Bengkulu dan Pembrangusan Fakta Sejarah (Part 2 tamat)

Rabu, 14/03/2018 - 16:14
Thomas part November 1949, Benkoelen, Fort Marlborough.

Thomas part November 1949, Benkoelen, Fort Marlborough.

Opini: Benny Hakim Benardie

Monumen Mrs Zieck

Tidak hanya Kolonial Inggris saja yang gedol membuat monumen, kolnial Belanda juga membangun hal serupa. Terakhir di era Tahun 70-an, penghancuran  sebuah monumen  Mrs SL Zieck-van Hengel, isteri Wouter Jacob Reichard Zieck, seorang kolonisasi pertanian di Bengkulu atau Benkoelen kala itu.

 'Monumen ini diresmikan  sendiri oleh Nyonya SL Zieck-van Hengel, Tahun 1931. Penulis menduga, monumen yang dimaksud adalah monumen yang ada di persimpangan Pasar Melintang, dekat kantor Resident atau depan UNIHAZ Kota Bengkulu. Munkin saja monumen itulah yang disebut oleh anak negeri dengan sebutan Tugu Lupis Azimuth kota, dihancurkan Tahun 1985. Alasan pemerintah daerah kala itu sepele, hanya untuk pelebaran jalan. Mungkinkah tidak punya nilai history yang dapat dimanfaatkan atas monumen tersebut?

Ceritera Wouter Jacob Reichard Zieck yang menetap di Bengkulu Tahun 1927 hngga 1931 ini, beberapa peninggalannya tak pernah diungkap. Padahal ini merupakan aset sejarah yang terlupakan  pernah ada. Zieck juga pernah meninggalkan jejak  berdirinya sebuah  Pasar Malam, pondasi batu pertama Mulo, termasuk monumen penyingkapan pada keberangkatan mrs. Zieck, wanita residen, yang konon berasimilasi dengan penduduk pribumi setempat.

Pertanyaan yang menggelitik fikiran adalah,  kenapa di Provinsi lain, peninggalan kolonial atau hal-hal yang  yang mempunyai nilai sejarah selalu di pelihara, diberdayakan dengan diambil manfaatnya untuk daerah.

Apakah penguasa dan pengurus provinsi ini tidak suka, ingin, gemar bahkan tak perduli dengan kekayaan nilai sejara tersebut?

Mungkin jawabannya karena dendam akibat nenek moyngnya pernah dibantai dan membantai. Peninggalan sejara yang ada itu tidak berguna atau memuat kisah pembantaian anak negeri. Klasik atau mungkin klise memang, kalau itu jawabannya.

Tentunya lain lagi dengan pertanyaan, bagaimana dengan harta karun, harta peninggalan Sang Kolonial Inggris dan Belanda yang di dapat dari petunjuk dukun atau peta-peta peningalan kuno, atau bahkan dari dugaan “logis’ yang ada? Katanya masih ada di bawah tempat peninggalan itu!

Pertanyaan ini tidak pernah ada yang menanyakan. Mungkin. Itu hal yang tidak penting dan sudah lampau. Bisa saja itu. Yang jelas, semua merupakan aksioma.

Penulis  hanya sedikit mengulas era 80-an, mulai di/terbakarnya Kampung Cina (Kampung Tionghoa), hingga bioskop bangunan Kolonial Inggris yang dinamakan ROYAL CINEMA, ‘hancur’ ditahun 1982. Ini tempat bemain Tonil para elite Belanda dahulu, rata dan digantikan dengan Pasar Brokoto saat ini.

Di era yang sama, dirubahnya sisi pintu pintu monumen Kuburan Bulek atau Thomas Parr, termasuk tak diketahui lagi plat ataupun ornamen yang ada di dalam Tugu Inggris tersebut. Beberapa sumber menyebutkan, renovasi dengan merubah bentuk situs sejarah itu terjadi di tahun 70-an. 

Tidak hanya itu saja, monumen ini nyaris rusak. Pembangunan terowongan bawah tanah yang kini terabaikan, pengaliannya sudah masuk radius monumen. Ini terjadi di era Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamuddin yang mencoba membuat jalan terowongan bawah tanah, melingkari tugu bersejarah itu. Akhirnya proyek itu gagal. Tapi radius situs bersejarah itu tersentuh, anak tangganya yang dulu ada enam, kini hilang satu.

Penghancuran
Pemimpin terus bergonta ganti. Gedung Bola yang disebut oleh masyarakat Gedung Nasional atau terakhir disebut masyarakat generasi baru dengan sebutan Kantor CPM, kini luluhlantak dirubah menjadi taman yang tak tahu sebera manfaatnya bagi negeri ini.

Landraad atau pengadilan saat era kolonial Belanda, kini bukan lagi milik Provinsi Bengkulu, namun milik Depkumham RI. Meskipun sempat digugat dan kalah, hingga kini peninggalan bersejarah itu enggan di usahakan kembali, tentunya dengan lobi semisalnya tukar guling.

Ini baru bicara peninggalan yang ada di kota Bengkulu, belum lagi yang ada di kabupaten Provinsi Bengkulu. Kantor Pos pertama di Bengkulu, bangunan bersejarah peninggalan Inggris, kini juga diabaikan. Belum lagi bangunan rumah sisa kolonial yang dibiarkan lama rusak dan hancur di sekitaran eks Lapas Malabero.

Ditahun 2016 ini, terbakarnya eks Lapas Malabero yang di ubah fungsinya menjadi Rutan, akibat kerusuhan para penghuni Rutan. Padahal di tahun 30-an, ini merupakan penjara terngeri, dengan orang-orang rantainya. Penghuninya merupakan orang buangan, penjahat dari daerah lain diluar Bengkulu.

Ini sekelumit kecil dari yang ada di Kota Bengkulu, terlepas apa yang bersejarah itu masih di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi.

Pupus harapan anak negeripun, takkan membuat bergeming pengurus Negeri Bengkulu ini. Letih bercampur gerampun juga percuma.

Lihatlah, Tugu Kemerdekaan yang ada di Simpang Bubungan Tiga, sebelah Bank Indonesia dihancurkan, padahal buatan generasi anak negeri terdahulu, sebelum Provinsi Bengkulu ini ada, hancur di Tahun 1992, walaupun ditengah tugu itu kini masih utuh.

Tak Berguna

Mungkin semua yang bersejarah itu tidak berguna, dan tidak ada artinya sisi peninggalan sejarah dan budaya. Meskipun konon bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan para generasi penerus, sebagai landasan membangun kedepannya.

Jadi, kini masyarakat yang ada di provinsi atau di luar provinsi Bengkulu, jangan banyak berharap ingin tahu banyak rumah atau gedung tuo sisa Kolonial Inggris dan Belanda yang pernah ada.

Gedung daerah yang kini dipakai Gubernur Bengkulu bernama asli MOUNT FELIX itu, ditengahnya merupakan rumah tua Gubernur Jenderal Inggris, persis di beranda gedung saat ini.

Situs Fort York yang sempat ditemukan di daerah bukit Pasar Bengkulupun kini tak diurus, diatas rumah penduduk dan sekolah dasat. Belum lagi bila melihat areal Keburan Belanda kata masyarakat Bengkulu, Kuburan Inggris yang kini wilayahnya mulai mengecil dan tak terawat.

Seorang teman sempat bertanya pada penulis, “Terus mau apa dan harus bagaimana? Soal peninggalan yang lain seperti Benteng Marlborough bagimana?” Sumringah adalah jawaban yang harus di ekspresikan.

*Pemerhati Sejarah dan Budaya Bengkulu

Berita Terkait