'Flashback' Negeri Lu-Shiangshe, Bencoolen hingga Benkoelen

ilustrasi (Net)
ilustrasi (Net)
Kominfo Mukomuko
Polda-SMSI Bengkulu.
Polda Bengkulu

“The Benkoeloenees digambarkan sebagai malas dan acuh tak acuh, pecinta berlebihan kesenangan, dan sering dijiwai dengan semangat kemandirian overslaanden pemberontakan”.

Opini: Benny Hakim Benardie

Lu-Shiangshe

Bengkulu merupakan negeri tua yang sumbur  makmur  dengan kekayaan alamnya. Kala itu, paling tidak tercatat kurun abad 14, hasil pertanian merupakan obyek buruan  bangsa lain, termasuk kekayaan  buminya  berupa emas dan perak.    

Sebelum nama Bengkulu ada, negeri ini oleh pendatang Chung Ku-o Jen dari China  daratan (Hyunan)  berbahasa Mon, disebut Negeri Lu-Shiangshe,  antara Tahun 264 – 195 sebelum Masehi. Suatu negeri yang dijuluki Negeri Sungai Harum  atau Sungai Kejayaan atau Sungai yang memberi kehidupan / harapan atau Sungai Emas.  Dalam naskah kuno India, Negeri Lu-Shiangshe disebut  negeri Kerajaan Emas di Yavadha (Pulau Sumatera). Negeri ini terletak dipesisir barat Pulau Sumatera.

Sebutan Negeri Lu-Shiangshe diperkirakan atau setidak-tidaknya hampir bersamaan dengan keberadaan Negeri Andripura (Indrapura), Maco (Muko-moko), Tapan (Nampan), dan Ippeoh (Getah yang beracun).

Pendatang eksodus Bangsa China  terjadi pada Tahun  225 - 216 sM, dan mereka mengaku dirinya sebagai Suku Rejang Lebong. Satu kata yang diambil dari akar kata Rha-Hyang atau Ra-Hyang (Dewa yang maha berkuasa)  sebelum berubah menjadi Rejang yang dalam bahasa Sangsekerta (Sanskrit) diartikan  “penyembahan kembali”  (Maksudnya orang yang sudah lama meninggalkan kepercayaannya dan kembali taat menyembah Dewa).

Selanjutnya, komunitas pertama inilah yang  membangun Negeri Lu-Shiangshe  sebagai penambang emas dan batu mulia yang pandai serta gigih. Anak negeri menyebutnya Negeri Lusang, daerah penambangan emas Ketahun, Bengkulu Utara  yang sempat diterpa pralaya, akibat bencana badai dan gelombang laut setinggi 11,4 meter, disusul dengan gempa berkekuatan 9,2 skala richter yang meluluhlantakkan negeri ini pada Tahun 198 Masehi.

Penduduk yang selamat dari pralaya itu mengungsi dan mendirikan negeri yang mereka sebut Pa-U’ (Pauh) dan Pa-Liu (Palik). Mereka hidup dengan bercocok tanam.

Tersiar kabar  informasi dari para pengarung samudera luas tentang kekayaan  alam dan hasil bumi  Negeri  Lu-Shiangshe, negeri ini mulai ramai disambangi  pedagang dari berbagai bangsa. Hingga  abad ke-15, negeri ini mendapat sebutkan  Negeri Bengkulu. Negeri yang asal katanya dari kata Bengkuk (Batang) + Hulu. Ini  terjadi saat  datangnya pedatang dari bangsa Melayu melihat banyaknya batang pohon hanyut di sungai dari hulu.    

Bencoolen

Pada pertengahan  awal abad ke-15,  kabar juga tersiar oleh pengarung samudera dari Eropa.  Catatan sejarah  menyebutkan,  pengunjung Eropa pertama ke Negeri Bengkulu adalah orang-orang  Portugis, diikuti oleh Belanda pada Tahun 1596.  Namun karena geopolitik, keberadaaan mereka tidak berlangsung lama.

