Budi Pekerti Tak Bisa Diulang Semester Depan

Selasa, 20/05/2025 - 11:48
(Ilustrasi : pexels.com)

(Ilustrasi : pexels.com)

Oleh : Maria Elisabeth Sitanggang (Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta)

Klikwarta.com - “Pendidikan memang penting, tapi pendidikan tanpa budi pekerti hanyalah mencetak manusia pintar yang bisa jadi egois.” – Prof. Ahmad Fuad, pakar filsafat Pendidikan.

Karakter bukanlah warisan sejak lahir, melainkan hasil pembentukan yang tumbuh seiring waktu. Jika sejak dini karakter seseorang tidak mencerminkan budi pekerti, bagaimana masa depan etika generasi bangsa? Jika budi pekerti tidak lagi menjadi prioritas, maka peran diri sendiri dan lingkungan sekitar perlu dipertanyakan.

Bagaimana jika proses pembentukan karakter itu terganggu, bukan hanya oleh gawai sejak kecil, tapi juga oleh lingkungan perkuliahan yang permisif terhadap sikap tidak etis?.

Dunia kampus bukan sekadar ruang akademik, melainkan ruang pembentukan karakter lanjutan. Sayangnya, nilai-nilai seperti sopan santun, tanggung jawab, dan integritas makin terasa asing. Ruang kelas menjadi saksi, bukan hanya bagi proses belajar, tapi juga bagi hilangnya nilai-nilai budi pekerti.

Suatu hari, salah satu dosen menegur mahasiswa yang duduk dengan kaki naik ke kursi sambil bermain ponsel. Ketika ditanya, sang mahasiswa menjawab santai, “Lagi nggak mood, Pak.” Tak ada yang menegur, tak ada pula yang membela. Semua diam. Diam yang membenarkan, mungkin.

Di ruang-ruang kelas seperti inilah budi pekerti diuji. Ketika nilai akademik menjadi satu-satunya ukuran, maka sikap sopan dan tanggung jawab menjadi korban. Sayangnya, budi pekerti kerap dianggap urusan pribadi, bukan bagian dari budaya kolektif kampus.

Padahal, lingkungan berperan besar dalam membentuk karakter. Ketika sikap tidak peduli dan saling cuek menjadi kebiasaan, maka nilai-nilai baik pun perlahan memudar.

Sebaliknya, ketika ada budaya saling mengingatkan dan memberi contoh, etika bisa tumbuh kuat tanpa perlu dipaksakan. Kampus mestinya bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga ekosistem yang sehat untuk membentuk pribadi yang utuh, cerdas, peduli, dan beretika.

Menurut Survei Penilaian Integritas Pendidikan (SPI) 2024, 43% mahasiswa mengaku pernah melakukan plagiarisme. Sebanyak 84% pernah datang terlambat, dan 69% mengatakan dosennya juga pernah tidak hadir atau datang terlambat tanpa pemberitahuan. Keteladanan dan budaya saling menghargai terasa rapuh, padahal keduanya adalah inti dari budi pekerti.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah cermin dari budaya akademik kita hari ini. Ketika integritas dianggap opsional, dan tanggung jawab tidak lebih dari formalitas, kita kehilangan sesuatu yang lebih penting dari sekadar prestasi: budi pekerti.

Namun, bukan berarti semua harapan hilang. Ada sosok teman sekelasku yang selalu menyapa dosen dan teman-teman, menanyakan kabar, menawarkan bantuan, dan tidak pernah meninggalkan kelas tanpa merapikan kursinya. Di awal-awal, orang-orang sempat mencibirnya. Ada yang bilang sok alim, ada yang menganggapnya berlebihan. Tapi lambat laun, kami justru ikut tertular. Tanpa sadar, kami mulai membiasakan hal serupa.

Dari situ aku sadar, budi pekerti tak butuh panggung besar. Ia hidup dalam tindakan kecil: cara kita merespons kritik, berbagi file materi, mengembalikan barang pinjaman, atau sekadar menghormati waktu dan ruang orang lain.

Dunia perkuliahan memang bukan sekolah dasar. Tidak ada pelajaran khusus bernama “akhlak mulia.” Tapi bukan berarti etika tak penting. Justru di sinilah tempatnya diuji, saat tak ada yang memaksa, saat semua keputusan ada di tangan kita.

Kita bisa mengulang mata kuliah, memperbaiki IPK, dan mencoba lagi semester depan. Tapi budi pekerti yang hilang karena sikap kita, karena pilihan kita, tak semudah itu diperbaiki. Ia akan tertinggal dalam kesan, reputasi, dan cara orang lain mengingat kita.

Mungkin, di tengah target akademik dan tekanan hidup kampus, kita hanya butuh mengingat satu hal: cerdas itu penting, tapi tanpa adab, gelar tak ada maknanya

Tags

Berita Terkait