Nyanyian sejarah dari Kartasura
Klikwarta.com, Kartasura – Dari pelataran Petilasan Kraton Kartasura yang disinari temaram lampu dan semerbak dupa budaya, bergema sebuah nada baru: “Babad Wanakerta.” Lagu ini bukan sekadar musik, melainkan gugah rasa dan panggilan jiwa, menandai hari bersejarah, HUT ke-345 Kartasura. Minggu (12/10)
Di hadapan tembok benteng tua, yang menjadi saksi bisu masa kejayaan Mataram, masyarakat tumpah ruah menyambut peluncuran lagu Babad Wanakerta mahakarya yang lahir dari semangat melestarikan jejak sejarah dan jati diri Kartasura.
Lagu ini berakar dari gagasan luhur Dr. H. Djuyamto, S.H., M.H., seorang tokoh yang tak lelah menabur api cinta budaya di tanah kelahirannya. Beliau bukan sekadar pemerhati seni, melainkan pejuang budaya yang menanamkan keyakinan: bahwa Kartasura tidak sekadar nama, tetapi napas perjuangan, warisan leluhur, dan sumber inspirasi generasi penerus.
“Babad Wanakerta” adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Liriknya menggamit memori kejayaan Kraton Kartasura, melodinya mengalun lembut namun menggugah semangat, diciptakan oleh dua musisi berbakat Yusron dan Abaz yang menata nada dengan jiwa, bukan sekadar telinga.

Para seniman lokal Kartasura turut serta dalam proses kreatifnya. Mereka bukan hanya pengisi suara dan penari latar, tetapi penyambung rasa antara sejarah dan seni masa kini. Video klip lagu ini pun direkam di sekitar petilasan Kraton, seolah menghidupkan kembali denyut nadi masa lalu di tengah kehidupan modern.
Dalam sambutannya, Dr. Suratno, S.H., M.H., selaku Ketua Panitia, menyampaikan rasa bangga dan haru. “Peluncuran lagu ini adalah persembahan tulus untuk Dr. Djuyamto, yang selama ini menjadi suluh bagi pelestarian budaya Kartasura. Semoga beliau selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus berkarya bagi negeri,” ujarnya penuh penghormatan.
Puncak acara ditandai dengan penampilan Anggi Areza, Arif, dan Abaz, yang membawakan “Babad Wanakerta” secara langsung. Alunan nada dan lirik yang sarat makna membuat para hadirin terpana sebagian larut dalam keharuan, sebagian lain tersenyum bangga melihat budaya Kartasura tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.
Lebih dari sekadar lagu, Babad Wanakerta adalah seruan untuk bangkitnya kembali semangat lokalitas, kesadaran sejarah, dan cinta budaya. Dari tanah Kartasura, pesan itu bergema: bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan asal-usulnya.
Dan malam itu, di bawah langit Kartasura yang bersejarah, masyarakat menyadari Babad Wanakerta bukan hanya musik, tapi nyanyian jiwa yang menghidupkan kembali api semangat kebangsaan.
(Kontributor: Widyo)