Hingga akhirnya tanggal 12 Juli 1685, Inggris tiba dan  membangun sebuah gudang, benteng  pertahanan Fort York di pinggiran sungai, daerah Bukit  Pasar Bengkulu. Tentunya  setelah  melakukan perjanjian  British East India Company dengan  Kerajaan ‘kecil’ Selebar.

Fort  York tidak  berlangsung lama akibat  pralaya.  Perusahaan Hindia Timur Inggris ini mendirikan pusat perdagangan dan garnisun lagi  yang mereka sebut Fort Marlborough, Tahun 1714, yang oleh anak negeri disebut Benteng Melabero.

Dalam perjalanan bisnis komoditi lada, cengkeh, pala  dan kopi, ternyata British East India Company  (EIC's)    East Indiamen, mengalami kerugian dengan jatuhnya harga jual komoditi dipasar dunia.

Sejak itulah British Bencoolen milik Inggris di Sumatera yang berbasis di daerah yang sekarang adalah Kota Bengkulu kini,  semula merupakan sebuah presidensi di British India, pada Tahun 1785. Tempat itu diturunkan ke Bencoolen Residency dan ditempatkan di bawah Presidensi Bengal.

Akhirnya Inggris menyerahkan Bencoolen ke Belanda dalam Perjanjian Anglo-Belanda 1 Maret 1824, setelah terjadi pemberontakan yang dilakukan  penduduk,  karena hutang hasil bumi yang tak terbayarkan, jelang usai 140 tahun berkuasa.  Beban Inggris  kala itu dengan jaminan kerugian tahunan sebesar 100.000 Poundsterling.

Pada Tahun 1798 bibit  pala dan paku (Pakis) pertama kali di boyong ke Bencoolen dari Maluku, untuk dikembangbiakan. Pada massa itu, populasi jagung, gambir, tebu, kelapa dan pinangboomen, tembakau, kapas, dan kacang, koebis tumbuh subur.

Tak hanya itu peternakan merupakan sarana utama  penduduk setempat. Setiap tahun kerumunan kerbau diangkut ke Palembang. Sapi, kuda dan babi kala itu  relatif langka. Tetapi domba dan kambing ditemukan banyak dipelihara penduduk, termasuk unggas.

Rumah-rumah penduduk pada abad ke-17 tersebut,  telah dibangun dari tanah, dan masing-masing berdiri sendiri. Populasi masyarakat pesisir pantai melakukan penangkapan  ikan, karena ikan  berdekatan tebing pantai yang kaya dan sangat melimpah di antara batu karang.

Benkoelen

Setelah perjanjian Tahun 1824 , berangsur orang  Inggris menarik pasukan dari Benkoelen pada Tahun 1825.  Lada, kopi, cengkeh dan pala tak punya nilai jual lagi sisi bisnisnya. Belanda yang sebelumnya pernah ke negeri ini, kembali menjalankan misi tertundanya. Negeri Lebong menjadi obyek tujuan Bangsa Belanda. Emas dan perak  menjadi orientasi.  

Mulai massa Belanda ini juga  Bengkoelen sempat menjadi pusat pengendali Opium Farm. Agen W.T. Lewis melakukan bisnis opium, termasuk termasuk penyelundupan budak dari Pulau Nias Sumatera Utara ke Benkoelen.

Dalam catatan Belanda disebutkan, Benkoelen Sumatra  memiliki luas 443,9 meter persegi. geogr. bermil-mil dan memiliki ulto. Des. 1893 populasi 160.650 jiwa, o.w. 164 orang Eropa, 557 orang Cina dan 47 orang Arab dan orang asing asing lainnya.

“Batas utara wilayah ini dibentuk oleh Aëk Mendjoeto, sementara batas luar sebagian besar dibentuk oleh Pegunungan Barisan, yang memisahkannya dari Palembang dan distrik Lampong. Dari torrents gunung banyak sungai biasanya zwlijke ke arah pantai, tetapi berjalan melalui jalur  pendek dan onbevaarbaarheid pantas disebutkan terpisah, kecuali Ketaoen yang bermunculan negara-negara Rejang tinggal Palembang oleh barisan pegunungan”.

