(Ilustrasi: pexels.com)
Oleh : Intan Nur Anwari
Klikwarta.com - Di tengah hiruk pikuk dunia perkuliahan, mulai dari jadwal kuliah yang padat hingga tugas yang menumpuk, ada dua kata sederhana yang semakin jarang terdengar, "maaf" dan "terima kasih". Meskipun tampak sepele, kedua kata ini mencerminkan karakter dan budi pekerti seseorang.
Dalam dunia perkuliahan yang serba cepat dan kompetitif, nilai-nilai kesantunan ini tergeser oleh ambisi akademik dan cara instan. Padahal, pendidikan tidak semata-mata soal nilai dan gelar, melainkan juga tentang cara membentuk pribadi yang bermoral.
Di tengah tekanan tugas dan jadwal yang padat, tidak sedikit mahasiswa yang lupa bahwa budi pekerti adalah bagian dari komunikasi. Saat mahasiswa terlambat memasuki kelas, sekadar mengucap “maaf” bisa meredakan suasana yang tegang. Begitu pula ketika mahasiswa membantu menyelesaikan presentasi, ungkapan “terima kasih” menjadi apresiasi sederhana yang sangat berarti.
Meminta maaf bukan berarti kalah dan mengucapkan terima kasih bukan berarti lemah. Kesederhanaan dua kata ini menandakan diri seseorang untuk mampu hidup berdampingan dengan orang lain.
Faktanya, dalam interaksi sehari-hari di kampus, dua kata ini menjadi bagian dari budaya akademik. Seorang mahasiswa yang berani mengatakan “maaf” setelah menyela pembicaraan dosen, atau mengatakan “terima kasih” setelah mendapat arahan, menunjukkan sikap dewasa yang patut ditiru. Walau pada kenyataannya, tidak semua terbiasa melakukannya. Banyak juga yang menganggapnya tidak penting.
Ketika seseorang belajar menghargai waktu, perasaan, tenaga, dan perhatian orang lain, sebenarnya seseorang itu sedang membangun karakter. Budi pekerti ini tampak sepele dan sederhana, tetapi berdampak besar.
Beberapa dosen membangun budaya ini di ruang kelas. Ada yang berkata, “Terima kasih sudah hadir tepat waktu. Kita mulai ya…” sebelum mengajar, sebagai kalimat pembuka dan terima kasih kepada mahasiswa atas kedisiplinannya. Ada yang berkata, “Maaf ya, saya sedikit terlambat masuk kelas hari ini,” sebelum mengajar dan mengungkapkan kesalahannya dengan meminta maaf karena terlambat.
Tidak ada acara Tunggal untuk menyampaikan tata krama. Setiap orang memiliki caranya sendiri. Bentuk atau caranya bisa berbeda-beda, tetapi intinya sama. Dapat disadari bahwa tata krama bukan sekadar aturan, tetapi cerminan budi pekerti yang hidup dalam diri.
Dua kata sederhana ini tidak lekang oleh waktu dan tetap relevan sampai kapan pun. Bahkan dalam dunia kerja, seseorang yang tahu bagaimana cara meminta maaf dan mengucapkan terima kasih akan lebih dihargai, karena dinilai punyai integritas dan tahu cara menjalin hubungan yang professional.
Banyak kisah yang menggambarkan kekuatan dua kata ini. Seorang mahasiswa yang sempat berselisih dengan temannya dalam kelompok belajar akhirnya berhasil memperbaiki hubungan hanya lewat satu pesan, “Maaf kalau kemarin aku terlalu memaksakan pendapat.
Terima kasih sudah tetap membantu menyelesaikan tugas.” Sejak saat itu, komunikasi mereka membaik dan kerja sama pun kembali terjalin. Hal-hal seperti ini mungkin tidak tercatat dalam laporan akademik, tetapi sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari.
Dua kata ini sangat menyentuh sisi manusiawi dalam diri seseorang. Ketika ingin dihargai, ingin dimengerti. Dengan meminta maaf dan mengucapkan terima kasih, itu artinya sedang memberikan ruang bagi orang lain untuk merasa dilihat, didengar, dan diterima. Itulah cara terbentuknya karakter seseorang.
Pada akhirnya, “maaf” dan “terima kasih” bukanlah sekadar kata basa-basi, melainkan bagian dari fondasi karakter yang kuat. Di tengah kesibukan dan tekanan dunia perkuliahan, justru dua kata sederhana inilah yang membentuk jati diri serta mempererat hubungan antarmanusia. Jika kampus adalah tempat menimba ilmu, maka budi pekerti adalah pelajaran hidup yang tak tertulis. Sebab, sehebat apa pun prestasi yang diraih, tanpa adab dan empati, akan selalu ada ruang kosong dalam diri sebagai manusia








