Foto : Personel The Panturas
Oleh : Richo Pramudya Putra
Klikwarta.com - Di sebuah sudut panggung kecil di Bandung, empat pemuda tampil dengan gaya eksentrik. Dentuman bass, irama surf rock yang membalut lirik berbahasa Indonesia, dan energi liar dari panggung menjadi ciri khas mereka. Itulah The Panturas band lokal yang perlahan mengarungi ombak keras industri musik Tanah Air dengan semangat juang yang tak surut, seperti nama mereka yang terinspirasi dari jalur pantai utara Jawa: Pantura.
Terbentuk pada tahun 2016 di lingkungan kampus Universitas Padjajaran Bandung, The Panturas digawangi oleh Abyan Nabilio (vokal, gitar), Rizal Taufik (gitar), Surya Fikri (drum), dan Bagus Gogon (bass). Mereka membawa warna musik yang unik di tengah dominasi pop dan hip-hop, surf rock sebuah genre yang jarang disentuh musisi Indonesia.
Nama mereka mulai melambung setelah merilis album “Mabuk Laut” yang viral di media sosial. Tahun 2018, mereka merilis album “Ombak Banyu Asmara”, mendapat sambutan positif dari kritikus dan pecinta musik independen.
Namun, jalan mereka tak selalu mulus. "Dulu kami sering main di acara kampus, dibayar nasi bungkus dan transport. Tapi kami nikmati karena ini soal mimpi," ujar sang gitaris mengenang awal perjalanan mereka.
Di tengah minimnya perhatian media arus utama dan kerasnya persaingan antar band, The Panturas memilih untuk terus konsisten. Mereka membangun fanbase lewat gig kecil, distribusi digital, dan kerja keras tanpa manajemen besar di belakang.
“Kami sadar, untuk dikenal, kami harus terus tampil dan menyuguhkan sesuatu yang berbeda,” tambah Surya.
Album “Ombak Banyu Asmara” diproduksi secara mandiri, menyatukan eksplorasi musik, estetika budaya maritim, hingga kisah-kisah lokal dalam lirik. Lagu-lagu mereka seperti “Tafsir Mistik” atau “Masalembo” tak hanya menghibur, tapi juga mengangkat tema lokalitas dengan rasa modern.
The Panturas bukan sekadar band, mereka adalah simbol semangat juang generasi muda yang tidak ingin tenggelam dalam arus industri yang seragam. Mereka menunjukkan bahwa dengan kepercayaan pada jati diri, keberanian tampil beda, dan konsistensi, nama bisa harum tanpa harus mengikuti arus.
Bagi banyak anak muda, perjalanan The Panturas adalah cermin. Bahwa kreativitas tidak harus berasal dari Jakarta, bahwa semangat juang lebih penting daripada privilese. Bahwa gelombang seberat apa pun, bisa diarungi dengan irama dan keberanian.
Kini, The Panturas telah tampil di berbagai festival musik besar, bahkan diundang ke panggung internasional. Namun mereka tetap rendah hati. “Kami cuma ingin terus main musik dan menyebarkan energi laut ke siapa pun yang mendengarkan,” ujar Abyan sambil tersenyum.Fuji
Rock Festival 2025 akan menjadi panggung Internasional ter megah bagi mereka
Di era serba instan, The Panturas mengajarkan bahwa untuk dikenang, yang dibutuhkan bukan sensasi melainkan semangat juang dan ketulusan dalam berkarya.