Bagian selatan departemen Moko-Moko mengalir melalui dan terjun ke laut dekat kota dengan nama itu. The Semangka River, yang mengalir ke Teluk Semangka di Lampongs laut, memiliki hulu di kediaman dingin, di mana mereka Highland Batoe berah (melihat bahwa kata) mata air.

Garis pantai memiliki sedikit perkembangan dan hanya membentuk lubang dangkal dari  Teluk Poeloe, Teluk Sambat, Teluk Kroë, Teluk Tenoembang, Teluk Bengkoenat, dan Teluk Blimbing pantas disebutkan. Wilayah milik Pulau Engano, semakin kecil tepat di bawah pulau-pulau lepas pantai Pulau Tikoes,  Pulau Pisang dan Betoewah Pantai Kroe.

Wilayah ini secara administratif dibagi menjadi delapan  divisi. Masing-masing di bawah Pengawas B.B. berdiri, yaitu Benkoelen, Ommelanden dari Benkoelen, Lais, Mokko-Mokko, Seloema, Manna dan Pasoemah ulu Manna, Kauer (Kaoer) dan Kroe, yang divisi re-distribusi di Margarees dan Pasar mandiri ini.

Pembentukan staf manajemen regional dan lokal Eropa dari Benkoelen itu masuk dalam Staatsbl. 1873 No. 27, 1880 No. 90 dan 1883 No. 276a.

Negeri Benkoelen dihuni berbagai suku dari daerah tetangga; Populasi Kroe dan Kaoer sebagian besar terdiri dari Lampo Gers, Manna dan Seloema dari Pasemahers, Dataran Rendah dan Lais dari Redjangers yang mempunyai lembaga leluhur. The Benkoeloenees digambarkan sebagai malas dan acuh tak acuh, pecinta berlebihan kesenangan, dan sering dijiwai dengan semangat kemandirian overslaanden pemberontakan.

Sifat penduduk pribumi yang kurang efektif adalah untuk  pertanian tidak pada tingkat yang tinggi. Padi kebanyakan dibudidayakan di ladangs atau di lahan basah. Sawah yang disiram sedikit kecuali di departemen Mokko-Mokko, yang merupakan satu-satunya departemen memproduksi beras.

Budaya lada telah berlalu, bumbu dan budaya merana. Dari 1818 hingga 1824 ekspor lada hanya rata-rata 2131 pecos per tahun.

Pada Tahun 1858-1868  budaya kopi mulai mulai populer, meskipun akhirnya juga tidak menghasilkan  yang signifikan. Itupun dari daerah Kroë yang puncaknya pada bulan Juli 1870.

Hingga akhirnya, 18 November 1968 Negeri di pesisir barat daya Sumatera ini dipisahkan dari  bekas daerah Karesidenan Bengkulu dari Provinsi Sumatera Selatan (Sumatra Selatan) berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967 dan disahkan dengan Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1968. Penyebaran di atas 19.813 Km2, berbatasan oleh provinsi Sumatera Barat (Sumatera Barat) ke arah utara, Jambi ke timur laut, Lampung sampai tenggara, Sumatra Selatan (Sumatra Selatan) di sebelah timur, dan Samudera Hindia di barat laut, selatan, barat daya dan barat.

Kini kekayaan sumber dayaa alam  batu bara mulai terkuak. Perkebunan kelapa sawit dan hasil bumi lainnya hidup tumbuh subur.  Pertanyaanya, mengapa Provinsi Bengkulu  seperti apa yang kita lihat pada Tahun 2018 ini?

  • Pemerhati Sejarah Dan Budaya Bengkulu Tinggal di Bengkulu Kota. 

 

Dibaca: 45 kali

Related News