Merangkul Masa Depan Gamelan melalui Lawu International Gamelan Festival 2025

Minggu, 10/08/2025 - 20:42
Song Meri, kelompok gamelan kaca dari Pacitan, Jawa Timur tampil dalam pergelaran LIGF 2025, di Kebun Hanoman, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar

Song Meri, kelompok gamelan kaca dari Pacitan, Jawa Timur tampil dalam pergelaran LIGF 2025, di Kebun Hanoman, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar

Klikwarta.com, Karanganyar - Warisan budaya gamelan membuktikan dirinya tak lekang oleh waktu, bahkan di era digital. Hal ini ditunjukkan melalui Lawu International Gamelan Festival (LIGF) 2025, sebuah perhelatan akbar yang berlangsung pada Sabtu hingga Minggu (9-10/2025) di dua lokasi di Karangpandan, Kabupaten Karanganyar.

Mengusung tema "Gamelan Evolution", festival ini menjadi ajang inovasi yang merayakan dinamisme dan relevansi gamelan di kancah internasional.

Festival yang diinisiasi oleh Yayasan Pusaran Seni Budaya Lawu dan didukung oleh Kebun Hanoman ini menunjukkan bahwa gamelan jauh dari kata usang. Para seniman diajak untuk keluar dari batasan tradisional, menciptakan karya-karya baru yang memadukan tradisi dengan modernitas.

LIGF 2025 menjadi panggung bagi eksperimen unik yang memukau penonton. Seniman-seniman berani bereksperimen dengan material tak lazim untuk membuat gamelan, seperti dari bahan kaca, keramik, dan batu, yang kemudian dipadukan dengan komposisi musik kontemporer.

Pertunjukan ini menepis anggapan bahwa gamelan hanya terbuat dari perunggu atau kuningan, dan membuka kemungkinan baru dalam eksplorasi bunyi.

Selain itu, festival ini juga memperkenalkan gamelan meditatif, sebuah pendekatan unik yang memanfaatkan gamelan sebagai medium penyembuhan berbasis suara. Konsep ini menawarkan pengalaman spiritual dan ketenangan batin, memperluas fungsi gamelan dari sekadar hiburan menjadi sarana terapi yang menyentuh jiwa.

Festival ini tak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga forum kolaborasi yang melibatkan berbagai kalangan. Mulai dari pelajar SD hingga SMA, sanggar seni lokal dari Solo Raya, musisi karawitan internasional, hingga akademisi dari perguruan tinggi turut memeriahkan acara.

Pada hari pertama, Panggung Puntuk Bulu Karanganyar menyajikan penampilan dari 13 grup gamelan, termasuk dari SD Pangudi Luhur dan berbagai sanggar seni. Sementara itu, Kebun Hanoman menjadi tuan rumah bagi 10 grup gamelan inovatif, seperti Gamelan Batu dari Sragen, Gamelan Kaca dari Pacitan, dan Gamelan Untu dari DIY/USA.

Di hari kedua, Kebun Hanoman kembali diramaikan oleh pertunjukan dari delapan grup lainnya, termasuk Gamelan For Humanity, Pantcha Indra dari Prancis, dan Gamelan Sampah dari Solo.

Menariknya, festival ini juga menyelenggarakan workshop gamelan yang diikuti oleh 25 peserta dari Prancis. Mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar instrumen dan penggarapan gamelan, baik secara tradisional maupun inovatif.

Menurut Ketua Pelaksana LIGF 2026, Damar Jati, tema "Gamelan Evolution" tak sekadar merujuk pada bentuk fisik, tetapi juga pada inovasi irama dan fungsinya. Ia berharap festival ini menjadi awal dari jaringan kolaborasi yang berkelanjutan bagi para seniman dan budayawan.

"LIGF 2025 adalah bukti nyata bahwa gamelan terus hidup dan beradaptasi. Melalui inovasi dan kolaborasi, seni tradisional ini menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, membuktikan relevansinya di panggung global" jelasnya.

Harapan serupa juga disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Kadisparpora) Kabupaten Karanganyar, Hari Purnomo. Mengapresiasi inisiatif ini, Hari berharap LIGF dapat menjadi agenda rutin yang diadakan dua kali setahun.

"Kami berharap LIGF mampu menjadi daya tarik pariwisata yang dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Karanganyar," tutur Hari.

Pewarta : Kacuk Legowo

Berita Terkait