Mencari Duta, Menjaga Identitas: Jejak Makna di Balik Pemilihan Mas dan Mbak Sukoharjo 2025

Minggu, 25/05/2025 - 16:40
Jenar Kabitsatya Maharani

Jenar Kabitsatya Maharani

Klikwarta.com, Sukoharjo - Malam itu, sorot lampu menari di atas panggung Taman Budaya Suryani, Sukoharjo. Di bawahnya, sepuluh pasang muda-mudi berdiri tegap, menyimpan harapan dalam diam. Mereka adalah finalis Pemilihan Mas dan Mbak Duta Wisata Kabupaten Sukoharjo 2025, ajang tahunan yang lebih dari sekadar kontes kecantikan.

Ajang ini telah menjadi ruang simbolik di mana generasi muda Sukoharjo ditempa untuk mengenal dan mencintai daerahnya, sekaligus menjadi wajah yang mewakili masa depan pariwisata lokal. Di tengah tuntutan modernitas dan gelombang arus digital, para finalis diharapkan mampu menjembatani warisan budaya dengan semangat promosi kekinian.

Duta di Era Digital

Jenar Kabisatya Maharani, putri dari Kartasura, akhirnya diumumkan sebagai Mbak Duta Wisata Sukoharjo 2025. Dalam balutan busana tradisional, ia melangkah pelan ke panggung utama, menyambut selempang dan mahkota dengan sorot mata yang masih tak percaya. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan perjuangan panjang.

Jenar bukan hanya tampil anggun. Ia fasih bicara tentang strategi promosi wisata berbasis media sosial, pentingnya membangun citra lokal yang khas, dan peran duta wisata sebagai public relation daerah. Pengalamannya di dunia fashion dan modeling memberi nilai tambah, tapi lebih dari itu, pemahamannya tentang identitas lokal adalah nilai yang membuatnya menonjol.

"Menjadi duta bukan hanya soal mewakili daerah, tetapi menjadi jembatan antara generasi muda dengan akar budayanya," ujar Jenar saat diwawancarai usai acara.

.

Lebih dari Seremonial

Bupati Sukoharjo, Hj. Etik Suryani, dalam sambutannya menegaskan bahwa pemilihan ini bukan ajang seremonial semata. Menurutnya, ajang ini adalah investasi jangka panjang dalam pembangunan karakter pemuda yang siap menjadi agen perubahan.

“Duta wisata harus memiliki wawasan luas, kepribadian tangguh, dan kesadaran sosial. Mereka tidak hanya menjadi ikon, tetapi juga mitra strategis pemerintah daerah,” kata Etik.

Pemerintah Kabupaten Sukoharjo tampak serius membangun ekosistem yang mendukung peran duta wisata. Tidak hanya mengandalkan penampilan luar, para finalis dibekali materi kepemimpinan, komunikasi, hingga pemahaman mendalam tentang potensi pariwisata dan UMKM lokal selama masa karantina.

Representasi dan Harapan

Di balik gegap gempita malam final, terdapat harapan kolektif agar para duta dapat menjadi simbol kemajuan sekaligus penjaga nilai-nilai lokal. Di era ketika identitas daerah mudah larut dalam budaya global, duta wisata hadir sebagai penanda—bahwa generasi muda Sukoharjo masih dan akan terus menjaga jati diri daerahnya.

.

Ajang ini juga menjadi refleksi tentang bagaimana sebuah kabupaten di pinggir Jawa Tengah bisa membentuk narasi sendiri di tengah dinamika pariwisata nasional. Sukoharjo tidak hanya ingin dikenal, tetapi dipahami, dihargai, dan dikunjungi karena kekhasannya.

Dan malam itu, di bawah langit Sukoharjo yang cerah, Jenar melangkah sebagai duta baru. Tapi bukan hanya ia yang menang. Kabupaten ini pun ikut menang, karena berhasil melahirkan harapan baru dari panggung kecil yang menjanjikan cerita besar.

(Kontributor  : Widyo)

Berita Terkait