Kecil di Lisan, Hangat di Hati

Senin, 19/05/2025 - 20:04
Ilustrasi tulisan terima kasih dalam bahasa inggris. Foto: Pexel/Vie Studio

Ilustrasi tulisan terima kasih dalam bahasa inggris. Foto: Pexel/Vie Studio

Oleh : Ragil Amalia Putri (Mahasiswi Penerbitan (Jurnalistik) Politeknik Negeri Jakarta)

Klikwarta.com - Dua kata sederhana tapi ajaib, ‘terima kasih’. Kapan terakhir kali kamu mengucapkannya? Sadar atau tidak, ucapan itu bisa menghangatkan hati. Saat ada yang menyebrangkanmu di jalan, atau memberimu tempat duduk di halte, pernahkah kamu refleks mengucapkannya? Kalau kamu tidak memilih diam, dan mengatakan ‘terima kasih’ hal itu bisa membuat mereka tersenyum.

Ucapan ‘terima kasih’ adalah bentuk sederhana dari menghormati orang lain. Melalui dua kata itu, kita mengakui ada orang lain yang telah berbuat baik kepada kita. Bisa dalam bentuk bantuan, perhatian, ataupun pemberian kecil. Tapi kenyataanya, tak semua orang terbiasa mengucapkannya. Ada yang merasa canggung, malu, atau bahkan gengsi. Padahal, ucapan itu bisa menyelamatkan hari seseorang, dan mungkin juga harimu sendiri.

Sejak kecil, orang tua sudah terbiasa mengajarkan saya untuk mengucapkan ‘terima kasih’. Tatkala saat saya mendapatkan pemberian dari seseorang. Teringat saat masih kecil, Pakde memberi uang saku kepada saya yang sedang berkunjung ke rumahnya. Suara mamah muncul, “Bilang apa?” dan saya pun otomatis menjawab, “Terima kasih, Pakde.” Saat kecil mungkin saya hanya berpikir kalau itu adalah bagian dari sopan santun. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari kalau itu bukan sekadar sopan santun, tapi juga menghargai apa yang orang berikan.

Saya mulai memperhatikan bagaimana kata ‘terima kasih’ bisa menyisakan hangat di udara. Suatu kali, di dalam angkot, saya melihat seorang ibu membayar ongkos lebih dari seharusnya. Sopir buru-buru menolak, “Bu, ini kelebihan,” katanya sambil menyodorkan uang yang lebih itu. Tapi si ibu tersenyum dan menjawab, “Nggak apa-apa, buat Abang aja.” Sang sopir sempat masih menolak, sampai akhirnya menerima uang itu dengan tulus, “Terima kasih ya, Bu. Semoga rezekinya lancar.”

 

Saya yang duduk di ujung bangku ikut tersenyum, seolah ikut mendapat bagian dari kehangatan itu. Saat turun, mengalir begitu saja, saya mengucapkan, “Terima kasih, Pak,” sambil membayar ongkos kepada sopir tersebut. Biasanya saya hanya mengucapkan “Kiri, bang,” kemudian membayar ongkos tanpa mengucapkan ‘terima kasih’. Tapi setelah mengucapkan kata yang sederhana itu, entah kenapa hati terasa lebih ringan. Seolah lelahnya sore hari pulang dari kampus ikut luruh bersama kata itu.

Sekarang, sebisa mungkin saya selalu mengingat untuk mengucapkan ‘terima kasih’ saat turun dari angkot. Ucapan itu hanyalah bentuk menghargai sopir yang telah mengantar sampai tujuan.  Rasanya ada kepuasan tersendiri saat bisa menyampaikannya. Terlebih ketika sopir membalas dengan “Sama-sama.”Dialog singkat itu bisa menjadi pengingat kita untuk menyadari kalau keramahan masih hidup.

Meskipun begitu, tidak semua kisah bisa sehangat kisah di atas. Seperti yang disampaikan sebelumnya, masih ada orang yang membalas kebaikan hanya diam, tanpa senyum, apalagi mengucapakan terima kasih. Saya bertanya kepada teman saya, Zahwa, bagaimana rasanya jika sudah membantu atau memberi, tapi tidak mendapat ucapan terima kasih. Zahwa menjawab sederhana perasaan yang dirinya rasakan.

“Lumayan bete, sih. Bukan maksud mengharapkan terima kasih, tapi aku menolong atau memberi dengan tulus kalau orang itu butuh bantuan. Tapi kalau memang orangnya nggak sadar diri, itu sulit. Jadi, seenggaknya ada kesaradan diri aja, kalau meminta sesuatu itu perlu ada kata terima kasih,”  ujar Zahwa.

Apa yang dirasakan oleh Zahwa itu valid. Siapa pun yang pernah merasakan diposisi itu, wajar saja untuk merasa kecewa. Sudah membantu, tapi tak diiringi dengan ucapan terima kasih. Rasanya bukan soal pengakuan, tapi lebih kepada soal dihargai. Nyatanya, dua kata sederhana itu bisa mempengaruhi suasana hati seseorang.

Kita tidak pernah tahu apa yang seseorang rasakan di hari itu. Mungkin saja dirinya sedang lelah, sedih, atau sedang kesal dengan apapun itu. Tapi dia tetap memilih untuk membantu atau memberi apapun yang kamu butuhkan. Dan bisa jadi, kata ajaib ‘terima kasih’ menjadi satu-satunya yang bisa membuat hatinya nyaman atau bahkan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Mungkin juga, orang yang belum mengucapkan terima kasih pada saat dibantu bukan berarti mereka tidak punya sopan santun. Dan tak seharusnya hal itu menjadikan diri ini enggan untuk mengucapkannya kepada mereka suatu saat karena mereka tidak mengucapkannya saat dibantu. Bisa jadi karena lupa, terburu-buru, atau pun memang belum ada yang membiasakan dirinya untuk mengucapkan kata tersebut.

Di sinilah pentingnya membiasakan sejak dini. Bukan hanya sebagai sopan santun, tapi sebagai bentuk kesadaran diri untuk menghargai sesama manusia. Satu ucapan sederhana ini dari anak yang baru belajar bicara bisa menjadi langkah awal untuk belajar menghargai. Siapa tahu, kata sederhana itu bisa menjadi rantai kebaikan yang terus berlanjut.

Pada akhirnya, tidak semua kebaikan akan dibalas dengan ucapan terima kasih, dan itu tidak apa-apa. Kita bisa belajar untuk tidak memusingkannya. Barangkali cukup didoakan saja, semoga di lain waktu dia mengingat untuk mengucapkan ‘terima kasih’. Dua kata sederhana ini bisa membuat seseorang tersenyum dan menghangatkan hatinya. Maka, jika hari ini belum ada yang mengucapkannya padamu, biar saya melakukannya. Terima kasih, sudah meluangkan waktu di sela sibukmu untuk membaca sampai sini

Tags

Berita Terkait