Source : narasumber
Oleh : Andi Dini Alifiah Azizah
Klikwarta.com - Air matanya jatuh diam-diam saat file skripsi versi final dikirim ke dosen pembimbing. Bukan karena sedih, tapi karena tak percaya akhirnya Ia sampai juga di titik ini. Seperti berlari maraton selama satu tahun, melewati jalan terjal, tikungan tajam, dan hampir menyerah di tengah jalan, itulah rasanya menyelesaikan skripsi bagi Revan, mahasiswa semester akhir Fakultas Ilmu Pendidikan, UNJ.
"Tentu saya pernah berada di fase ingin menyerah, karena pada saat itu saya benar-benar di penghujung waktu sidang, saya panik, saya pasrah," ucapnya lirih.
Bagi banyak mahasiswa S1 di Universitas Negeri Jakarta, menyelesaikan skripsi bukan sekadar tugas akhir. Ia adalah perjalanan panjang yang sarat perjuangan. Mulai dari mengurus judul, mencari referensi, revisi tanpa henti, hingga berhadapan dengan dosen pembimbing yang super sibuk.
“Tentunya ada kendala dengan dosen pembimbing seperti late respon yang dimana mahasiswa tentunya akan relate dengan itu, terkadang juga dosen meminta rombak judul atau bab-bab yang sudah dibuat oleh mahasiswa,” ujarnya lagi.
Kendala dalam pembuatan skripsi juga di dapat dari minimnya teori dan sumber, tetapi hal tersebut tidak mematahkan semangatnya. Revan bercerita, banyaknya dukungan dari orang-orang sekitar, membuatnya semangat untuk mengejar dengan kebut skripsinya sampai titik akhir.
Ia juga mengatakan bahwa Ia pernah iri kepada teman-temannya yang sudah menyelesaikan skripsi. Ia mengatasi rasa irinya dengan cara menekankan dirinya untuk mengerjakan skripsi setiap hari.
Baginya, pembuatan skripsi ini merupakan sebuah final test dari perkuliahan yang dimana tantangannya itu berat tetapi hasilnya berguna ketika sudah lulus dan bekerja. Penulisan skripsi merupakan modal yang bagus untuk latihan sebelum terjun ke dunia kerja.
“Jika bisa mengulang, mungkin saya ingin menyelesaikan skripsi dengan cepat karena saat itu saya hampir tidak dapat melaksanakan sidang. Tentunya, saya tidak akan menunda-nunda waktu untuk pengerjaan skripsi,” ucapnya.
Revan juga menyampaikan, mulai saja dahulu apapun itu untuk penyusunan skripsi walaupun hasilnya hanya beberapa kata atau sekedar judul saja. Meskipun mungkin hasilnya jelek, nanti akan dibantu oleh dosen pembimbing. Jangan pernah takut untuk memulai.
Bagi Revan, skripsi bukan sekadar kewajiban akademik. Tapi simbol dari keteguhan, ketekunan, dan kedewasaan. Skripsi tidak mengukur seberapa pintar, tapi seberapa gigih seseorang bertahan dan menyelesaikan apa yang telah dimulai.
Catatan: Cerita ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi narasumber. Nama dan lokasi telah disesuaikan untuk kebutuhan jurnalistik








