Peta jarak antara Jakarta dan Nashville
Klikwarta.com - Tanggal 2 Mei 2024 mungkin hanya hari biasa bagi dunia. Tapi tidak bagiku. Hari itu menjadi pembuka dari sebuah cerita yang tak pernah kuperkirakan. Kisah ini bukan sekadar tentang cinta. Ini tentang keberanian melawan keraguan, menunggu di antara zona waktu, dan menjaga etika dalam sunyi yang panjang.
Sore itu cuaca sedang hujan, aku tengah larut dalam film yang kutonton yaitu imperfect. Layar ponselku menyala, menampilkan notifikasi Instagram. Sebuah pesan dari akun asing bernama Leigh. Katanya, “Hai, aku melihat kamu di H**p, apa kabar?” Aku membacanya sekilas dan menaruh ponselku kembali. Memang aku menghubungkan akun Instagram-ku dengan aplikasi H**p, semacam aplikasi pertemanan internasional. Tapi tak pernah terlintas di benakku akan ada orang yang sungguh menghubungi.
Malamnya, ketika rasa kantuk datang, aku membuka ulang pesannya dan membalas. Dia membalas dengan cerita tentang sahabatnya yang mengecewakan, tentang luka kecil yang masih hangat. Aku menanggapi ringan, menyarankan agar ia menjaga jarak dari orang seperti itu. Percakapan kami mengalir tanpa paksaan. Dan di tengah obrolan, ia bilang aku adalah tipenya.
Aku tertawa kecil, menganggapnya gombal. Tapi esok paginya, dia menyatakan perasaan. Aku terdiam. Terlalu cepat. Tapi... mungkin tidak ada salahnya mencoba. Mungkin hanya bertahan beberapa hari. Tapi ternyata, hubungan ini bertahan lebih lama dari perkiraan awal.
Enam belas hari setelah pertemuan itu, hubungan kami berjalan. Ya, baru seumur jagung. Tapi intens. Hangat. Nyata. Leigh membuatku merasa dihargai dengan caranya sendiri, dia menghapus aplikasi dating-nya tanpa diminta. Dia memberitahukan hubungannya dan diriku ke keluarganya, padahal kami bahkan belum pernah bertatap muka. Dan keluarganya menerima kehadiranku dengan ramah, seperti menyambut tamu jauh yang membawa kabar baik.
Kami mulai membicarakan hal-hal yang lebih serius. Aku pernah bertanya bagaimana jika orang tuaku tidak memberikan restu? Kami berbeda budaya, agama, dan hidup di dua benua berbeda. Tapi jawabannya menenangkan, “Kalau mereka belum setuju, kita coba lagi. Dan kalaupun tidak, aku tetap memilih bersamamu.” Kalimat itu seperti selimut yang menghangatkan malamku, ia tidak hanya mencintaiku, tapi juga menghargaiku.
Perbedaan waktu menjadi ujian berikutnya. Saat aku mulai terlelap di Jakarta, dia baru saja menuntaskan makan siangnya di Nashville. Tapi dia tidak pernah abai. Setiap malam, ia memastikan aku tidur nyenyak. Setiap pagi, dia mengucapkan selamat pagi lebih dulu, menyesuaikan dengan waktu Indonesia. Bahkan saat aku mengirim pesan, dia membalas secepat mungkin, bahkan ketika sedang bermain game.
Sementara aku? Aku justru lebih lambat. Bukan karena tidak ingin membalas, tapi karena bahasa Inggrisku masih terbata. Aku malu. Aku takut suaraku terdengar aneh, aksenku jelek, atau malah salah ucap. Aku bilang aku belum siap untuk video call. Dan dia? Dia memilih menunggu. Tak memaksa. Tak mengeluh. Ia memberi ruang. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa cukup hanya dengan menjadi diriku sendiri.
Karena dia, aku mulai belajar bahasa Inggris lebih giat. Menonton YouTube, menulis ulang frasa, membaca subtitle film. Setiap kata yang kupahami seperti satu langkah kecil mendekatinya. Bahasa menjadi jembatan yang kami bangun perlahan, sabar, dan penuh harap.
