Budi Pekerti Tak Tertulis di Lembar Jawaban

Minggu, 18/05/2025 - 18:43
Foto : Dok.Grafika.pnj.ac.id

Foto : Dok.Grafika.pnj.ac.id

Oleh : Aliyyah Fayyaza Zulthany (Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta)

Klikwarta.com - Pagi itu, suasana kampus terasa lebih hening. Langkah-langkah mahasiswa terlihat cepat sambil mengatur napas yang masih memburu, seolah dikejar waktu. Berbagai wajah yang ditunjukkan oleh mahasiswa--ada yang tegang, ada juga yang tampak tenang.

Ujian Tengah Semester yang sudah terjadwal itu akhirnya tiba. Detik demi detik berlalu, terdengar gesekan pulpen yang sesekali diselingi bunyi kertas berpindah halaman. Aku duduk di baris tengah menghadap lembaran kertas ujian yang seolah menantangku untuk mengingat semua materi. Bukan soal ujian itu yang paling membuatku gugup, melainkan dua temanku yang saling berbisik dari kursi belakang.

"Heii, nomor 3 itu jawabannya gimana?" bisik temanku sambil menutupi mulutnya dengan tangan, mencoba berbicara pada teman di bangku sebelah yang agak jauh jaraknya.

Di bangku depan, temanku yang lain dengan santai membuka layar ponsel di bawah meja, jempolnya lincah menggulir berpindah aplikasi satu ke yang lainnya.

Aku hanya termangu menyaksikan semua itu dalam diam.

Bukan tidak ingin menegur, melainkan situasi tersebut membuatku berpikir, "Apakah hal ini menjadi lumrah? Kenapa kejujuran terasa seperti beban? ataukah mereka sudah biasa melakukan hal ini dan selalu ditolerir sehingga bisa menyontek dengan santai."

Aku diam. Lalu kembali menuduk kertas ujianku, mencoba menahan segala godaan. Rasanya dalam hatiku penuh perasaan aneh dan campur aduk--kesal, marah, takut dan kecewa-- apakah hanya aku yang merasa hal ini tidak wajar?

Dari pengalaman itu, menyadarkanku bahwa kejujuran adalah hal yang harusnya menjadi dasar budi pekerti dalam pendidikan. Tidak hanya soal integritas, bertanggung jawab, dan seberapa tinggi nilai yang bisa didapatkan, tetapi bagaimana proses itu kamu lewati dengan jujur dan tulus.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Survei Penilaian Integritas Pendidikan (SPI) 2024 mencatat temuan yang cukup mengkhawatirkan. Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, memaparkan kasus kecurangan masih ditemukan di 78 persen sekolah dan 98 persen kampus responden. "Dengan kata lain, kecurangan masih menjadi praktik yang lazim di mayoritas sekolah dan kampus di Indonesia," terangnya, dikutip dari situs resmi KPK (kpk.go.id, 2024).

Yang lebih memprihatinkan adalah banyak orang melakukannya tanpa merasa bersalah. “Yang penting lulus,” begitulah pembenarannya.

Tidak bisa menyalahkan pada teman-temanku sepenuhnya. Tekanan nilai, banyaknya tugas, ekspektasi dari pihak internal  dan ketidaksiapan sering kali menjadi alasan.

Namun, persoalan mengenai budi pekerti dalam pendidikan tidak hanya pada kebiasaan menyontek. Masih banyak persoalan lain yang mencerminkan gimana nilai nilai budi pekerti pendidikan di indonesia.

Hasil SPI Indonesia 2024 lainnya juga muncul, yaitu sebanyak 43% responden menyatakan bahwa plagiarisme masih terjadi di lingkungan kampus, bahkan 6% responden mengatakan juga terjadi di lingkungan sekolah.

Hal kedisiplinan pun tidak kalah mengkhawatirkan. Sebanyak 84% mahasiswa dan 45% siswa mengaku pernah datang terlambak ke kampus atau sekolah. Mirisnya, hal ini juga terjadi di kalangan pendidik. Sebanyak 96% mahasiswa mengatakan dosennya sering datang terlambat dan 69% siswa menyebutkan hal serupa mengenai gurunya. Lebih parah lagi, masih ditemukan dosen dan guru yang tidak hadir tanpa alasan jelas di 96% kampus dan 64% sekolah.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa pendidikan kita mengalami krisis. Kejujuran dan dan kedisiplinan seharusnya menjadi nilai dasar walaupun di keadaan untuk mencapai target nilai dan kompetisi yang ketat malah sering diabaikan.

Hari itu, aku tidak mencontek. Tidak memberikan contekan. Aku juga tidak berbicara. Aku diam dan pulang dengan perasaan tidak tenang. Hal ini mengenai keberanian untuk jujur disaat yang memilih jalan pintas.

Disitulah, di ruang ujian itu aku belajar bahwa budi pekerti tidak dinilai lewat lembar jawaban, tetapi lewat sikap kita saat tidak ada yang menilai.

Tags

Berita Terkait