Foto : Info Mahasiswa Gorontalo
Oleh : Alifha Syafitri Salma (Jurnalistik) Politeknik Negeri Jakarta
Klikwarta.com - Semester akhir katanya adalah gerbang menuju kehidupan nyata. Orang-orang bilang ini adalah waktu paling menegangkan, tapi juga paling menentukan. Di meja bimbingan skripsi, di sela-sela grup WA alumni yang mulai ramai, sampai status Instagram teman yang sudah mulai “kerja dari Senin sampai Jumat,” ada satu pertanyaan yang terus muncul di kepala: “Setelah ini, aku jadi apa?”
Pertanyaan itu terdengar sepele, tapi kenyataannya justru membuat banyak mahasiswa merasa kehilangan arah. Tiba-tiba, kuliah yang selama ini jadi rutinitas utama mulai terasa seperti beban waktu. Tugas akhir yang harusnya menjadi tahap terakhir justru terasa seperti jurang yang dalam.
Di titik ini, banyak yang merasa seperti berjalan sambil menutup mata. Quarter-life crisis, begitu orang-orang menyebutnya. Fase di mana seseorang mulai mempertanyakan hidupnya: pilihan jurusan, cita-cita, pekerjaan impian, dan hal-hal yang dulu terasa jelas, kini jadi kabur.
Ayu, mahasiswa psikologi di Yogyakarta, cerita kalau dia mulai ngerasa hampa sejak semester tujuh. Bukan karena kuliahnya berat, tapi lebih ke arah bingung mau ke mana setelah ini.
“Dulu mikirnya, habis lulus ya langsung kerja. Tapi makin ke sini makin sadar, ternyata aku sendiri nggak tahu mau kerja apa, bahkan nggak yakin bisa apa,” katanya pelan. Teman-temannya sudah banyak yang daftar kerja, ada juga yang ikut seleksi CPNS. Sementara dia masih berkutat dengan skripsi yang entah kapan selesai.
Kondisi ini nggak cuma dialami Ayu. Dika, mahasiswa Teknik Sipil, bilang kalau dia merasa makin ke sini makin nggak percaya diri.
“Kita diajarin bangun jalan, gedung, tapi nggak diajarin gimana cara menghadapi hidup,” ujarnya sambil tertawa miris. Ia merasa ilmu yang dipelajari di kampus belum tentu langsung berguna di dunia kerja. Belum lagi tekanan dari keluarga yang berharap ia segera menghasilkan uang sendiri.
Tapi, menariknya, dari krisis semacam ini, kadang muncul sesuatu yang baru. Lala, misalnya, awalnya merasa stuck karena bingung mau kerja apa. Ia mulai bikin sabun herbal sendiri dari kosan karena gabut. “Awalnya cuma iseng. Nggak nyangka malah jadi usaha kecil-kecilan,” katanya. Sekarang, dia sudah punya toko online sendiri. Dari krisis, dia justru belajar hal baru tentang dirinya.
Mungkin, ini yang banyak orang lupa. Quarter-life crisis bukan cuma tentang kebingungan, tapi juga tentang pencarian. Tentang berani jujur sama diri sendiri, meskipun itu artinya harus pelanpelan. Dunia di luar kampus memang keras, tapi bukan berarti kita harus melompat tanpa siap. Ada yang lulus langsung kerja, ada yang istirahat dulu setahun, ada yang balik ke kampung halaman sambil bantu orang tua semuanya nggak salah. Semua orang punya waktunya masingmasing.
Yang penting, kita sadar bahwa ini bukan kompetisi. Hidup bukan soal siapa cepat siapa lambat. Tapi soal siapa yang bisa tetap berjalan meskipun sedang bingung. Quarter-life crisis itu nyata, tapi bukan akhir dunia. Justru di sanalah kita mulai belajar: bahwa nggak apa-apa untuk belum tahu arah, asal tetap mau melangkah.
Kalau hari ini kamu merasa tersesat, itu bukan berarti kamu lemah. Itu berarti kamu sedang tumbuh








