi yang disampaikan Pak Budi, saya pun memutuskan untuk menyudahinya. Sebelum pergi dari lokasi saya meminta izin untuk mendokumentasikan beberapa karya kain batik hingga para perajin yang tengah bekerja. Saya merasa takjub melihat batik-batik yang di buat dengan penuh kesabaran ini, tak heran jika beberapa kain membutuhkan waktu hingga satu minggu untuk penyelesaiannya.

Memandang mereka yang penuh semangat dalam upaya pelestarian batik membuat saya tertarik untuk berkunjung kembali ke tempat ini. Tidak lama setelah itu saya mengucapkan terima kasih lalu berpamitan kepada Pak Budi yang telah memberikan izin serta menyadarkan saya akan pentingnya menjaga warisan batik ini. Saya berharap semoga Rumah Batik Palbatu bisa berkembang dan mencetak perajin batik yang hebat nantinya.

Berita Terkait