Tentu, hubungan kami tidak selalu mulus. Kami pernah bertengkar. Aku yang memulai, dan aku pula yang meminta maaf duluan. Leigh tak pernah memperpanjang masalah. Dia memilih tenang, memaafkan, dan belajar dari situ. Bahkan ketika aku membuat lelucon yang tak lucu baginya, dia tetap menghargai niatku dan membahasnya tanpa menyakitkan.
Komunikasi kami semakin dalam. Kami mulai berbagi detail sehari-hari, aku bercerita tentang hariku, dia berbagi tentang harinya. Aku selalu memberi kabar ke mana aku pergi, dan dia juga. Semua dilakukan tanpa paksaan. Bukan karena kami harus, tapi karena kami ingin.
Suatu hari, aku bertanya kenapa dia bisa jatuh cinta padaku secepat itu. Jawabannya: “Aku jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu. Kamu adalah tipeku, dan aku tahu aku ingin mengenalmu lebih jauh.” Aku terdiam, lalu perlahan percaya. Cinta ini tumbuh bukan dari pertemuan fisik, tapi dari kejujuran yang dibangun setiap hari.
Aku berkali-kali merekam, lalu menghapus. Tanganku dingin. Jantungku berdebar tak karuan. Tapi... aku ingin mencoba. Ketika akhirnya aku memberanikan diri mengirim voice note, dengan segala ketakutan, balasannya membuatku nyaris menangis.
“Kamu mengucapkan semuanya dengan sangat baik. Aku mengerti semua yang kamu katakan. Kamu melakukannya dengan luar biasa.” Kata-katanya menghantam lembut ke dalam dadaku. Jantungku berdetak cepat, seperti ada hentakan halus yang mengisi ruang kosong di dalam diriku. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar diterima, tanpa perlu menjadi siapa-siapa.
Leigh pun tak segan berbagi kisah masa lalunya tentang mantan, tentang pengalaman mimpinya bahkan tentang keluarganya. Ia tak ingin ada rahasia. Dan saat ada wanita lain menghubunginya, dia jujur padaku. Tak ada dusta, tak ada sembunyi-sembunyi. Kami sadar tanpa kepercayaan, cinta hanya sebatas kata.
Dia juga mendukungku tanpa henti. Ketika aku ragu mengikuti tantangan live report dari kampus, dia menyemangatiku. Awalnya aku menolak, tapi lama-lama keyakinannya menular. Aku mengikutinya dan walaupun pada akhirnya tidak lolos untuk maju kedepan. Tapi bukan itu intinya. Aku merasa didorong, bukan ditekan. Dan itu berarti banyak.
Kami punya rencana. Ia ingin datang ke Jakarta. Bertemu langsung. Tapi kami sepakat, tak perlu buru-buru. Saat siap, semua akan terjadi. Kami tidak hidup dalam bayang-bayang waktu, tapi dalam keyakinan bahwa cinta sejati tidak tergesa-gesa.
Kami masih berusia 20 tahun, kami masih muda. Tapi kami tahu, etika adalah tulang punggung hubungan ini. Kami saling mendengarkan, menghormati keputusan masing-masing, dan tak saling menuntut. Kami saling menunggu dengan sabar, dengan penuh harapan.
Jakarta dan Nashville mungkin dipisahkan oleh ribuan kilometer. Tapi bersamanya, jarak terasa lenyap. Aku tidak perlu menjadi siapa-siapa. Aku hanya perlu menjadi aku. Dan itu cukup untuk dicintai.
Jika suatu hari kami tua, duduk di teras rumah sambil minum teh, aku ingin mengenang ini semua dengan senyuman. Bahwa kami pernah memilih untuk tetap tinggal, bukan pergi. Bahwa cinta kami bukan sekadar romansa, tapi perjalanan menjaga kepercayaan dengan etika yang tidak lekang oleh jarak dan waktu.
Cinta kami belum selesai. Ia masih tumbuh, berjalan, dan akan terus diuji oleh waktu. Tapi kami percaya, etika dan rasa hormat adalah jangkar dari segalanya
Ratu Anjani








